Saturday, May 20, 2017

Pak Samad The Last Tubing Bender

Langit pagi itu sedikit mendung, awan-awan stratokumulus ramai memenuhi langit sehingga sinar mentari meredup, cuaca jadi tidak terlalu panas. Lautan begitu tenang seperti danau. Fenomena alam seperti ini sering terjadi, sehabis diguyur hujan deras, lautan bisa berubah jadi tenang, permukaannya biru tanpa ombak seperti kaca. 

Jam 7 pagi Pak Samad sudah bersiap di well area anjungan Alpha. Satu toolbox lengkap selalu menemani kemanapun ia bekerja. Tangan-tangan kekarnya sudah mencengkeram tubing bender 1/2 inci. Meteran ada di saku celana kiri. Di saku celana kanannya ia kantongi sebuah tubing cutter dengan cat mengelupas, saking lama dan seringnya dipakai. Di saku bajunya menyelip nut dan ferrull berbagai ukuran. Pensil 4B menyelip di telinga kanannya, layaknya tukang bangunan. Pak Samad dikenal sebagai seorang ahli bengkok tubing kawakan. Di masa kerjanya yang sudah 25 tahun ini, ribuan batang tubing telah ia bengkokkan, mulai dari ukuran 1/4, 3/8, 1/2 hingga 3/4 inci. Tubing-tubing stainles steel kelas oil company lepas pantai semua takluk di tangan-tangan kekarnya yang cekatan. Jika dikumpulkan, mungkin Pak Samad sudah membengkokkan tubing hingga ke bulan. 

Ia menyeka keringat di pipinya yang mulai keriput. Hari itu Pak Samad sedang membuat jalur tubing untuk sebuah alat pendeteksi tekanan. Sumur minyak Alpha-5 sudah lama mati suri. Para petroleum engineer di kantor pusat di darat sana memerintahkan lapangan untuk menghidupkan kembali agar produksi minyak bertambah. Maka dari itu, agar aman, sebuah sumur harus dilengkapi dengan berbagai macam safety device, salah satunya adalah alat pendeteksi tekanan alias pressure switch. Pressure switch ini bekerja jika tekanan di pipa sumur ini melebihi atau kurang dari setting yang diinginkan. Sebuah keran yang bisa menutup otomatis akan menutup jika tekanan pada pipa melebihi atau kurang dari setting. Semuanya serba otomatis. 

Aku dan Nizar mendapat tugas berguru pada Pak Samad hari itu. Pak Samad dikenal sedikit bicara. Jika ia sedang bad mood ia bisa jadi orang bisu atau patung yang bisa bergerak. Tapi dengan sedikit trik, aku dan Nizar telah menemukan cara mendekatinya. Nizar yang jago menggombal, berusaha pedekate ke Pak Samad sang Tubing Bender. 

"Halo, lagi apa nih Pak Samad?" tanya Nizar dengan nada sangat bersahabat. Pak Samad diam seribu bahasa, matanya masih tajam menatap tubing-tubing yang ia bengkokkan. Jari-jarinya masih sibuk memasang nut dan ferrull di ujung tubing setelah ia potong dengan cutter. Tampaknya basa-basi Nizar jadi basi pagi itu. Nizar tak kehabisan akal, ia gunakan jurus nomor dua. 

"Pak Samad, bagaimana hasil pancingan hari ini?" cobanya lagi berusaha memecah es batu yang belum mencair pada pagi yang tak terlalu terik itu. Serta merta wajah Pak Samad menjadi sedikit rileks. Mulutnya agak bergetar seakan hendak mengucap kata. 

"Sini Pak saya bantu," ucapku karena sepertinya Pak Samad butuh bantuan walaupun hanya bantu memegang saja. Tiba-tiba terdengar kata pelan dari mulut dengan gigi yang sudah mulai ompong. 

"Kalo bengkok tubing itu dari awal tak boleh salah," kami mendengar dengan seksama, "Sedikit saja awalnya salah maka di ujung sana akan banyak melencengnya," tambahnya pelan. 

