Saturday, July 18, 2015

Itinerary Singapore

Berikut planning awalnya. Namun sambil jalan sedikit meleset itu biasa, improvisasi dan adaptasi. Menyesuaikan kondisi anak-anak. Cuaca panas dan gerah juga rewelnya anak-anak yg membuat tidak bisa 100% sesuai plan.

Evolusi Gadgetku

Selama 15 tahun ini saya t'lah menggunakan HP seperti gambar. Tahun 2000 ketika itu saya ngebajak HP bapak yg saya bawa kuliah ke jogja, Siemens C-35. Ketika itu harga SIM card masih tinggi dan masih ada yg jual sim card second, bekas orang dijual kembali. Tak terlalu sering berganti HP karena aku bukan termasuk yg suka gonta-ganti dan terlalu ngikut trend namun berusaha untuk tidak ketinggalan info terknologi terbaru. Mungkin tipe cowok setia ya kayak gini :)

35 Pelajaran Hidup Selama 35 Tahun

Tahun 2015 ini usia saya menginjak 35 dan di bawah adalah kutipan-kutipan yg sedikit tidak menjadi pedoman atau paling tidak kutipan favorit yg pernah saya temui sejauh hidup ini.

1. Hidup bagai naik sepeda tetaplah berjalan agar seimbang. Jika kita merasa nyaman maka sedang turun. Ketidaknyamanan pertanda jalanan sedang menanjak.
2. Hidup itu mudah, tapi manusia membuatnya susah dan ribet. Biaya sekolah tinggi, harga berobat dan rumah sakit selangit, jalanan kian hari kian macet, harga make up membubung tinggi dll.
3. Keep it stupid simple.
4. Jangan mengambil keputusan di saat emosi (marah, sedih, frustasi, bimbang dll).
5. Seberapapun kaya kita harus tetap sederhana.
6. Semua masalah pasti ada solusinya.
7. Hukum fisika kelembaman menyatakan benda yg bergerak akan cenderung bergerak dan benda yg diam akan cenderung diam. Oleh karena itu kadang kita susah sekali memulai sesuatu, namun begitu sudah melakukan kadang lupa untuk berhenti. Tetaplah bergerak, tetaplah berfikir.
8. If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together.
9. Lebih baik selesai meski tak sempurna daripada menunggu sempurna tapi tak kunjung selesai.
10. Kebiasaan buruk tidak terjadi dalam semalam. Kebiasaan buruk terbentuk perlahan-lahan dan tanpa disadari berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dan disadari ketika sudah menjadi masalah kronis.
11. Whatever we say whatever we do. People always find something to say. Lakukan dgn benar dan jangan dengarkan orang lain bicara.
12. An optimist sees a glass half full. A pessimist sees it half empty.
13. Kadang kita perlu "Do the common things uncommonly" agar mendapat hasil yg berbeda juga untuk membunuh kebosanan.
14. Untuk melawan rasa takut adalah dengan melakukan apa yg ditakutkan.
15. Kerjakan hal baru pertama kali. Belajar untuk melakukan sesuatu yg belum pernah dilakukan.
16. When we are no longer able to change a situation, we are challenged to change ourselves.
17. “Kadang masalah adalah sahabat terbaikmu. Mereka buatmu jadi lebih kuat, dan buatmu menempatkan Tuhan di sisimu yang paling dekat.”
18. “Sukses miliki jejak. Jika ingin sukses, telusuri jejak sukses orang lain. Ia pasti miliki jejak yang bisa ditelusuri dan diadaptasikan.”
19. Kepakan sayap kekupu di Amazon bisa membuat tornado di New York. Baik buruk perbuatan di masa kini menentukan kehidupan di masa depan.
20. Dont fix the problem, fix your thinking, then problems will fix themselves. If you can't change the situation, try to change yourself.
21. Be the best, or be the first, or be different or just be yourself.
22. Dalam hidup berlaku hukum pareto 80-20. 80% uang dikuasai oleh hanya 20% orang. 20% hidup kita sebaiknya digunakan untuk mengerjakan 80% hal yg penting.
23. Think big, start small, act now.
24. Motion make emotion. Saat sedih ubah posisi badan, Tegakkan bahu. Busungkan dada. Tegakkan dagu. Tatap ke depan dan tersenyum penuh kemenangan. Tinju udara sambil bilang yes...!!
25. Menerima dan memberi tdk saja soal materi (uang, barang dll). Menerima kritik dan saran, nasehat juga menerima keadaan dan nasib. Memberi pun demikian: memberi saran dan nasehat, memberi perhatian dan memberi pencerahan.
26. Kerjakan apa yg kamu tulis. Tulis apa yg sudah kamu kerjakan.
27. Kesalahan bukanlah kegagalan. Dibalik kesalahan ada pelajaran dan pengalaman berarti yang dapat dijadikan bekal di kemudian hari. Problems is not stop signs. It is guidelines.
28. Pekerjaan tidak akan mengurus anda ketika anda sakit. Teman-teman, pasangan dan orang tua yang akan mendampingi anda.
29. Jangan membandingkan hidup anda dengan orang lain. Anda toh tidak mengetahui perjalanan hidup yang telah dilalui orang tersebut.
30. Proses menciptakan dimulai dgn proses merusak. Kadang utk menerima air yg lbh bnyk kita harus mengosongkan gelas kita.
31. Kita tak akan pernah tau bisa jika belum pernah mencoba.
32. To move to a new level in your life, you must break through your comfort zone and do things that are not comfortable (T. Harv Eker).
33. Kekuatan rantai bukan dari yang terkuat tp yg terlemah.
34. Kita saat ini sama dengan kita lima tahun lalu kecuali dalam hal orang yang kita temui dan buku yang kita baca.
- Charlie “Tremendous” Jones
35. Rasa memiliki kadang muncul ketika kita sdh benar2 kehilangan. Maka dari itu sayangilah keluarga, sahabat, barang dll, sebelum kita benar-benar kehilangan.

