Thursday, March 27, 2008

Go Back March 2008

Roda-roda bergelinding pelan seiring sang mentari beranjak tambah tinggi. Warna merah di atas roda 2 bergelinding pasti ke arah timur mengejar mentari. Adikku yang sungguh baik hati menemaniku siang ini ke tempat mangkal pesawat yang 1 jam dari rumahku. Jalan-jalan begitu lengang karena masih suasana hari raya. Sehingga tak sampai 1 jam perjalananku tuntas dan adikku langsung berlalu memecah keramaian mobil antrian di tempat perhentian mobil-mobil pengantar.
Aku gembira karena teman tiketku sudah datang dan dengan setia mengantar tiket Garuda tujuan Balikpapan langsung ke airport dan aku hanya tinggal membayar. Karena pesawat boarding tak sampai 1 jam lagi, aku langsung menuju check in counter membawa serta 1 ransel hitamku yang berisi bekal cuman 2 potong kaos oblong, 1 set laptop, dan peralatan mandi seadanya. Sementara teman tiketku ku suruh masuk dan menunggu manis di balik meja-meja mewah Solaria, tempat kita pernah bertemu dulu, sekali.
Ternyata antrian check in tak membuat aku pusing, hanya ada 2 orang di depanku. Dua orang bapak-bapak aneh yang kayaknya baru pertama kali naik pesawat. Ketika tiket-tiket sudah dikembalikan dan petugas mengatakan "Silahkan menunggu pesawat di ruang tunggu 17". Serta merta dua orang bapak-bapak tadi malah baru menyatakan bahwa ada barang yang musti ditaruh di bagasi pesawat. Otomatis, waktu ngantri jadi tambah 5 menit, sungguh katrok, sekatrok waktu aku pertama kali naik pesawat dulu. Setelah membayar airport tax, aku langsung berlalu ke luar menuju tempat yang kujanjikan tadi, yang kami janjikan, yang ia sudah menunggu dengan manis.
Ketika hampir masuk ke pintu-pintu restoran mewah nan bersih itu, para petugas yang semuanya cewe-cewe menyapa dengan ramah dan tamah. "Selamat siang kak, silahkan masuk"Aku menemukan teman tiketku sedang memilih minuman di tempat duduk paling sudut di ruangan yang tertata apik oleh desainer terkenal itu. Bangku-bangku berwarna merah dengan tempat duduk sofa indah berwana senada. Dinding-dinding diwarnai kehitaman memberikan kesan macho dan pria punya selera. Orang-orang yang duduk-duduk rata-rata laki-laki paruh baya dengan penampilan bisnisman dan setelan jas yang sangat rapi dan meyakinkan. Berbeda dengan aku, hanya modal kaos oblong dan celana jeans model lama dan juga sepatu yan sudah 3 tahun selalu setia menemani setiap perjalanan pulang pergi ini.
Diujung sana bergerombol petugas-petugas wanita seksi berpakaian sewarna dengan dinding-dinding ruangan, ngerumpi manis tapi siaga menerima panggilan pelanggan yang hendak memesan minum ataupun sekedar bertanya garing. Dengan sejentik jari salah seorang petugas datang. Mukanya putih bersih namun tangannya jauh lebih hitam dan berbulu tipis-tipis pula. Ternyata ia sedang over dosis pemakaian bedak pemutih wajah, maka jadilah ia seperti topeng ondel-ondel seperti ketika pesta tanjidor digelar di seputaran batavia tempo dulu. Ku pesan lemon tea dan teman tiketku pesan ice tea. Kami terlarut dalam obrolan dengan suasana yang sungguh sejuk dihiasi jendela-jendela kaca berhiaskan tirai-tirai indah berwarna putih bersih. Ia terlihat begitu manis siang itu, dan aku yakin aku tak sedang dilanda mabuk oleh alkohol ataupun sakau oleh narkoba. Baju merah jambunya sangat manis bersanding dengan celana kecoklatan, menempel indah di tubuhnya indah. Wajahnya, siang itu, sungguh rupawan, lebih rupawan dari biasanya. Tai lalat kecil-kecil yang menghias tepi-tepi bibirnya membuat aku ingin memandang lebih lama, juga karena 2 minggu ke depan aku takkan melihat dia walaupun secuil saja. Rambutnya yang hitam panjang memayang mengurai dan poninya yang pantas menghias wajahnya bak bulan purnama.
Ia hanya mengoceh riang ketika wajah imut itu aku tatap untuk beberapa saat sambil melamun dan akhirnya aku terkesiap, tersentak, lamunanku dibelah oleh datangnya petugas mengantarkan minuman yang kami pesan tadi. Lalu bibir-bibirnya bertemu untuk menjepit sebatang sedotan mini warna putih. Dan cairan-cairan ice tea mengalir dengan ajaib, menerobos lubang sedotan, mengalahkan gravitasi menembus di sela-sela bibir indah itu. Dan ketika cairan itu telah tertelan, serta merta ada riak kecil meronta di lehernya yang putih mulus dan tiada cela.