Kemudian dengan sekali sentuhan, pekerjaanya selesai. Ia lalu menyuruh kami mengetes sistem shutdown sumur Alpha-5 yang sudah ia pasang sejak tadi. Aku tarik sigma valve yang menempel di body sumur, lalu tekanan angin memenuhi pressure switch dan wing valve membuka. Selesai sudah tugas Pak Samad hari itu. Sumur Alpha-5 mengeluarkan suara berdesing, minyak mengalir dengan garang. Produksi hari itu bakal bertambah, para juragan di kantor pusat sana pasti senang bukan kepalang. Harusnya Pak Samad mendapat penghargaan karena ikut membantu bertambahnya produksi. 

Disamping sebagai the best Tubing Bender di Attaka, ia juga terkenal jago mancing. Ia lebih senang bercerita soal mancing daripada masalah produksi minyak. Karena mancing adalah hiburan satu-satunya tatkala ia sedang on duty di laut. Ia tak terlalu suka nonton TV, menurut dia TV hanya menyiarkan tipuan, semuanya tipu-tipu belaka. Apalagi yang punya TV adalah penguasa, maka semua siaran hanya tipuan belaka, demikian menurutnya. Jam makan siang pun tiba.

"Gak makan siang kah?" tanya dia dengan logat khas orang Banjar.

Kami memilih menemani Pak Samad siang itu mancing sebelum kembali ke Living Quarter untuk makan siang. Pak Samad mengeluarkan peralatan mancingnya, ia hanya pakai gulungan dan tali tanpa batang pancing. Umpannya ia gunakan ayam mentah yang dikaitkan kuat pada ujung kail. Ia amati arah arus air laut. Arus atas bisa tidak sama. Sebelum melempar kail ia mengucap mantra sakti andalannya "Tuk tuk kirawas, kalo matuk jangan lawas..."

30DWCJilid6 #Day4
#kisahcinta
#kuliminyaklepaspantai
#selatmakazzar


Friday, May 19, 2017

Negara Kita Sebenarnya Kaya

Langit pagi ini cerah biru tanpa awan sedikit pun. Angin bertiup dengan kecepatan 7 knot dari utara menuju selatan. Suara turbine compressor 150 dB berdesingan mengkompres gas alam dengan kapasitas 35 ribu kaki kubik per hari, menuju Santan Terminal. Suara shipping pump menggetarkan anjungan memompa minyak mentah 13 ribu barel per hari ke daratan sana. Tak ada kicau burung di atas pepohonan yang menghias pagi di lautan. Tak ada nyiur melambai. 

Pagi itu kami berempat ditemani mas Ricky Samuel, senior production operator yang akan mengajak kami keliling Production Platform dan Compressor Platform. Pagi itu kami akan belajar bagaimana minyak bumi diproses. Production adalah anjungan pusat yang menerima minyak dan gas dari anjungan remote yang terletak di kejauhan sana. 

Anjungan remote adalah tempat dimana sumur-sumur minyak mengeluarkan minyak atau gas. Kemudian pipa-pipa 16 inci mengalirkan minyak dan gas dari anjungan remote, diterima oleh sebuah separator di anjungan pusat. Minyak tersebut secara alami dipisahkan menjadi 2 fase yaitu menjadi minyak dan air. Minyaknya langsung dikirim ke darat untuk dijual. Sedangkan airnya diolah dahulu sebelum dibuang ke laut lepas. 

"Negara kita sebenarnya kaya banget, coy!" kata mas Ricky dengan semangat ampatlima. 

"Coba bayangin tiap hari kita memproduksi 13 ribu barel minyak untuk dijual.  Itu setara dengan 16 milyar perhari. Belum lagi gasnya sebanyak 35 ribu kaki kubik per hari. Itu setara dengan 7 milyar, coy!" sambungnya panjang sembari membenarkan posisi safety helmetnya. 

"Tapi kenapa masih banyak orang miskin di negeri ini, coy?" cetusnya tak terima. 