Empat Malam di Singapore

Berikut sedikit catatan perjalanan kami selama 5 hari 4 malam di Singapore (6-10 Juli 2015).

Day #1; 6 July 2015 (berangkat)
Kami seharusnya memasuki pesawat Garuda GA842 melalui Gate 3 namun beberapa menit sebelum boarding call kami diminta pindah ke Gate 11 yg letaknya cukup jauh diujung sana. Dan kami ke pesawat naik bus. Pesawat Boeing 737-800 Jet keluaran terbaru dgn corak berwarna merah ini mengantarkan kami selama 2.5 jam menuju Singapore. Sekitar jam 17.30 kami landing dan langit masih terang. Kami berpelukan senang tatkala kami menginjakkan kaki pertama kali di negara yg konon dgn biaya hidup paling mahal di dunia ini. Nana Citta yg selama penerbangan tidak tidur, senang bukan kepalang ketika kami ajak ke playground yg terletak di pintu kedatangan. Istriku mengisi botol aqua kosong dgn tap water yg berada di sekitar toilet bandara. Setelah melapor ke bagian imigrasi, mengambil bagasi di belt 44 dan membeli 3 lembar kartu MRT kami menuju hotel dgn naik taxi warna biru. Perjalanan senja itu sekitar 1/2 jam dgn biaya taxi $21.8. Uncle sopir taxi yg berusia sekitar 55 tahun bercerita banyak tentang Singapore terutama harga dan asuransi mobil juga denda yg tinggi jika taxi menaikkan/menurunkan penumpang sembarangan. Setelah melalui proses check in yg cepat, kami langsung menuju kamar 548. Lobby hotel V Lavender malam itu cukup ramai dan akan selalu begitu selama 4 hari ke depan.

Setelah sejenak melepas penat kami berempat membeli simcard HP di 7 eleven dan membeli makan malam nasi lemak seharga $2.2 di warung kecil yg terletak di bagian bawah hotel. Malam itu kami tidur nyenyak sekali agar bisa menikmati perjalanan esok.

