Monday, June 29, 2015

Rotational & Optimization 2015

Ketika bis tiba di Santan rupanya copper juga baru mendarat sehabis roadshow ke Attaka. Kami yg baru naik hari itu disuruh ikut join di meeting room Main Office Santan. Tampak para punggawa KLO sudah duduk rapi di deretan depan: Pak Seno, Pak Winu, Pak Ari Retmono, dr. Ade dan HR (lupa namanya).

Dipaparkanlah rencana rotational dan optimization yg akan dibagi dalam 2 batch: Agustus dan November 2015. Rotational akan diterapkan untuk team operation, yaitu antara team utara dan selatan. Sedangkan optimization diterapkan untuk team maintenance, lebih khusus lagi pdm dan planner. Kami resah. Diskusi makin memanas di grup WA kami.
Berbagai usulan hanya jadi angin lalu, karena acara ini lebih bersifat sosialisasi alias pengumuman: top down, bukan mengajak dialog apalagi meminta pendapat. Palu sudah diketok, nama2 sudah dipilih namun pengumuman akan dilakukan setelah hari lebaran.

Kemudian hari kami tahu akan ada 9 planner yg ditarik ke pasir ridge. 3 diantaranya akan menjadi TA coordinator sedangkan 6 orang menjadi remote planner. 10 orang akan keep di 5 lapangan. Siapakah diantara orang2 yg terpilih? Konon yg tinggal di balikpapan dan senioritas diutamakan. Kita lihat 2 bulan ke depan. Doa saya semoga saya masih tetap di lapangan dan menikmati schedule 2-2 biar bisa pulang le Bali setiap off duty. Astungkara.

Training White Belt

Subuh2 jam 4 aku sudah bangun. Langsung mandi dan bersiap ke landing boat. Aku memilih tidak sarapan di Attaka karena ketika ku intip, mess hall penuh oleh umat yg sedang sahur. Ini adalah hari ke 4 rekan muslim berpuasa. Jam 5.10 boat Peacock 2 berangkat ke Santan. Penumpangnya hanya aku dan Jony, selebihnya deck belakang penuh keranjang.

Ketika tiba di Santan aku langsung menuju mess hall untuk sarapan. Waktu masih ada 1/2 jam sebelum bis berangkat jam 7.00. Aku sarapan dgn kecepatan agak tinggi. Mess sudah sepi hanya ada 1 orang yg sarapan sepertinya ia tidak sahur pagi itu.

Jam 7 teng bis berangkat dgn penumpang hanya sekitar 10 orang. Jam 9.00 tiba di Samarinda namun semua penumpang bungkus makanan pesanannya, aku ikutan. Jam 1 bis tiba di Balikpapan dan aku langsung menuju suraton untuk tidur panjang sore.

Lalu esok di hari Senin aku menghadiri training white belt di L&D pasir ridge. Peserta hanya terdiri dari 10 orang saja: dari finance, kapal AHTS bahtera dan aku. Seperti biasa training di bulan puasa tak ada snack maupun coffee. Makan siang pun cuman aku sendiri. Untungnya ketemu mas Ari yg juga makan siang di PRCC. Training hari itu dipandu oleh dedengkot black belt mas Sunarji dan mas Mono. Training diakhiri dengan menunjukkan contoh2 project LS yg sudah dijalankan. Sorenya aku langsung pulang naik shuttle bus dan langsung menuju warung angkringan di samping BCA dan memesan satu porsi bebek goreng, karena sejak tadi perut rasanya keroncongan.

Thursday, June 18, 2015

Kecak Uluwatu

Baru saya tahu jika kapasitas penonton tari kecak di uluwatu yg pentas setiap sore itu bisa menampung 1200 penonton. Tiket masuk 100.000 rupiah per kepala dan rata2 penonton perhari 800 orang. Saat weekend atau hari libur biasanya full seat bahkan kadang menolak penonton. Pentas kecak yg dimainkan 90 orang penari ini dikelola oleh 2 team kecak yg pentas bergantian 3-4 kali per minggu setiap jam 18.00-19.00.
Yang bikin saya kaget adalah dari 100rb harga tiket, sekian persen diberikan ke guide yg membawa tamu ke uluwatu. Bisa dibayangkan jika setiap guide membawa 10 tamu kan?
Tanah Lot harusnya bisa "meniru" pentas seperti ini dgn mementaskannya di panggung terbuka di paling ujung barat pantai tanah lot. View sunset yg indah dan kapasitas yg bisa dibuat melebihi 1200 pax harusnya menjadi nilai lebih sbg strategi menjaring pengunjung.