Ku larutkan juga lemon tea kesukaanku dalam balutan penuh nafsu, haus karena di perjalanan tadi udara panas cukup banyak menguapkan keringatku. Pesona wajahnya masih mencoba merobek-robek dinding hatiku, dan "plung" ada sesuatu yang jatuh. Ia bertanya, "Apanya yang jatuh?". "Hatiku", aku menjawab lirih dan pelan. "Oh sungguh romantis dan so sweet to hear that", katanya lagi. Dua botol di atas meja menjadi saksi bisu cerita romansa yang berlangsung sekejap tadi. Botol-botol berisi kecap dan saos itu seolah menjadi bumbu-bumbu penyedap di setiap degup jantung dan hembusan napas-napas kami. Aromanya yang khas, aku, kami terbius dalam suasana yang tak diperkirakan sebelumnya, ia tersenyum manis, semanis kecap di botol nomor 1. Dan ia melirik manja, senikmat saos-saos tomat di botol kedua. Sungguh istimewa senyum kamu hari itu, dan luar biasa, seorang pemuda yang sudah lama terlena bisa mengaku jatuh hati pada senyum yang sudah lama ia damba.
Waktu yang mempertemukan kami, dan waktu juga yang membuat aku harus segera beranjak dari tempat itu, dan juga dia. Aku boarding tepat pukul 12 siang, dan ia juga, bekerja di kantor jam 12 siang selama 8 jam ke depan. Dengan berat hati kami beranjak dari sofa-sofa romantis yang juga menjadi salah satu saksi tuli dan bisu siang itu. Pantat-pantat kami seolah lengket dan menancapkan akar tunggang yang sangat dalam, sehingga sangat berat rasanya untuk berdiri. Namun kami harus bangkit dan segera panggilan boarding mendengung dari balik speaker-speaker yang dipasang di setiap plafon-plafon bangungan yang megah di Bandara internasional itu.
Lalu kulewati pintu-pintu yang dijaga petugas berpakaian seragam dan rapi, badannya tegap dan juga ramah. Suaranya tegas namun penuh kesopanan, khususnya kalau yang dilayani adalah bule-bule yang di-raja-kan. Lalu ku masukkan tas hitamku ke meja-meja berjalan dan diujung sana sudah menunggu petugas-petugas berseragam, kali ini wanita dengan tubuh seksi dan tinggi. Tatapannya liar, lirik sana lirik sini, bagaikan penari pendet yang sedang menjiwai tariannya. Rata-rata tingginya setinggi aku atau lebih tinggi. Di sini ia hanya melihat-lihat. Padahal sesungguhnya dan seharusnya ia bisa merapikan barisan bule-bule katrok yang memenuhi dan malah ngerumpi dengan bawaan barang-barangnya yang bejibun di atas trolley, menutupi akses untuk mengambil barang yang lewat meja-meja berjalan tadi. Inisiatif kadang diperlukan untuk situasi yang tidak biasa seperti itu, yang mungkin tidak ada dalam buku petunjuk operasi yang didapat dari perusahan tempat ia bekerja, namun tersimpan rapi dalam lemari di bawah tumpukan baju yang jarang dipakai, terpendam.
Tak berapa lama, akhirnya kumasuki pintu-pintu pesawat dan aku duduk di deretan 12 di pinggir jendela. Ternyata di sampingku kosong sehingga aku bebas duduk sesuka hati di antara 2 kursi di samping kananku. Di depanku juga hanya terisi satu seat, bule dengan tampang tak bernafsu. Di belakangku, enam kursi kosong melompong, bahkan kecoak pun tak kan mau menduduki. Lalu setiba transit di Makassar, penumpang menuju Balikpapan disuruh turun selama 45 menit karena kursi-kursi tadi akan dibersihkan, dibersihkan daripada kecoak-kecoak yang tampak semarak akhir-akhir ini.
Ku masuki pintu kedatangan dan ku tukar boarding pas dengan 1 lembar kartu bertuliskan T-R-A-N-S-I-T. Ruang tunggu yang hampir sama luasnya dengan ruang tunggu pesawat di Balikpapan ataupun Denpasar hanya berisi 1 ruang rokok yang blowernya tak berfungsi sama sekali. Sehingga dari luar tampaknya ruangan penuh kabut tebal menggumpal menutupi wajah-wajah perokok aktif di dalamnya. Aku coba masuki dan di dalam sudah ada beberapa orang. Dua set kursi dengan kapasitas 3 orang di pasang membentuk huruf L di tengah-tengah agak ke pinggir ruangan itu. Dua orang sedang duduk di kursi satu, dan 2 orang lagi sedang duduk di kursi satunya. Namun kursi jadi penuh karena ia duduk dengan angkuh dan arogan, seolah kursi itu milik mereka. Percis di tengah-tengah berdiri satu etalasa berkaca kusam dan di dalamnya tergeletak begitu saja kumpulan rokok (atau hanya kulit pembungus rokok saja?) dan