Tuesday, September 11, 2012

Off di Awal September

Off akhir Agustus saat penampahan Galungan via Surabaya dengan Lion dan Garuda. Dijemput Kadek, Nana dan Tiwi ke Angga Buana. Pada hari Galungan kami berempat ke pura ciwa lalu lanjut ke Jero dan sebelum pulang mampir ke pasar senggol Tabanan.

Hari Jumat pas purnama tanda tangan kontrakan rumah Angga Buana di kantor Pak David di Gatsu Barat. Esok harinya Sabtu ke Bali Safari n Marine Park. Enjoy the holiday.

Pada hari Minggu aku ke tempat Pak Dewa Ketut Artana untuk bayar tanda jadi Kadek. Senin harusnya imunisasi di RS Tabanan, tapi gagal karena ternyata Campak khusus di Kasta Gumani. Akhirnya Kamis ke Klinik.

Hari Senin Nana pertama kali sekolah setelah 2 minggu libur hari raya Lebaran dan Galungan. Ia nangis tanpa sebab. Begitu juga di hari Rabu dan Jumat berikutnya ia tetap nangis. Ternyata ia takut sama seorang laki-laki besar dan agak garang. Entah diapain Nana di hari Senin sehingga ia jadi takut seperti itu. Kasihan. Harus dicari sebabnya. Ini adalah PR pulang depan. Untuk sementara Nana diliburkan lagi 2 minggu.

Pada hari Rabu aku potong rambut di Pandak Bandung bersama Nana. Lalu sorenya nganterin lamaran Dek Anom. Kamis nemenin Kadek bersama Nana buat ngurus pembayaran di notaris. Jumat melayat ke Nini gek Muni, Nana masih gak mau sekolah. Sedih.

Pada hari Kuningan kami berempat sembahyang ke pura Ciwa lalu lanjut ke Pekendungan bersama Kak-Mbah Wanda dan Nana. Jam 1 siang aku memotret Mekotek di Munggu. Nana juga senang sekali nonton Barong Bangkung.

Minggu ngiring ke Setra pemakaman Nini Gek Muni. Senin serah terima kunci rumah untuk Mbak Chika yg kerja di Prodia Denpasar. Kadek juga melayat ke Negara bersama Paktut, Meadek, Dek Anom dan Pak Tut Garing ke Mbah Kerti yg cucu mantunya meninggal.

Lalu Selasa aku ke Balikpapan via Makazzar naik Lion. Malam tadi jam 7 aku langsung ke XXI nonton Perahu Kertas. Sepulang itu baru ke Solaria buat makan malam yg telat. Malam ini kembali tidur semalam di Suraton menyusun energi buat long trip esok pagi.

Mandi pagi di Bali, mampir pipis di Makassar, mandi malam di Balikpapan. Sarapan di Bali, makan siang Makassar dan makan malam di Balikpapan. Yuukkk...

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, September 10, 2012

Makin Banyak Spanduk

Akhir-akhir ini makin banyak bertebaran spanduk liar di tepi-tepi jalan, di tikungan, perempatan atau pertigaan jalan. Temanya mulai dari kelompok X mengucapkan selamat hari raya, atau kelompok Y mengucapkan selamat ulang tahun hingga seorang pejabat mengucapkan selamat hari raya. Pose-nya standar dengan pakaian adat Bali, posisi tangan dicakupkan di depan dada dan senyum yg dipaksakan. Hehe.

Makin maraknya iklan-iklan model begini tak lepas dari makin majunya teknologi percetakan digital atau digital printing cetak-mencetak spanduk. Baru-baru ini saya melihat iklan dari Wina Letter yang menyediakan jasa cetak spanduk dengan harga 20 ribu/m persegi. Uang 100 ribu sudah bisa jadi spanduk dengan panjang 5 m dan lebar 1 m. Murah sekali bukan. Pantas saja orang-orang makin keranjingan pasang "iklan" di jalanan. Mungkin buat eksis atau sekedar mengikuti trend? Apapun itu saya hanya bisa tersenyum saja.

Siapa yg salah? Percetakan? Produsen printer digital? Tentu bukan. Jika dilakukan secara wajar tentu tidak ada pihak yg merasa terganggu. Namun jika sudah lama dipasang dan usang, lalu dibiarkan begitu saja kadang lepas sebelah, atau kadang malah mengganggu pengguna jalan raya, ya kalau begini malah jadi tidak indah jalananku.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kecak di Uluwatu

Beberapa hari lalu saya ketemu dengan kerabat yg ikut menari dalam pentas Kecak setiap sunset di areal pura Uluwatu, Pecatu, bali. Ia berperan sebagai Rahwana. Kecak yg diawaki oleh 90 orang crew ini terdiri dari 20 crew termasuk ticketing, dan 70 orang sebagai penari.

