Thursday, October 23, 2014

Membuat Passport

Pada tanggal 29 September saya berangkat menuju kantor imigrasi  Denpasar, sendiri dengan membawa formulir yang sudah diisi dan semua syarat-syarat yg diperlukan untuk membuat passport. Kali itu saya sengaja sendiri dengan rencana, hari berikutnya saya bawa anak-anak dan istri. Hari itu hari Senin dan petugas sedang upacara di halaman. Jam 8 kurang 10 saya tiba dan masuk ke ruang tunggu antrian. Namun aneh, petugas tak mengijinkan mengambil nomor antrian. Padahal sudah ada sekitar 8 orang disana. Menurut petugas, akan buka tepat pukul 8. Disiplin pikir saya. Kemudian saya siasati dengan duduk di kursi dekat mesin cetak karcis antrian berada.

Jam 8 tepat, orang-orang berkerumun mengambil antrian. Ternyata karcis diambilkan petugas satu persatu, aneh. Saya hanya mengambil 1 nomor antrian, dan dapat nomor antrian 16. Ini tidak menghargai kita yang datang pagi-pagi kesana. Ketika saya mendapat giliran ke loket pemeriksaan kelengkapan, saya dinyatakan harus mengambil 4 nomor antrian sekaligus dan salah satu syarat saya kurang lengkap yaitu fotokopi KTP harus dalam lembar A4. Saya mengambil nomor antrian ulang dan memfotokopi ulang. Saya mendapat antrian 45-48, aneh kan? Disuruh antre dari awal lagi.

Lalu ketika giliran saya mendapat lagi, setelah menunggu 1 jam, saya serahkan semua syarat dan semuanya komplit saya diberikan nomor antrian untuk foto dan wawancara. saya mendapat nomor A10. Lalu sekitar jam 9:30, saya masuk menuju ruang foto dan diwawancarai dan membayar senilai 355rb. Kemudian diberikan bukti bayar dan struk pengambilan, passport bisa diambil 3 hari ke depan.

Esok hari, saya kembali ke kantor imigrasi dengan anak dan istri. Jam 7.30 kami sudah disana. Setelah berdesakan mengambil nomor antrian, kami mendapat antrian ke 24, padahal kami hanya tinggal ke ruang foto aja untuk foto anak dan istri saya. Lalu antrian A15 untuk masuk ke ruang foto. Giliran Citta yang difoto, ia bertingkah, tidak mau difoto dan membuat kami dan petugas kewalahan. Setelah ditenangkan di luar, Citta akhirnya "jinak" dan jam 11:30 semuanya beres. Yang parah tagihan tidak bisa dibayarkan sekaligus, jadi harus membayar biaya transfer 3x10rb untuk masing-masing passport. 

Tiga hari kemudian, yaitu hari jumat kami mengambil passport kembali. Berharap semuanya beres hari itu tapi ternyata untuk mengambil passport anak, harus menyerahkan fotokopi passport orang tua, saat itu langsung difotokopi dan kami serahkan langsung. Namun konon petugasnya, si atasan sedang keluar makan siang. Padahal saat itu baru jam 11:30. Dan kami "dipaksa" menunggu jam 13:30 selesai instirahat siang. Kami pikir ini buang-buang waktu dan saya putuskan mengambil kembali di hari Senin.

Hari Senin pagi selepas mengantar Nana sekolah, aku mengambil ke kantor imigrasi sendiri. Lagi-lagi disuruh foto kopi passport anak untuk bisa mengambilnya. Kalo bisa dibuat gampang, kenapa harus dipersulit?

Berikut masukan-masukan:
1. Pengambilan nomor antrian tidak usah menunggu jam 8 tepat, ini untuk menghargai customer yang datang lebih awal kesana. Toh sudah ada petugas yang stand by dari jam 7:30
2. Petugas tidak usah saklek, disiplin boleh tapi bukan kaku.
3. Salah sedikit mengenai syarat-syarat harusnya tidak perlu mengantri dari awal lagi, ini menyita waktu.
4. Perlu menambah jumlah petugas, agar customer bisa dilayani lebih efektif. Pengantri juga efisien waktu, tidak wasting time.
5. Kamera disarankan pakai flash, agar hasil foto lebih cling dan tidak blur saat memfoto anak2 yg tidak bisa "diam".
6. Untuk pembayaran lebih dari 1 passport harusnya bisa menggesek kartu sekali saja, manfaatkan teknologi untuk kemudahan, bukan memperibet birokrasi.
7. Petugas harusnya menjelaskan dgn jelas, tidak perlu kucing2an dengan aturan/SOP, biar tidak ada urusan bolak-balik customer.
8. Waktu pelayanan passport agar bisa diperpendek, 1 jam jadi lah dan esok hari atau sore passport sudah jadi.
9. Harusnya parkir kendaraan tidak usah bayar, kantor pemerintah kok parkirnya bayar?