kumpulan korek gas yang entah apa maksudnya menaruh di sana. Salah seorang di antara perokok yang duduk-duduk arogan tadi berdiri lalu menatap dengan muka aneh dan memegang-megang etalase kumal tadi. Melihatnya dan mencoba mengintip dari bawah namun ia seolah tak menemukan apa-apa, ia lalu mencoba melongok dari atas, tak jelas apa yang dilakukannya. Topinya yang lusuh, bajunya yang seperti tak dicuci 1 minggu dan sendal jepit menghias kakinya yang seperti jukung nelayan, lebar, membuat aku ngeri ketika masuk tadi aku ditatapnya dengan pandangan aneh, seperti manusia purba pertama kali melihat api. Aku heran, ada yang salah dengan aku ato dia yang "salah". Aku buang muka dan jika waktu itu boleh, sudah kubuang juga ludah yang terkumpul mendadak karena kejengkelan yang juga muncul tiba-tiba. Tak diduga tak disangka si pemuda compang-camping tadi lalu duduk di bawah, di lantai di pinggir kaca-kaca jendela lebar yang menghadap landasan terbang. Ia kembali seperti heran dan sungguh heran melihat pesawat-pesawat berukuran ratusan kali ukuran tubuhnya sedang terbang membelah angkasa. Tak tahulah aku, dunia terasa berputar terbalik saja.
Kemudian, tak sampai 45 menit petugas memanggil kami untuk segera naik. Dalam sekejap mata kami sudah mendarat di Sepinggan dengan lembut, mungkin ini landing paling lembut yang pernah aku alami sepanjang tahun sepanjang bulan aku melewati hari-hari mudik dan balik di atas pesawat. Lalu langkahku berjalan menuju angkot dan mengantarkan aku ke pojok terminal tempat aku biasa mengisi perut untuk makan siang. Jam 3 sudah dan ring tone segerombol pesan-pesan basi karena harusnya sudah sejak tadi tiba, namun jadi tertunda akibat kumatikan ponsel dalam pesawat. Pesan dari seorang teman yang ibunya jualan nasi bungkus di perempatan jalan di kampungku tercinta. Yang tercinta adalah kampungnya, tapi sebenarnya ia juga kucinta, namun karena ia sedang menjalin cinta, maka tak kuasa aku ikut mencinta, sungguh ironis. Ia berkata bahwa ia berangkat hari itu juga ke Jogja, tak seperti katanya dulu sehari sebelumnya. Namun ia lebih dulu 4 jam start dari aku.
Ku duduk di warung makan murah meriah di pojok terminal yang panas. Panas karena kipas-kipas angin yang biasanya berputar segar, sore itu tak berkutik. Listrik padam dan seluruh jiwa juga padam bersama kucuran keringat karena siang itu panas dengan ayam bakar sambal yang pedas bukan main, sorenya bikin aku mencret. Tiga orang perempuan muda, mungkin seumuran aku atau lebih muda duduk di seberang tempat dudukku. Dua orang menghadap aku dan 1 orang mempunggungi aku, sehingga pandanganku hanya beradu pada 2 orang sebelah sana. Salah seorang cukup rupawan bahkan sering mencuri pandang ketika aku sedang rakus menyantap ayam bakar Banyuwangi, karena aku lapar, siang ini belum sempat kuisi perut dengan nasi.
Tak lama, 1 orang wanita kumal dan lusuh di pojok sana keluar warung dengan hanya mengucapkan "Sudah ya, mbak" sambil berlalu begitu saja dengan cengangas-cengenges tak karuan. Si pedagang berteriak "Bayar dong mbak!" diulang berkali-kali namun si wanita lusuh itu tak menggubris, entah gila atau tidak waras. Tapi yg jelas ia sudah makan enak dan lahap dengan gratis. Ternyata, salah satu trik makan gratis adalah dengan berpura-pura jadi orang gila, masuk warung makan dan pesan sepuasnya, seenak-enaknya. Nasib si wanita sedang beruntung, karena pemilik warung merelakan begitu saja kepergiannya, hitung-hitung amal katanya (tapi dalam hati), walaupun raut mukanya memendam kecewa. Dua orang pelayan laki-lakinya sebenarnya bisa menjadi "preman" penjaga warung nasi itu, percuma rambut di cat warna-warni dan badan tattoo-an (meskipun tattoo tak permanen), tapi mbentak orang tidak waras aja tidak berani. Harusnya ia menutup muka dan berkata "Harus kusembunyikan dimana mukaku?".
Sore itu kuakhiri dengan meluruskan badan di sejengkal ranjang dingin di tempat biasa. Sungguh indah cerita hari ini. Dan tak kuasa aku akan lupakan untuk 2 minggu ke depan. Jika ku rindu, akan aku ingat selalu cerita ini, dan ketika aku benar-benar rindu, akan kubaca tulisan ini dari awal hingga akhir dengan berkhayal tingkat tinggi. Kelak aku bisa menyatakan impian itu, semoga.

