Saturday, December 08, 2018

How to Solve Problems

Cara memecahkan masalah:

1. Ubah sudut pandang bahasa tentang masalah dari negatif ke positif.
2. Tentukan situasi atau masalah untuk menjelaskan masalah dengan lebih jelas.
3. Tentukan daya pikir kritis untuk memecahkan masalah dari beberapa sudut berbeda. 
4. Tentukan dengan jelas solusi ideal masalah tersebut.

Tanya Jawab di Grup Hindu

Beberapa waktu yang lalu saya membuka diskusi di grup WA Hindu Nusantara. 

Tanya:
Mohon pencerahannya nggih... 
Di islam ada pak ustad untuk belajar agama. Kalo di Hindu kita belajar ke siapa ya? Apakah pemangku, pedanda atau kemana? 
Kalo di Bali yg disebut belajar agama itu apakah  belajar kitab Weda atau belajar membuat banten?

Jawaban 1:
Tergantung apa yg akan kita pelajari, berkaitan dg belajar Agama ada 4 jalan (Catur Marga)... Karma Marga... berperilaku yg baik dpt belajat pada ortu, keluarga, disekolah, di masyarakat dll; Bhakti Marga (dpt belajar Panca Yadnya dr pandita, pinandita, ortu, ikut sembahyang di pura, hadiri undangan pawiwahan, ngaben, tukang banten dll); 

Jnana Marga belajar memahami filsafat/ Tatwa sm guru agama, tokoh agama (org yg dituakan dan paham mslh agama, Pandita, Pinandita, Pasraman), buku2 agama dan Weda, Lontar dll... Raja (Yoga) Marga... belajar Meditasi /Tapa brata dr Yogi, Pinandita, pandita, pasraman, perguruan spiritual dll... silahkan dilengkapi utk berbagi, silahkan pilih tujuannya, apa yg mau dipelajari, pilih gurunya 🙏🙏🙏👍👍👍

Jawaban 2:
Hal ini jg sering  tyang tanyakan dlm forum2. Di group ini pun pernah tyang singgung. Salah satu fungsi Pinanditha sebaiknya adalh menyebarkan ajaran Dharma khususnya kepada umatnya. Namun yg ada saat ini Pinanditha  hanya disibukkan dg pelaksanaan upacara / tataUpacara. Hanya pd saat odalan saja memberikan Upanisad/ dharma Wacana yg sangat singkat. Umat hrus belajar sendiri. 

Sedangkan klu kita lihat kawan2 disebelah, yg namnya Ustad setiap hari melakukn pengajaran / pengajian untuk memperdalam kitab sucinya, mulai dg usia kanak2, Pendeta pd umat kristen juga ada kegiatan rutin Sekolah Agama dihari Sabtu dan Minggu. 

Msh bersyukur kita yg diluar Bali ada sekolah agama di Pura setiap minggu yg diajarjan oleh guru Agama menggantikan pelajaran agama disekilah. Krn disekilah diluar Bali tdk ada pelajaran agama Hindu. Inipun diajarkan bukan oleh Pinanditha. Klu di Bali mendapatkn pelajaran agama di sekolah saja, yg hal ini juga dilakukan di sekolah luar Bali untuk agama Islam. Disamping mereka ada pengajian setiap hari oleh Ustad / pemuka agamanya. 

Mungkin ini juga salah satu penyebab kenapa pemeluk agama Hindu kurang militan ( khususnya para Wanita) ampura ini adalah pengamatan dan pendapat tyang, klu ada pendapat yg berbeda bagus jg klu kita diskusi di hari Sabtu ketemuan . Suksma 🙏

Memaknai Bencana

Pisau awal ditemukan utk membantu manusia mencari makanan. Kemudian hari pisau disalahgunakan utk merampok, membunuh dll.
Dinamit awalnya ditemukan untuk membantu pemerintah menghancurkan bukit untuk membuka jalan. Tapi kini disalahgunakan sebagai sarana perang antar manusia.

Internet awalnya diciptakan dgn tujuan begitu mulia, agar bisa menghubungkan komputer di seantero dunia, memudahkan bertukar data. Kini kejahatan internet pun kian mengkhawatirkan.
Setiap penemuan ada sisi positif pun negatif. Setiap alat adalah netral, ia menjadi positif atau negatif tergantung makna yang diberikan manusia. 

Peristiwa alampun netral, gunung meletus, gempa bumi netral, ia bisa jadi hal positif atau negatif tergantung cara manusia memaknai. Sebagian orang menganggap musibah sebagai penghancur peradaban. Sebagian lainnya, menganggap musibah sebagai jembatan untuk menyempurnakan pengabdian dan pelayanan.  Misalnya bekerja sebagai relawan untuk korban bencana, bisa juga sebagai jembatan untuk berbagi dengan sesama.

Teroris dan Lalat

Teroris itu mirip dengan lalat yang mau menghancurkan sebuah toko. Karena lalatnya tidak bisa mengangkat bahkan cangkir kecil sekali pun, maka ia masuki telinga banteng besar agar bantengnya mengamuk menghancurkan.

Sebarkan Cinta di Sosial Media

Pendukung capres A boleh gusar tatkala capres jagoannya dijelek-jelekkan pendukung capres B. Pendukung capres B pun boleh senang tatkala pendukungnya sendiri menemukan keburukan2 capres A. Jangan lupa itu hanyalah panggung sandiwara politik belaka. Jangan habiskan energi utk meladeni mereka. Biarkan mereka bersandiwara di atas sana. Kita cukup jd penonton yang imut saja dari bawah sini.  

Jangan lupa kembali ke rumah, sayangi istri dan anakmu. Tumbuhkanlah cinta, agar cinta yang kau tebar di social media. Bukan kemarahan apalagi menumbuhkan permusuhan. Karena yg rugi kita juga, bukan para politikus jahat yg bersandiwara di atas sana. 

Disaat rakyat sebuah negara sudah komen gini kepada para politikusnya, "biar aja mereka berkelahi, kita tonton dari jauh sambil ngopi," maka negara itu sudah aman sentausa.