Day #2; 7 Juli 2015
Petualangan dimulai. Jam 7 kami sarapan dgn membeli nasi lemak dan beberapa snack di bawah hotel. Jam 8 kami menuju stasiun MRT Lavender dan bermaksud menuju Garden by the Bay melalui stasiun MRT Bayfront. Namun MRT menuju kesana selalu penuh. Kami yg membawa stroller doble jadi berubah pikiran dan kembali ke hotel menyewa taxi menuju Garden Bay. Hanya dgn $11 kami tiba di taman dgn pohon buatan raksasa ini. Kami menyusuri taman dgn background hotel Marina Bay Sand di sisi barat. Setelah itu kami antar anak-anak ke playground dan aku memotret singapore flyer dgn foreground 2 pohon kelapa kembar di belakang playground.

Setelah puas kami berjalan mengitari flower dome berharap bisa menyebrang ke MBS disiang yg panas itu. Keringat bercucuran ketika kami bergantian mendorong stroller menyusuri tepi sungai yg memisahkan Garden Bay dan MBS. Akhirnya kami tiba di jembatan dan menyebrang ke MBS yg megah. View ke arah utara dgn background singapore flyer dihiasi jalanan yg padat oleh kendaraan. Sisi selatan dgn pemandangan gedung pencakar langit dan crane2 pelabuhan yg samar2 terlihat di kejauhan. Memasuki tower kami bisa melihat aktivitas di dlm gedung MBS dari ketinggian.
Siang yg gerah itu menguras cairan dlm tubuh dan membuat betis pegal bukan kepalang. Ketika pipis berwarna kuning pekat, dehidrasi.
Kami lalu menuruni lift dan menyetop taxi di depan tower 1 MBS dan langsung menuju Orchard. Sepertinya kami salah jalan dan setelah tanya sana sini kami menemukan Lucky Plaza dan membelikan anak-anak makanan di McD.

Sore hari kami naik MRT menuju Raffles lalu menyusuri gedung2 pencakar langit dan menyeberang jalan menuju Merlion Park. Kemudian menyusuri jembatan esplanade menuju sisi utara bay. Pemandangan yg sering terlihat di TV atau iklan tentang singapore kami saksikan langsung sore itu. Dimulai dari sisi timur laut ada singapore flyer, helix bridge, art n science museum, MBS, deretan gedung pencakar langit dan nyempil patung singa di ujung barat. Pemandangan itu berderet dan sangat elok jika diabadikan kamera dgn fasilitas penorama. Setelah puas foto2 dan selfie dgn background gedung dan MBS kami menuju ke timur menuju helix bridge. Makan malam itu di Marina Satai by the bay di sisi utara bay. Sebelum pulang aku sempatkan motret slow speed dgn view gedung dan MBS. Pulang ke hotel naik taxi.

Day #3; 8 Juli 2015
Setelah stroller kami masukkan ke bagasi taxi kami meluncur menuju vivo city lantai 3. Membeli tiket seharga $4/orang kami naik monorail menuju pulau Sentosa. Foto2 di globe depan Universal Studio dan beli coklat di Candylicious sebelum kami masuk SEA Aquarium. Tiket yg cukup mahal sudah kami beli via mbak Darling dan kami tinggal masuk aja aquarium air laut raksasa. Berkeliling di dalam selama kurang lebih 1 jam dgn udara yg cukup dingin. Hari sudah siang rencana kami sebenarnya menuju Imbiah, patung singa yg lebih besar dari Merlion Park di Sentosa Island ini kami batalkan karena Nana Citta kelihatan sudah lelah. Kami lalu balik ke Vivo City dan makan siang serta beli baju disana. Setelah melalui antrean taxi yg panjang kami cabut dan balik ke hotel.