DPS-MKZ-BPN 10 Maret 2008
Surattown, 11 Mar 08 06:45-08.37

Saturday, March 15, 2008

Ha Pe yang Gaya

Pada awalnya teknolgi HP (handphone) diperuntukkan bagi pengguna yang suka mobiling atau bergerak kesana kemari. Fungsi telefon secara umum adalah untuk bertukar informasi berupa apa saja, baik untuk berhubungan dengan client, keluarga atau siapa saja. Pada masa kini, fungsi HP menjadi lebih beragam, mulai dari bisa dipakai untuk kirim-kiriman gambar, video bahkan untuk tele converence ada pada fitur-fitur HP yang baru, yang didukung oleh operator jaringan tentunya. Pada awal dan sekarang, fungsi HP juga sering bergeser dan kebanyakan hanya dijadikan hiasan atau gengsi-gengsian. Fungsi utama sebagai sarana komunikasi hanya terpenuhi beberapa persen, selebihnya gaya-gayaan.

Seorang teman yang mempunyai penghasilan cukup tinggi, berganti HP setiap keluar edisi terbaru, HP lama dijual dengan harga sekedarnya, mungkin pikirannya, daripada dibuang, lebih baik jadi duit walaupun sedikit. Justru dari sekian banyak yang pake HP merk terkenal dan berharga mahal, hanya sedikit yang memanfaatkan fasilitasnya -yang sungguh sangat lengkap- dengan maksimal. Paling mentok punya HP hanya digunakan untuk SMS dan nelfon-nelfonan. Nelfon juga biasanya membicarakan yang tak begitu penting. SMS juga kebanyakan tak bermutu. Main game juga menjadi fungsi HP jaman sekarang. Killing time gitu loh...
Yang paling memalukan adalah ketika melihat orang yang punya HP mahal-mahal namun tak bisa menggunakan. Lucu kan? Lebih lucu lagi, kalau ada temannya menggunakan HP model lama yang segede gaban, dibilang kemana-mana bawa batu bata, siapa yang tak jengkel dibilang begitu. Fungsi yang sedikit bermutu adalah ketika HP bagus-bagus dipakai untuk akses informasi lewat internet. Tentunya yang dibuka adalah situs-situs yang memang diperlukan untuk menambah informasi atau ilmu.