Topan tampak mulai sumringah. Ia sangat tertarik dengan cerita semacam ini. Ia sangat peduli dengan berita-berita bagaimana rakyat bisa miskin di negeri yang katanya kaya ini. Ia sangat antipati dengan negara adidaya yang mengeruk rakus kekayaan negaranya. 

"Apa yang bisa kita lakukan, mas Ricky?" Topan memotong berapi-api. 

"Ah kalian pikir sendirilah. Kalian belajar dulu yang banyak. Baru juga sehari di laut," seru mas Ricky meremehkan. Muka Topan jadi masam. 

Kemudian kami berpindah ke Compressor Platform yang terletak di anjungan sebelah. Jembatan menghubungkan keduanya. Sepanjang jalan kami melalui pipa-pipa dengan diameter beragam. Di ujung sana ada beberapa pekerja yang sedang membangun scafolding untuk orang yang akan bekerja di ketinggian. Begitulah di perusahaan minyak, safety adalah segalanya. Keselamatan pekerja adalah prioritas utama. 

Diujung sana ada pekerja lain yang sedang membuka-buka baut di sebuah pipa berdiameter 8 inci. Diameter bautnya saja 7/8 inci. Baut yang sudah karatan harus dibuka dengan cara dipukul. Keringat mereka bercucuran. Seorang pekerja berpakaian merah memeriksa dengan gas detector. Memastikan tak ada setitik pun gas bocor keluar dari pipa. 

Tak terasa siang pun berlalu. Kami kembali ke Living Quarter untuk makan siang. Topan masih tampak gusar. Sepanjang siang hingga sore ia masih sering melamun. Mungkin masih belum bisa lepas dari pikirannya, seandainya ladang-ladang minyak seperti ini bisa dikuasai oleh perusahaan anak negeri, betapa kita akan menjadi negara super kaya. Dan yang paling penting tak akan ada rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. 

30DWCJilid6 #Day3
#kisahcinta
#kuliminyaklepaspantai
#selatmakazzar


Thursday, May 18, 2017

Attaka The Giant Field

"Zar! De! Coba lihat!" seru Jacky sambil menunjuk alat band lengkap di bawah helipad yg kami naiki tadi. Di bawah helipad ternyata ada semacam hall yg berisi panggung di bagian belakang. Disana ada alat band lengkap mulai dari gitar, bas, keyboard dan drum. Mixer dan lighting melengkapi dengan mewahnya. 

"Ini sih alatnya kelas konser semua bro. Kita bisa main sepuasnya," sergah Topan.

"Gak kayak di Cepu dulu, susahnya setengah mati cari studio yang bisa disewa. Sekalinya ada muahaaall abis," kenang Nizar berapi-api.

"Oke. Sekarang kita tes yuk," seruku seru. Yang lain langsung bergerak tanpa menjawab. 

Joko langsung memainkan drum di belakang sana. Nizar menyetel gitar sambil sesekali memainkan rhythm rock n roll. Aku siapkan bass sembari meminta Topan mengambil mikrofon. Akhirnya Blue Suede Shoes membuka siang yang cerah itu. Kami konser tanpa penonton dengan alat musik gratis dan bisa dipakai sesuka hati. 

Tiba-tiba terdengar suara panggilan dari paging system, dari speaker TOA yang terpasang di beberapa sudut anjungan.

"Anak-anak FDT ditunggu kehadirannya di meeting room sekarang juga! Sekali lagi anak-anak FDT ditunggu kehadirannya di meeting room sekarang untuk briefing!" Entah siap yang memanggil di bawah sana.

Kami meluncur ke bawah menuju meeting room. Disana sudah berkumpul semua. Pak Slamet Hartono kepala bagian produksi akan sharing seputar lapangan yang akan kami jelajahi selama 9 bulan ini. 

"Lapangan Attaka adalah salah satu lapangan dengan cadangan minyak terbesar di Indonesia. Sesuai namanya yaitu Attaka dalam bahasa Jepang artinya besar, karena itu Attaka juga dijuluki the Giant Field," seru pak Slamet Hartono bersemangat membuka sharing session sore itu.