Monday, June 15, 2015

Training di Bandung

Baru kali ini saya liat solaria yg cukup sederhana (kalau tdk mau dibilang agak kumuh) di bandara husein sastra negara bandung, tidak sepeeri suasana yg biasa saya liat di balikpapan maupun denpasar. Di sekitar solaria hanya bangunan yg sudah tak up to date lagi plus parkir kendaraan seperti di terminal bus-bus di jakarta. Padahal ini sekelas bandara. Saya pesan nasi goreng spesial dan jus mangga. Si mbak petugas juga tak sigap seperti biasanya seperti solaria di tempat lain yg pernah saya masuki.  Setengah jam belum datang juga pesenan saya, akhirnya saya coba tanyain ke mbak yg barusan bersihin meja saya. Tak sampai 5 menit nasi goreng pun datang, dgn cara penyajian yg sedikit kurang rapi. Nasinya agak berantakan. Tak sampai 5 menit saya lahap habis karena perut saya sudah keroncongan sejak tadi. Siang yg panas itu mengajarkan saya tentang kesabaran.

Kemudian saya masuk bandara yg kata teman2 Bandung saya lebih mirip stasiun kereta api. Kecil dan hanya ada sekitar 8 check in counter, 2 mesin x ray namun 1 saja yg difungsikan, satu gate (saja) menuju pesawat. Ruang tunggunya pun seukuran kurang lebih hanya satu ruang tunggu untuk satu gate saja di bandara sultan hasanuddin makazzar. Pesawat yg parkir jumlahnya bisa dihitung jari. Begitu datang pesawat didorong mundur persis seperti mobil yg parkir mundur. Terbalik dgn kebiasaan pesawat di tempat lain, didorong jika mau keluar dari parkir. Kursi yg terbatas membuat saya tak kebagian tempat duduk. Padahal sebenarnya banyak kursi yg kosong tapi kelakuan buruk penumpang menaruh tas di atas kursi ruang tunggu yg berwarna merah hati. Saya berdiri saja, tas yg berisi modul training seberat  10 kg saya taruh begitu saja di atas lantai. Namun tak satupun yg sudi berbaik hati dgn sekedar memindahkan tasnya kemudian menawari saya duduk di sampingnya, tidak ada. Tidak ada itu.

Ini adalah perjalanan ke bandung saya yang kedua kali sejak 2007 lalu. Jika 8 tahun lalu saya mengikuti training sambil refreshing, kali ini saya ke bandung mengikuti training serius berisi sertifikasi yakni tes tulis di akhir sesi. Hari Minggu 7 Juni lalu saya mendarat di bandara paling kecil yg pernah saya datangi ini. Taxi bandara yg saya sewa mengantarkan ke hotel aston primera pasteur tempat saya akan menginap 6 hari ke depan. Menutup minggu sore itu saya sempatkan ke alun2 kota untuk sekedar foto2 lalu lanjut menyusuri jalanan asia-afrika dengan sisa-sisa pernik KAA beberapa, bulan lalu, masih memenuhi jalanan AA ini. Sebelum jalanan mulai gelap, sebelum lampu2 kendaraan mulai dinyalakan saya sempatkan menyusuri braga sambil mengabadikan beberapa sudut retronya. Akhirnya menyetop taxi menuju paris van java. Membeli dress buat ranacitta dan pulangnya saya memilih ngojek memecah kemacetan bandung di akhir minggu itu.

Esoknya, pelatihan mulai dibuka dgn menyanyikan lagu indonesia raya. Akhirnya kamipun terhanyut dalam irama training yg cukup menyita konsentrasi selama 6 hari tersebut. Kadang kelas dilaksanakan hingga jam 9.30 malam WIB. Saya yg biasa dgn jam WITA merasa sedikit memaksakan begadang. Training berisi juga pre dan post tes termasuk pembahasannya. Terdiri dari 4 materi berbeda yg diujikan pada hari terakhir sebanyak 120 soal selama 180 menit. Dituntut agar bisa menyelesaikan 1 soal selama 1.5 menit dan harus benar 70% agar lulus sertifikasi. Seperti gelas kecil yg dituangi dengan seember air begitulah suasana hati kami saat itu karena materi seperti dipaksakan dlm waktu yg sangat singkat tersebut. Aku pun hanya sempatkan beli oleh2 di kartika sari dan hanya jalan di seputar hotel karena acara benar2 padat.

Setelah menyelesaikan ujian di hari terakhir, acara ditutup dgn menyanyikan lagu bagimu negeri dan pembagian sertifikat plus souvenir. Perwakilan kelas juga diminta memberikan feed back dan rata2 menyatakan overload dgn materi termasuk soal yg terlalu berbobot. Anyway 6 hari tersebut adalah hari yg paling menantang dlm 11 tahun sepak terjang karirku di dunia kerja. Mudah2an hari kamis nanti ketika hasil ujian diumumkan aku lolos tanpa syarat. Tidak menanggung terlalu banyak malu utk mengulang.

-----------------------------------

Setelah menunggu 4 hari kerja akhirnya pengumuman pun tiba pada Kamis 18 Juni 2015 dan astungkara saya dinyatakan lulus. Ada 36 peserta yg tak lulus dari 78 peserta.