Memang jaman sekarang HP sudah jadi kebutuhan yang sangat mutlak rasanya. Ibarat jaman dulu, radio. Masing-masing orang punya radio saku yang bisa dibawa kemana-mana karena hanya menggunakan power batu battery, harganya pun seperti kacang goreng. Sama dengan HP, seluruh kalangan mulai dari eksekutif muda hingga tukang becak hampir punya HP minimal satu. Bahkan sungguh pemandangan unik jadinya jika booking atau panggil becak dengan SMS, perpaduan kemajuan teknologi dan pelestarian budaya yang mempesona.

Saking 'pentingnya' arti sebuah HP, sehingga ketika HP kita tertinggal di rumah jika pergi ke suatu tempat, rasanya seperti kehilangan jenggot. Hidup terasa susah. Dunia terasa luas banget. Kota seluas 10 km persegi rasanya seperti seluas dunia, apa-apa sulit dicari. Itulah efek buruk karena kita sudah sangat tergantung dengan benda sakti itu.

Yang paling parah adalah anak-anak kecil jaman sekarang sudah pada jago main HP. Bahkan di kampung-kampung sekalipun, anak-anak kelas 1 SD sudah fasih memainkan tombol-tombol untuk mengirim SMS atau pun sekedar main game. Seorang anak di sebuah desa yang bersekolah di kelas 4 di suatu SD kampung tak mau masuk sekolah karena tak dibelikan HP oleh bapaknya. Si anak mungkin minder melihat teman-teman yang lain bawa HP dan saling pamer. Jadilah anak menderita dan malah merusak pendidikan itu sendiri. Untuk kasus seperti ini, harusnya sekolah memberlakukan aturan lebih ketat agar efek-efek teknologi maju seperti ini tak menjadi efek buruk bagi perkembangan si anak dan pendidikannya. Apakah harus pemerintah yang bertanggung jawab kalau sudah begini? Apakah orang tua yang tak mau belikan HP yang disalahkan? Apakah si anak yang manja yang disalahkan?

Kembalilah ke jalan yang benar, ke jalan semula, apa sebenarnya fungsi HP. Jangan diperbudak teknologi dan jangan mau dijajah kedua kali oleh Jepang atau negara barat dengan produk-produk modern-nya.

Gudang komputer; Malming 15 Mar 08





Sunday, March 09, 2008

Kesepianku

Orang-orang pada pulang, orang-orang pada pergi. Orang-orang berlari menjauhi keramaian, mendekati keheningan, melihat dalam diri, refleksi jiwa dalam genangan dosa ratusan detik bahkan ribuan dan jutaan menit yang telah lalu.

Orang-orang tak berani datang, orang-orang tak berani bertandang. Orang-orang tak berani menyalakan api dan orang-orang tak kuasa bersenda gurau menyuarakan kegembiraan dan suka ria mereka dalam hingar bingar suara gamelan. Orang-orang berlari dari dunia nyata, istirahat dalam gelap. Hidup bagai hutan tertutup daun belantara yang rapat, gelap dan tiada cahaya menembus mega. Gemericik air, dengus nafas dan degupan jantung sahaja yang menghiasi irama hidup saat itu, Sukra; 7 Maret caka 1930. Tepat juga, setahun yang lalu, salah seorang yang paling kusayangi, pergi meninggalkan cinta dan ketidakberdayaanku. Ia hilang bersama gelombang. Ia pergi tanpa kata-kata secuilpun pada dunia, bahkan padaku. Ia hanya tersenyum sambil menari, ia hanya menari sembari menangis. Keceriaan yang kudambakan tak mampu kini terobati, hilang bersama kesepian itu, kesepian hari ini.

Kecemburuanku pada dunia membuat aku frustasi. Kecemburuan pada sang mentari membuat aku merasa sepi. Sang dewa siang mampu diam, sepi dan senyum yang pasti, bersinar tanpa henti dan tanpa emosi yang menjerumuskan. Ia laksana tetes embun memecah karang, ia laksana jarum membelah kain jahitan. Sendiri dan tanpa teman, sanggup menggapai langit, memecah hari, meronta aku di dalamnya.