Sore hari kami menuju Bugis dgn naik 1 stasiun MRT saja. Disana kami membeli oleh-oleh tambahan. Suasana bugis shopping center ini mirip pasar Sukawati di Bali atau pasar baru di Bandung dgn harga miring untuk kelas SG. Nana Citta akhirnya dibelikan anna elsa agar mereka "jinak". Kemudian kami pindah ke Bugis Junction dan mencoba memasuki beberapa toko merk-merk terkenal. Ternyata di luar sana mendung dan hujan cukup deras sore itu. Sore-sore kami balik hotel dgn naik MRT dari stasiun Bugis ke Lavender.

Day #4; 9 Juli 2015
Ini adalah hari terakhir kami sebelum esok balik ke Bali. Kami berusaha memanfaatkan sebaik mungkin moment ini. Pagi hari kami pergi ke Orchard Road dgn naik MRT. Akhirnya kami menemukan patung-patung modis warna-warni di depan kompleks Orchard dan foto-foto disana. Menyeberang ke Lucky Plaza untuk beli oleh-oleh tambahan. Siang kami balik hotel lagi untuk istirahat. Yg unik adalah antar mall di seberang jalan dihubungkan dgn terowongan bawah tanah yg lapang dan mewah. Tidak boleh menyeberang sembarangan di atas jalan raya.

Setelah cukup istirahat, sorenya kami memutuskan menuju Garden Bay dgn naik MRT menuju bayfront. Setelah puas foto-foto di dermaga belakang MBS dgn lantai kayu ulinnya, kami menuju Garden Bay menyusuri kolam dalam MBS, kemudian menaiki eskalator paling tinggi yg pernah saya temui, lalu naik ke tower MBS dan menyeberang melalui jembatan yg kemaren kami lalui. Akhirnya bisa foto-foto dgn latar belakang flyer dan super tree. Lalu kami duduk-duduk santai di atas taman rumput dan foto dgn latar belakang MBS yg kelihatan setengah atasnya saja. Ketika sudah sunset kami balik ke hotel via stasiun bayfront lagi. Malam itu kami tutup dgn makan malam yg agak besar demi memuaskan malam terakhir di SG.

Day #5; 10 Juli 2015
Jam 7 kami sudah sarapan kemudian saya ke stasiun MRT untuk refund tiket yg masih ada sisa senilai 16$, lumayan. Jam 8 lewat kami menuju Changi dgn taxi warna biru dan membayar 15$. Kami langsung check in dan foto-foto. Nana citta diajak ke playground dan kami menuju ruang tunggu 17 yg terletak paling ujung, jaraknya juaaauuuhhh banget mungkin ada 1.5 km. Kami melewati 4 atau 5 travelator. Beberapa menit sebelum boarding ada panggilan jika penerbangan GA843 tujuan Denpasar yg seharusnya jam 11.45 batal, kami diminta ke transit A dgn naik Skytrain lalu melapor ke customer service Garuda. Disana kami baru tahu jika gunung raung meletus dan seluruh penerbangan dari/ke bali dibatalkan. Kami lalu kembali menuju bagian imigrasi dan melapor pada counter Garuda di pintu 5.

Disinilah kepanikan dimulai. Antrean panjang bule2 membuat kami makin panik. Disini pula kami bertemu seorang ibu asal bali yg sedang berobat kanker paru ke SG. Setelah 1 jam antre dan kebetulan petugasnya berbahasa indonesia, kami memutuskan sore itu terbang menuju Jakarta dgn flight GA833. Kami duduk terpisah; aku bersama Nana di seat 33AB sementara Ibu dab Citta 21HJ.

Jakarta, 10-13 July 2015.
Selama di Jakarta kami menginap di Pop Hotel selama 2 hari dan 1 malam di Zest Hotel. Tika dan Mamanya menemani kami ke Central Park pada sabtu pagi. Hari Minggu jam 13.10 harusnya pesawat terbang ke Bali. Kami sudah tiba di bandara tapi langsung mendapat berita jika flight ke bali hari itu dibatalkan lagi. Bandara ditutup dari jam 09.00-16.00. Kami reschedule tiket menjadi esok Senin jam 05.40. Kepanikan kedua kembali terjadi karena 3 hari lagi Galungan dan aku juga musti balik kerja ke Balikpapan. Malam itu kami menginap di Zest Hotel dan malamnya berdoa bersama2 semoga flight esok hari lancar. Kami sebenarnya tidak sendiri terdampar di Jakarta ada bli mang Tambi yg bersama rombongan sebanyak 30 orang dan Santi sekeluarga yg habis liburan juga dari SG dan Bandung.