Kecak ini dipentaskan tiap hari menjelang sunset di Uluwatu dan pemandangan ini pasti sudah menjadi pemandangan terkenal di seluruh dunia. Awalnya, sekitar tahun 2000-an, digagaslah tari kecak ini, namun ada pihak yg kontra dan menentang keras rencana itu. Namun kini, pentas tari kolosal ini menjadi impian beberapa club penari yg ingin menari disana, karena income-nya lumayan menjanjikan. Namun hingga saat ini hanya dikelola oleh desa adat di sekitar pura.

Kapasitas panggung normal hanya 700 orang dengan tiket masuk 70.000 rupiah. Kadang hari-hari tertentu bisa lebih, bahkan pernah 1200 penonton dalam satu pementasan, penonton banyak yang berdiri. Namun akhirnya disepakati hanya akan memuat 700 penonton demi kenyamanan semua.

Bisa dihitung pendapatan harian penari ini. Jika terisi semua maka per hari bisa masuk 49 juta. Jika dibagi rata oleh 90 crew menjadi hampir 550ribu per orang per hari. Sebulan bisa dapat 16 juta rupiah per orang. Jika setengah saja pentas dalam sebulan sudah dapat penghasilan 8 juta. Dan jika 20%-nya masuk ke iuran/APBD/pajak maka penghasilan penari perbulan adalah 6.4 juta. Menggiurkan. Pantas event ini diirikan beberapa kelompok.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kekuatan Internet buat Iklan Rumah

Sejak saya mengiklankan rumah Angga Buana di rumah.com, ada belasan atau bahkan 20 lebih calon penyewa sudah menelfon hingga saat ini, walaupun rumah sudah deal ada yg nyewa. Tapi karena di rumah.com belum saya nyatakan "laku", maka telfon pun terus berdatangan. Sengaja saya belum close, sekalian buat ngetes gimana kekuatan internet buat iklankan property.

Dari kejadian ini bisa disimpulkan bahwa cukup banyak sebenarnya orang yg perlu rumah kontrakan di Denpasar. Saya patok harga cukup tinggi disana, 25 juta/tahun. Namun mungkin dilihat lokasi dan desain rumah yg bagus, cukup banyak yg tertarik. Ini baru peminat yg terjangkau internet, belum lagi yg offline, pasti lebih banyak lagi yg butuh kontrakan.

Saya boleh cukup berbangga karena yg mengontrak rumah saya adalah kepala cabang/branch manager ACC (anak perusahaan Astra) cabang Bali Nusra. Berarti rumah saya sudah setara dengan rumah kepala cabang dong hehe.

Bisa jadi dengan mengiklankan di internet juga salah satu filter untuk menarik konsumen kelas menengah ke atas, setidaknya kita bisa mendapatkan harga sewa rumah lebih tinggi. Disini terasa sekali kegunaan internet. Setidaknya saya sudah mempraktekkan mengiklankan rumah gratis di internet. Dengan asumsi biaya online tidak dihitung karena sudah tidak mengganggu paket bulanan telkomflash saya.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Saturday, September 08, 2012

Tradisi Mekotek di Munggu

"Sing Mekotek sing nak Munggu". Demikian tertulis di bagian belakang kaos puluhan atau mungkin ratusan peserta mekotek yg kebanyakan anak muda. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat desa Munggu, Badung, Bali.

Tepat jam 2 sore, 8 September 2012, di bawah udara terik yg panas, langit sedikit berawan dan ratusan pemuda dengan senjata tombak kayu yg panjangnya sekitar 4 meter berjalan beriringan dari utara, Pura Dalem, lalu mampir di Pura Puseh dan menggelar atraksi di depan pura di pertigaan desa.

Tombak-tombak panjang disatukan lalu salah seorang naik ke atas tumpukan tombak lalu diarak kesana-kemari dan berakhir pada satu sisi yang miring dan sang pemuda jatuh dengan lembut. Menurut berita, meskipun tergolong berbahaya, tak pernah ada yg mengalami luka dalam setiap kegiatan ini.

Kegiatan ini dilakukan setiap 6 bulan Bali atau 210 hari pada setiap hari Kuningan, mulai jam 13.00 orang-orang sudah berkumpul, jam 2 acara keliling desa dimulai. Setelah sekian tahun saya pegang kamera baru kali ini sempat memotret kegiatan ini. Padahal jarak dari rumah kesini hanya 10 menit. Spot terbaik sepertinya di pertigaan desa di ujung selatan sebelum keluar dari desa Munggu. Belum coba spot lain. Siapkan lensa yg tak terlalu panjang. 18-70mm cukup. Karena penonton tidak terlalu banyak. Fotografer juga tak begitu banyak.

Powered by Telkomsel BlackBerry®