Hari itu, sejenak kutinggalkan dunia, menggapai mimpi tapi bukan dalam tidurku. Aku mencoba hening dalam keramaian suara rintik-rintik air. Aku mencoba hingar dalam setetes noda dalam darahku. Aku mencoba bangkit dari keterbelakangan naluri yang selalu menguasai setiap gerakku. Hatiku terbang, membubung ke langit bvah, melesat dan berekelebat menembus awan. Lalu aku terjungkal dalam dunia di atas awan yang hening, sepi dan matahari bersinar terang, silau, menyayat hati, pilu, menusuk jiwa.

Aku terlena, tatkala sang dewi impian pujaan hati meraih tanganku dari jauh di sana. Lewat kiriman kata-kata indah, menggoda dan mengajakku pergi ke nirwana. Ke dunia hingar di antara sepi yang seharusnya hening. Sang dewi yang sejak lama ku damba kini mencoba menggoda jiwaku yang rapuh. Mengajak aku terbang dan mengusik keheningan ini. Aku pun menghentikan letusan gunung dalam jiwa, agar ia tak terlampau parah ketika meledak, agar ia tak terlampau merah ketika marah dan tak terlampau gembira ketika riang bertandang. Ketika itu juga, aku singkapkan tangan yg membuat batinku gelap, aku lalu terbang jauh dan berusaha melanjutkan heningku hingga sang dewa siang tertelan sang mega di ufuk sana. Tuhan, kabulkan doa hamba yang risau ini...

Pandak Gede, Kamulan Titiang 9 Maret 2008





Thursday, March 06, 2008

DPS-BPN via SBY 11 Feb 08

Malam ini aku kembali terduduk di sudut sebuah lounge di sudut benderang bandara Juanda Surabaya. Suara-suara panggilan dari mesin pemanggil mendengung-dengung di telingaku yang kian hari kian bertambah tuli akibat malas memakai earplug ketika suara-suara bising mesin-mesin sejenis mesin-mesin pesawat tempur berkumandang memecah gelombang samudera di tengah laut selat Makazzar tempat ku mendulang uang demi cinta.

Harusnya pesawat berangkat jam 17.40 waktu Surabaya, tapi dari pengumuman para customer service bandara, pesawat ditunda keberangkatannya menjadi pukul 20.45. Oh lama sekali dan semakin lama juga rasanya karena sudut lounge yang serba mewah -dengan sofa-sofa yang tak ada di rumah ini- seperti kosong karena tak ada teman bersenda gurau maupun bercanda ria, seperti ketika aku bertemu dengan teman-temanku bekerja.

Suara-suara orang memang ramai di ujung sana, yang sibuk mengambil makanan dan minuman gratis hanya dengan modal menyerahkan kartu kredit bank tertentu dan kita bebas merdeka tanpa dosa makan sepuas dan sekenyang-kenyangnya. Bahkan mungkin ada pula yang membawa pulang dengan mengambil jatah lebih-lebih lalu membungkusnya dengan plastik bekas pembungkus buku, kemudian memasukkannya satu persatu ke dalam tasnya yang sudah penuh dengan barang bawaannya sendiri. Tapi itu hanya anggapan dan kira-kiraku saja. Dan tampaknya anggapanku salah. Terlihat kebanyakan di antara orang-orang yang lalu lalang tadi sudah dengan beringas dan rakus memenuhi perut-perut mereka yang kelaparan sejak sore tadi karena sebagian besar pesawat ditunda. Entah karena cuaca buruk atau memang maskapai-maskapai itu hobby delay, ini yang kurang aku cermati. Dan aku anggap tidak tahu saja demi kebaikan kita bersama.