Senin 13 July 2015
Jam 4 subuh kami menuju bandara dgn shuttle bus hotel. Jam 6 WIB pesawat take off. Syukur penerbangan pagi itu lancar dgn langit cerah, biru dgn sedikit awan. Sepanjang perjalanan Nana dan Citta tidur pulas mungkin masih ngantuk karena bangun kepagian. Kami landing dgn mulus di Ngurah Rai. Belum pernah merasakan landing se-PLONGGGG itu sebelumnya. Akhirnya kami bisa ngeGalung di Bali. Bersyukur selama terdampar 3 hari di Jakarta Nana dan Citta bisa diajak kerjasama, tidak rewel. Bersyukur bisa menemani keluarga liburan di SG yg gerah. Bersyukur bisa balik ke Bali dgn aman dan selamat.

Musibah dan masalah bikin kita banyak bersyukur dan makin mendekatkan kita padaNya.

Memantau Penerbangan

Saat terdampar selama 3 hari di Jakarta kemaren, akibat efek gunung Raung, kami menginap di hotel transit dekat 10 menit dari bandara. Selama menunggu kami selalu memantau perkembangan penerbangan ke Bali melalui aplikasi dan account twitter:

- FlightRadar24 untuk memantau keberadaan penerbangan di sekitar Bali
- Account twitter Angkasa Pura Airports (@AP_Airports)
- Account twitter Airport Bali (@baliairports)
- Account twitter Garuda Indonesia (@indonesiagaruda)
- Account twitter Kemenhub (@kemenhub151)
- Call center Garuda (08041807807)

Semuanya update informasi bagus, namun yg online 24 hanyalah call center dan account twitter Garuda Indonesia. Meskipun hanya sekedar update informasi, tapi info dari mereka cukup informatif. Setidaknya kami tidak menunggu dalam tanda tanya tak pasti.

Sayangnya selama menunggu fasilitas hotel dan makan tidak ditanggung oleh pihak maskapai. Hanya tiket pesawat yg ditanggung hingga tujuan akhir.

Thursday, July 16, 2015

Pelajaran Selama di Jakarta

Saat terdampar kemaren selama 3 hari di Jakarta akibat gunung Raung meletus, berikut beberapa pelajaran yg bisa jadi pengingat:
- Di bandara Soeta harus tau kalo taxi lbh cepat drpd kendaraan pribadi krn ada jalur khusus di sebelah kiri.
- Travelling with kid harus selalu dtng lebih awal utk antisipasi unplanned event.
- Ada counter sendiri utk yg sudah web check in dan tanpa bagasi, jd tdk perlu antre terlalu lama.
- Mending nanya jika ada yg kurang jelas daripada harus ketinggalan pesawat.
- Order shuttle bus ke bandara harus dilakukan saat check in (pop hotel).
- Jangan naik taxi selain blue bird.

Ketemu 3 Orang Hebat di Singapore

Selama di Singapore kemaren ada 3 orang yg menyangka saya orang Filipina. Semula saya merasa senang karena mungkin wajah saya agak indo atau bisa jadi english saya mirip english orang Filipino. Namun istri saya berseloroh jika di SG banyak orang Filipino jadi pembantu atawa pekerja kassr. Gubrak!
Selama di Singapore kmrn ketemu dgn orang-orang hebat berikut:

1. Praktisi taichi yg anaknya sering ngajar taichi dan meditasi di us dan bali. Ketemu saat subuh-subuh ke Merlion Park utk mengambil view MBS dgn latar sunrise. Ia memberi saya kartu nama suami dan anaknya. Intinya sapa tahu saya bisa diajak kerja sama nanti saat di Bali.
2. Ibu dgn kanker paru yg pernah 2.5 bln berobat di SG dan skrg dinyatakan sembuh. Ibu yg asli bali bersuami bule pemilik villa ini mempunyai 2 anak perempuan yg punya toko butik di denpasar junction. Saat itu si ibu ditemani 3 anak dan mantunya. Mereka memilih perjalanan darat surabaya-denpasar saat penerbangan ke Bali ditutup karena gunung Raung.
3. Ibu-ibu asli Indonesia yg datang dari jerman dan punya usaha travel di bali. Konon ia ke bali hanya untuk ttd perpanjangan pajak bla bla... Kopornya ketinggalan maskapai di jerman dan musti nunggu di jakarta, gagal ke bali karena pswt cancel akibat gn raung dan bareng menginap di hotel transit di Jakarta.

Pengalaman Liburan di Singapore

1. Banyak orang tua yg masih kerja sopir taxi, room boy, waiter resto, tukang bersihin kaca mall, tukang trolley bandara dll.
2. Sopir taxi, tukang ac tampang bos/bisnisman kalo di indonesia.
3. Ramah2 dan suka ngasi keterangan sejelas mungkin.
4. Eskalator bergerak lbh cepet di MRT drpd mall
5. Banyak yg menyendiri ketika di mall, MRT atau warung makan.
6. Dan gadget mania, sedikit bicara banyak ngetik
7. Harga barang lbh mahal. Air mineral, permen mentos, yakult harganya 3-5x lipat dibanding indonesia.
8. Namun masih ada makanan dgn harga terjangkau di bawa hotel tempat saya nginep (V Lavender) ada nasi ayam telor cuma $2.2.
9. Banyak tap water di tempat umum. Tapi ternyata gak di semua tempat umum ada tap water. Yang saya temui hanya di changi dan garden by the bay saja.
10. Bnyk jalur MRT, harus pelajari dulu mau kemana aja. Tapi pemetaannya bagus banget dan kalo mau gampang tinggal tanya salah seorang penumpang, mereka terangkat sejelas-jelasnya.
11. Sopir taxi ngebut2 saking sepinya
12. Sopir taxi bisa 2x ke bali
13. Harga mobil utk taxi SGD100k
14. Harga tanah SGD1000 per sq foot
15. Singtel 7$ for 1Gb data internet for 1 week only. 12$ for 3 days for 1gb data only.
16. Air mineral 600ml 1.5$ 15rb
17. Denda taxi naik/turunkan penumpang sembarangan 130$
18. Ukuran kramik 19" (47.5 cm). Ukuran kamar 4.5x3m. Kamar mandi 2m x 120cm
19. Sekat kayu antar kamar hotel. Jd ribut bgt kalo ada yg teriak di kamar sebelah.
20. Escalator diset bolak balik sesuai rush hour.
21. bayar pipis di lucky plaza 20c. Di smping V Hotel 10c
22. Banyak tempat umum yg pakai kayu ulin kalimantan, misalnya di area sepanjang belakang MBS.
23. Cuacanya panas dan gerah banget. Bikim keringet bercucuran, sementara di mall/hotel dingin banget. Jika fisik kurang fit bisa bikin sakit.

Mencampuri Urusan Orang Lain

Menasihati orang lain kadang lebih mudah karena kita melihat orang lain secara bird view. Makanya banyak orang suka nasehati orang lain meskipun juga hidup mereka gak bagus-bagus amat semata-mata mereka lupa melihat hidup mereka secara bird view. Di sisi lain kita jg harus terima kasih karena ada yg sudah membantu melihatkan kehidupan kita secara bird view meskipun keputusan hidup tetap di tangan kita. Jadi kalo ada yg sok sok turut campur dgn kehidupan kita gak usah terlalu dipusingin atau mikir negatif, anggap sebagai cermin yg kalo cerminnya melihatkan wajah bagus ya dipake, kalo gak bagus dipecahkan saja biar ramai!