Wednesday, October 08, 2014

10 Fakta Commuter Balikpapan

1. Suka jalan sendiri ataupun rame2 di mall.
2. Kalaupun rame2 paling sama cowok juga.
3. Suka bawa tas ransel besar dan berat jln ke mall.
4. Di dalam tas ransel berisi alat2 lengkap mulai dr handuk, sabun, sikat gigi, odol, hingga alat "kecantikan" lainnya.
5. Tiap malem suka ngecek harga tiket pesawat buat pulang.
6. Suka "ngebajak" taxi dari tempat menginap ke bandara.
7. Suka ngumpul di lounge bandara sebelum boarding, cari makan gratis.
8. Suka nginep di suraton, pak bambang, pak broto, atau hidayah.
9. Punya group whatsapp yg adminnya udah resign.
10. Paling sering menggunakan layanan video call, video chat, skype atau face time.

Friday, September 12, 2014

Berangkat Jam 5 Subuh

Jam 3.45 subuh aku sudah bangun dan langsung bersiap. Tinggal mandi, bikin teh dan memakai pakaian, tanpa sarapan. Jaman dulu, kalau berangkat pagi gini ibuku biasanya sudah menyiapkan nasi plus telor dadar kesukaanku. Jam 5 tepat aku dan istriku menembus kabut pagi menuju bandara Ngurah Rai.

Jalanan pagi itu masih sepi. Kecepatan rata-rata vario merahku 60-70 km/jam. Udara dingin puncak musim dingin menyusup hingga ke sumsum tulang, ke belahan dada, ketiak hingga ke sela-sela selangkangan. Istriku memeluk dengan erat. Di jalanan dekat Kerobokan ku lihat circle K masih buka. Ketika melewati ground zero tampak orang2 berkerumun, ada bule juga orang lokal. Tampaknya mereka mengerubuti dagang nasi jenggo. Di sebelahnya tampak perempuan bertampang PSK sedang dikerubutin laki-laki entah darimana, juga tampak security beberapa diskotik di sekitar sana ikut merayu perempuan binal itu. Kulewati sepeda motor berjalan oleng dgn 3 orang penumpang berwajah ngantuk. Bau arak memenuhi sepenggal jalan Legian pagi itu bercampur aroma nasi jenggo, parfum PSK juga asap tipis truk air minum bertuliskan diktator.

Jam 5.35 kami tiba di ujung bandara. Lalu satu kecupan mesra memisahkan kami pagi itu, aku berjalan menuju counter check in yg berjarak sekitar 500 meter dari drop zone sepeda motor. Pegawai-pegawai bandara mulai berjalan kaki dari tempat parkir yg jauh menuju kantor2 maskapai mereka. Tampak 2 bule membawa backpack besar sekali berjalan menyusuri tepi pagar bandara. Mungkin mereka menginap di hotel di sisi utara bandara.

Setelah check in dan membayar airport tax yg masih 40rb, aku langsung masuk ruang tunggu. Penumpang sudah mulai ramai. Di ujung pintu kamar mandi tampak seorang perempuan berusia sekitar 30-an memegang handphone bermuka masam. Sepertinya semalam tak dapat jatah dari sang suami. Atau gaji bulan ini belum terbayar secara lunas. Mungkin juga atasannya barusan mendamprat karena kerjaannya belum beres namun ia sudah bermain dgn telfon.

Lalu aku duduk di salah satu kursi di ruang tunggu 15. Sudah ada sekitar 30 orang menunggu. Ada yg bengong menahan kantuk, ada yg bermain handphone sambil menunduk, ada yg menelfon entah siapa di seberang sana sambil batuk2. Jam 6.30 panggilan boarding terdengar dengan nyaring. Jam 7 tepat pesawat terbang menuju Surabaya. Jam 6.40 pesawat landing dengan sempurna. Aku melapor ke meja transit lalu coba memajukan jadwal pesawat, namun tak dapat. Tetap mengambil penerbangan jam 8.30.

Aku sarapan di Blue Sky Lounge dan jam 8 tepat kami boarding menuju pesawat Boeing 737-900 NG. Jam 8.45 pesawat take off, 1 jam 20 menit kemudian pesawat landing di Balikpapan. Aku langsung menuju ke bandara lama ke counter Cipaganti untuk melanjutkan perjalanan dengan travel ke arah Bontang. Aku sudah buru-buru tapi ternyata masih menunggu penumpang lain yg belum datang. Jam 12 tepat travel berangkat. Kami sempat berhenti 2x. Pertama di pool Cipaganti di Samarinda. Yg kedua di rumah makan Nuansa lepas dari Samarinda. Jam 2.30 sore ku melahap habis bebek goreng dan es teh seharga 35.000.

Kami lalu lanjut perjalanan yg berliku itu. Gaya menyetir sopir yg kasar membuat aku sedikit mual. Jam 5.30 sore mobil travel menurunkan aku di portal. Lalu menyewa ojek menuju Tg Santan. Jam 6 pas aku tiba di Santan Terminal, menuju housing 7 kamar 4. Badanku remuk, hatiku rindu dan semangatku berkobar. Pekerjaan sudah menunggu dan hatiku mulai pilu. Demi sesuap nasi, demi sekarung beras, atas nama cinta kulakukan semua ini dengan ceria.