Attaka terletak di sebelah timur Kalimantan Timur, tepatnya sekitar 50 km ke arah tenggara dari kota Bontang, dekat sekali dengan garis katulistiwa. Attaka bisa dicapai dari Balikpapan dengan perjalanan helikopter selama 50 menit atau dengan boat selama 6 jam. Namun biasanya kami crew change dengan pesawat dari Balikpapan menuju Santan Terminal selama 50 menit. Lalu dilanjutkan dengan crew boat selama 1 jam. Anjungan-anjungan di Attaka adalah tipe fixed platform atau terpancang ke dasar laut yang kedalamannya sekitar 60 meter dan termasuk kategori laut dangkal. Anjungan sentral Attaka terdiri dari 4 anjungan yaitu Living Quarter yg berisi kantor dan tempat tidur, Production Platform tempat mengolah minyak dan gas, Compressor Platform tempat turbine compressor yang bertugas mengirim gas ke darat dan Alpha Platform tempat 15 sumur minyak dan gas berproduksi. Keempat anjungan itu dihubungkan dengan jembatan selebar 1 meter. 

Schedule on the job training kami adalah 2-1 dengan 2 minggu on duty dan 1 minggu off duty. Selama off duty adalah saat benar-benar libur dari pekerjaan dan kami boleh kemana saja termasuk pulang kampung. Banyak diantara karyawan disini yang commuting yakni pulang ke kampung halaman ketika off.  

Team di Attaka Field ini terdiri dari multi fungsi. Mulai dari team operation, maintenance, engineering, drilling, catering hingga akomodasi dan logistik. Karyawan dari berbagai suku dan agama bergabung menjadi satu bekerja dengan rukun dan damai. Jam kerja kami adalah six to six alias jam 6 pagi hingga jam 6 sore. 

Sehabis sharing pembuka yang panjang lebar, kami dipersilahkan istirahat. Aku, Jacky, Nizar dan Topan memilih pergi ke helipad. Mumpung cuaca cerah dan langit berwarna biru bertaburan awan putih. Di sebelah utara cumulonimbus mini bergumpal tebal di atas anjungan Hotel dan Juliet. Di sebelah timur awan stratokumulus menghias langit biru di atas anjungan Charlie, Delta dan Bravo. Di sebelah selatan Cirrocumulus menghias bisu anjungan Foxtrot, Golf, November hingga Oscar. Dan di bagian barat awan altokumulus memenuhi langit seperti sisik ikan raksasa di langit sana. 

Akhirnya matahari terbenam, awan altokumulus memerah dan langit senja itu menjadi fotogenik, begitu dramatis. Soundtrack sore itu adalah desingan turbine compressor, debur ombak Selat Makassar dan angin laut dari balik anjungan. Siluet kami berempat adalah "best photo of the day." 

30DWCJilid6 #Day2
#kisahcinta
#kuliminyaklepaspantai
#selatmakazzar


Wednesday, May 17, 2017

Platform First Date

Angin bertiup sepoi, ombak pecah di buritan kapal. Crew boat Perkutut mengantarkan aku menembus malam gulita, ke arah barat mengejar matahari terbenam, ke daratan Santan Terminal. Perjalanan 1 jam ini tak terlalu melelahkan karena esok aku kan bertemu denganmu, pujaan hatiku. Dua minggu aku bergumul dengan karat, bersetubuh dengan angin laut lalu diselingkuhi suara turbine compressor. Senja sempat berkhianat padaku, karena ia sirna di ujung barat sana, tanpa memunculkan pesona indah langit berwarna merah yang biasa aku abadikan dengan kamera dari hape butut kesayangan, hadiah ulang tahunku, 3 tahun lalu.