Ibarat pemain bola harus ada yg jadi pelatih untuk melihat secara bird view, di organisasi ada manager, seorang anak perlu bimbingan orang tua, seorang pengusaha pemula perlu bimbingan coach, seorang murid dibimbing gurunya, dll.
Penonton bola pasti selalu terlihat lebih pintar dari pemainnya karena mereka melihat secara bird view di TV atau menonton live.

Monday, July 13, 2015

Perlawanan Masa Kecilku


Jam berapapun tidurnya bangunnya slalu jam 5 subuh. Kebiasaan itu sudah saya lakukan sejak kelas 2 SD. Mungkin karena dulu sejak SD saya sudah mulai membantu bapak di toko. Setiap pagi jam 5 saya membantu bapak membuka toko dan menggelar dagangan, kemudian jam 6 kembali pulang dan bersiap sekolah. Pulang sekolah pun semikian, sehabis berganti pakaian di rumah yg letaknya dekat pasar, langsung ke toko dan ikut bantu jualan bersama bapak ibu. Jam 4 atau jan 5 sore toko tutup. Sehari hari kehidupan saya memang di pasar.

Tak jua hari Minggu. Hari yg seharusnya libur buat anak2 dan bisa bermain sesuka hati kesana-kemari namun saya tetap membantu bapak di toko. Lebih2 hari Minggu adalah hari paling rame pembeli dibanding hari lainnya. Jadilah kehadiran saya tetap diharapkan utk sekedar membantu jualan. Jika anak2 lain bisa nonton si Unyil di pagi hari di TVRI, maka saya sibuk melayani pembeli yg cukup ramai di hari libur.

Hari yang paling saya suka ketika itu adalah ketika bapak pulang kampung dan hujan. Jika bapak dan ibu pulang kampung ke pandak gede utk sembahyang, maka toko tutup dan saya libur. Begitu juga hujan, toko biasanya tutup separuh dan pembeli agak sepi jadi saya bisa agak santai2.

Di masa SMP secara tidak sadar saya mulai menunjukkan "perlawanan". Ada perasaan ingin lari dari kewajiban jaga toko tersebut. Jadilah ketika SMP saya mengikuti banyak sekali kegiatan ekstrakurikuler setiap sore di sekolah, bahkan hari minggu pun saya ikuti. Mulai dari pencak silat, basket, sepak bola, pramuka, elektro hingga kegiatan sebagai pengurus OSIS. Semata2 untuk menghindari kegiatan membosankan dan bikin capek: jaga toko.

Masa SMA saya semakin "memberontak". Saya pokoknya ingin sekolah di kota. Semata2 untuk menghindari kewajiban membantu bapak jaga toko. Waktu itu sekolah di Tabanan dan "in the cost". Pulang ke kampung tiap sabtu sore dan balik ke kos minggu sore atau senin sepagi mungkin. Bahkan ketika hari libur sekolah pun saya berusaha mencari-cari kegiatan mengisi liburan dfn hanya satu alasan kuat: pokoknya tidak jaga warung. Jadilah saya suka mendaki, kemah dan jalan2 bersama teman2 ke daerah2 yg cukup jauh.

Puncaknya adalah ketika kuliah. Saya memilih kuliah lebih jauh lagi yakni ke Jogja. Namun disitulah sebenarnya perhatian bapak ke saya. Secara tidak langsung beliau sebenarnya mendidik saya bagaimana menjadi penjual yg baik atau menjadi seorang bisnisman. Di Jogja saya disuruh nyari barang2 yg bisa dijual bapak di kampung. Jadilah setiap minggu saya mengirim beberapa barang ke kampung untuk dijual di toko bapak. Untungnya bisa 2x lipat dari harga pokok ketika itu.

Akhirnya sekarang saya baru merasa menyesal kenapa dulu tidak mengikuti saja cara mendidik bapak. Bapak ingin membentuk anaknya menjadi wirausahawan. Namun saya yg ketika itu masih abg, jiwa masih ingin bebas dan tidak terkekang.