Monday, September 08, 2014

Get New Photography Clients

Tips on How to Get New Photography Clients
1. Get Involved
2. Network
3. Build Your Portfolio
4. Blog
5. Creative Projects
6. Maintain Relationships

Source: dps

Friday, September 05, 2014

Lupa Matikan HP di Pesawat (2)

Pernah lupa matikan HP saat naik pesawat? Saya pernah dua kali. Pertama sekitar November 2003 waktu itu naik pesawat Pelita Air Dash 7 dari Balikpapan ke Tanjung Santan (Kaltim). Pesawat berpenumpang sekitar 50 orang itu mempunyai seat menghadap belakang pada baris paling depan. Saya duduk pada salah satu seat itu, berharap dekat dengan pramugari. Sekitar 5 menit mengudara HP saya bunyi, ada sms masuk dan serta merta saya kelabakan ngeluarin HP dari tas butut. Waktu itu jaman HP Siemens C40 dgn bunyi SMS yg panjang. Sengaja pilih ring tone panjang biar ketahuan punya HP :) Tapi malunya bukan kepalang. Padahal SMS-nya juga bukan sms penting2 bgt, bukan juga sms mama minta pulsa. Juga bukan sms dari pacar, karena waktu itu saya masih jomblo.

Yang kedua sekitar November 2008. Saat itu naik Garuda dari Makassar ke Denpasar. Berhubung konsentrasi jadi pecah karena di sebelah duduk perempuan muda mirip Gemma Arterton (bintang film Clash of Titans), maka alasan lupa mematikan HP tepat sudah. Ketika itu duduk di seat 4A (row paling depan), dan perasaan HP sudah benar2 dimatikan. Begitu landing di Bali, maksud hati mau menyalakan HP eh kok HPnya masih nyala dgn ceria. Perasaan jadi tak menentu karena merasa bersalah. Syukurlah penerbangan ini aman dan selamat.

Saya juga sering melihat masalah mematikan hp di pesawat. Suatu ketika pada penerbangan dari Surabaya ke Balikpapan, seorang pramugara Lion Air meminta seorang bapak bertampang preman mematikan HP ketika sudah berada di pesawat. Namun si bapak marah-marah hebat, malah menantang si pramugara untuk "menyelesaikan" di luar. Saya yakin lain cerita jika yang meminta adalah pramugari. Kali aja si bapak belum sarapan, atau debt collector sedang menagih2 utangnya sehingga dia berubah jadi sangat sensi hari itu :)

Suatu ketika juga pernah mendapati ibu-ibu menyalakan HP ketika sudah di atas pesawat. Saat itu penerbangan malam dari Surabaya ke Balikpapan. Sekitar 1/2 jam sudah mengudara dan di sebelah kiri saya duduk ibu-ibu tua sekitar 57,5 tahun merogoh tas dan mengeluarkan HP. Serta merta memecet tombol power kemudian HP nyala. Saya panik, "Ibu, ngapain nyalain HP, tidak boleh nyalain di pesawat loh." "Nggah mas, saya cuman lihat jam," jawabnya ringan seraya mematikan kembali HP Nokia-nya yg butut. Gubrakkk.... Yah si ibu, kan bisa nanya saya. Gak liat apa jam swiss army segede gaban di tangan kiri saya :)

Yang paling aneh adalah saat baru saja take off dari Denpasar ke Surabaya, saat itu naik Garuda. Saya duduk di 18A (kiri pesawat). Roda belakang pesawat masih nempel di runway, tapi ada suara ring tone dari ujung 18F (ujung kanan pesawat). Eh ada bule jawab telfon dengan santainya. Mau ngasi tau tapi saya malu teriak-teriak. Akhirnya saya colek bapak di sebelah saya, lalu bapak sebelah saya colek bapak di sebelahnya, hingga akhirnya si bule di colek oleh bapak-bapak yg duduk persis di sebelahnya. Si bule (padahal bule loh), mematikan HP-nya dgn manis. Aneh kan ceritanya? Nggak ya? Ya sudah...

Dan ini cerita nyalain HP di atas pesawat pada penerbangan terakhir saya, Citilink dari Surabaya ke Denpasar. Saat itu pesawat berputar-putar selama 1/2 jam di atas pulau Bali karena ada pergerakan pesawat kepresidenan di Ngurah Ray. Kira-kira 2 menit sebelum pesawat menginjak runway, ada suara-suara ring tone pesan whatsapp masuk. Suaranya dari sekitar tempat duduk saya, cuman tidak tahu orangnya yang mana. Edan ini orang, udah tahu lagi proses landing eh malah nyalain HP. Kemudian dari speaker saya dengar pramugari berujar, "Mohon tidak mengaktifkan telepon genggam, hingga Anda berada di terminal kedatangan." Pesawat landing dengan sempurna, syukurlah dan diujung sana saya lihat pesawat kepresidenan Pak SBY yang baru-baru ini mau dijual ama Jokowi (atau ibu MW?).