Lamunanku berkelana ke 14 tahun lalu, tepatnya 13 September 2003 pertama kali aku menginjakkan kakiku di anjungan besi ini, anjungan lepas pantai yang diberi julukan The Giant Field. Kami berjumlah 15 orang naik pesawat Dash-7 berkapasitas 50 orang terbang dari Balikpapan menuju Santan Terminal selama 50 menit. Lalu dua boat kembar Sarah dan Indriani menjemput kami dengan elegan. Mengantarkan kami yang masih culun, ke lapangan minyak lepas pantai terbesar di Indonesia ini. Kala itu ombak begitu tenang, boat menembus Santan kanal tanpa halangan, lalu mengarungi lautan Selat Makassar 50 km ke arah timur. Pagi itu sekitar jam 10 kami tiba di Giant Field, ketika kepala kami menengok keluar jendela boat, kami melihat bangunan raksasa, alangkah besarnya. Besi-besi kuning terpancang kokoh membelah samudera, di atasnya bergelantungan belasan manusia yang kelak akan menjadi guru-guru kami selama 9 bulan ke depan. Suara-suara 9 unit turbin kompresor bergemuruh seperti suara mesin pesawat yang akan take off. Kami meloncat dengan susah payah ke landing boat, lalu menaiki puluhan anak tangga menuju Radio Room. Kemudian berkumpul di sebuah ruangan kabin yang bertuliskan "Rec Hall". Disini kami diberikan pengarahan mengenai rute keselamatan jika terjadi bahaya. Alarm akan berbunyi jika ada kejadian emergency. Tak lama kemudian kami makan siang di ruangan sebelah yang bertuliskan "Mess Hall". Menunya lengkap seperti di hotel bintang lima tempat kami menginap selama 3 hari kemaren di Balikpapan.

Kemudian kami diantarkan ke kamar kami masing-masing. Kami menempati sebuah kamar dengan kapasitas 4 orang per kamar. Satu kamar terdiri dari 4 bed yang bertingkat dua. Meskipun sempit namun kami merasa lapang karena pengaturannya begitu rapi. Aku sekamar dengan Nizar, Jacky dan Topan. Kami istirahat sejenak menikmati empuknya kasur dan alunan suara turbine compressor di luar sana terdengar sayup-sayup saja karena kamar ini dirancang kedap suara. Aku keluarkan laptop lalu menyalakan lagu Manusia Bodoh milik Ada Band. Kamar kami terletak di lantai 3, sedangkan Rec Hall dan Mess Hall ada di lantai 1. Tepat di atas kami ada tempat berkumpul di lantai 4 dan di atasnya ada helipad tempat helicopter mendarat jika ada penerbangan ke lepas pantai ini.

Aku dan Nizar keluar kamar lalu menuju helipad. Menatap sekeliling kagum. Belasan anjungan kecil-kecil tersebar seolah mengelilingi anjungan pusat yang kami tempati ini, Living Quarter. Anjungan itu diberi nama sesuai dengan abjad mulai dari Alpha, Bravo, Charlie, Delta, Echo Baru, Foxtrot, Golf, Hotel, India, Juliet, Lima, Oscar, UA, UB dan November. Sepanjang cakrawala terhampar lautan lepas. Tak terlihat daratan sedikitpun di arah barat sana. Tiba-tiba dari bawah sana terdengar suara Jacky memanggil tergesa. Entah apa yang terjadi, aku dan Nizar segera turun ke bawah helipad.

#30DWCJilid6 #Day1
#kisahcinta
#kuliminyaklepaspantai
#selatmakazzar


30 Days Writing Challenge Jilid 6

"Great things are done by a series of small things brought together."

Mulai hari ini 17 Mei 2017 saya mencoba mengikuti 30 Days Writing Challenge Jilid 6. Saya tergabung ke Squad 2 yg terdiri dari 10 Fighters. Ada 100 peserta yg dibagi menjadi 10 Squad. Masing-masing peserta (Fighter) diwajibkan mengirim tulisan setiap hari. Doakan saya berhasil mengikuti tantangan ini ya. 

#30dwc #30dwcdeclaration #jilid6 #squad2 #selatmakazzar #kisahcintakuliminyaklepaspantai