Sore tadi adikku dengan setia mengantarkan aku ke Bandara naik sepeda motor yang jarang dicuci. Udara tadi sore begitu panas sepanjang jalan dari rumah ku di kampung ke Bandara yang berjarak 1 jam. Sebelum mencapai bandara, aku mampir ke travel langgananku setelah sudah seminggu yang lalu ku pesan ke salah seorang pegawai travel yang juga teman baikku. Adikku yang tampak lelah dan capai menunggu aku menyelesaikan urusan yang tidak begitu lama itu. Dan akhirnya dengan melalui pintu-pintu penjaga karcis bandara kami berlalu dan aku diturunkan di belakang mobil mewah Lexus di depan pintu keberangkatan domestik. Baru saja kuinjakkan kakiku melewati loket cek in, bapakku yang sudah semakin tua meneleponku dengan sabar. Menanyakan apakah semuanya baik-baik saja dan lancar. Aku pun mengiyakan dan tak berapa lama suara telepon putus menutup keheningan pintu masuk bandara yang sangat ramai namun tak ada suara manusia yang teriak-teriak seperti di pasar di kampung dekat rumahku.

Tampak 2 orang bertampang tionghoa terduduk layu di sudut sebelah sana. Yang satu sibuk membaca buku dan satunya terduduk lebih lemas seakan sudah menunggu pesawat delay lebih dari 7 hari. Yang sedang membaca buku tampak tenang dan menikmati kebosanan sore itu. Sedangkan bapak yang satunya tampak gelisah dan juga sekali-sekali tampak mengelus-ngelus HP kesayangannya seakan-akan hendak mengetik SMS. Kemungkinan dia sudah kehabisan ide dan kata-kata, karena sudah SMS-an sejak tadi, bahkan begitu aku datang mereka tampaknya sudah lama berada disana. Piring-piring kecil bekas makanan menjadi saksi bisu di atas meja di depan sofa-sofa mewah yang diduduki 2 orang tadi. Dan bahkan mereka juga tampak kekenyangan terbukti dari sorot matanya yang sayu hendak tidur dan juga terlihat tumpukan-tumpukan mangkuk dan gelas-gelas yang sudah tak rapi dan tak sedap lagi dilihat dengan mata kepala sendiri. Cukup mengusik pandanganku malam ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul 20.15. Berarti 30 menit lagi panggilan pesawat Lion Air menuju Balikpapan akan dikumandangkan dengan jelas dan tegas dari mesin-mesin bersuara wanita cantik nan menggoda iman. Di sela-sela itu semua, kembali tampak petugas-petugas kebersihan lounge ini datang tergopoh-gopoh sambil membawa kereta dorong tempat gelas-gelas dan piring-piring bekas yang siap dicuci oleh sekelompok orang di belakang sana. Si petugas juga menyapu habis piring dan gelas di atas meja di depan 2 orang bapak-bapak tionghoa tadi. Dua orang itu hanya menatap pasrah ketika meja-meja mereka jadi bersih dengan sapuan lap-lap bersih dari tangan-tangan bersih nan mungil petugas lounge yang salah seorang tampak sungguh manis ayu mempesona. Juga menggoda jiwa. Tak layak kau jadi petugas bersih-bersih, batinku berkata. Tapi tak kuucapkan, hanya kutuliskan di sela-sela huruf-huruf di balik jendela Notepad ini.

Kicauan suara-suara mesin pemanggil kembali bergema dan kali ini memanggil penumpang Mandala tujuan entah kemana aku tak menyimak dengan serius. Hanya lampu-lampu baca yang berderet-deret di depanku yang menghiasi malam yang udaranya semakin dingin di ruangan mewah ini. Aku semakin membisu tatkala hiasan-hiasan berwarna merah yang digantung di bawah lampu-lampu baca tadi bergoyang-goyang seperti memanggil-manggil aku untuk ikut menari diiringi suara piring, gelas dan sendok garpu beradu akibat gopoh-gopoh petugas yang salah satu agak manis tadi kembali beraksi. Petugas-petugas itu sungguh setia dan semestinya mendapat penghargaan yang tinggi sebagai pelayan yang baik karena tanpa lelah di wajahnya yang selalu dihiasi senyum terpaksa bekerja hingga larut malam seperti ini. Entah dihitung jam lembur atau bagaimana, yang jelas mereka patut mendapat kompensasi lebih karena sudah bekerja dengan dedikasi tinggi, dari kacamataku yang sudah semakin rabun ini.

Di tengah-tengah ruangan berdiri dengan kokoh tiruan pohon beringin yang terbuat dari plastik. Pohon beringin itu dihiasi lampu-lampu malam yang menggoda jiwa. Menjadikan suasana Lounge ini semakin bercerita meskipun ceritanya hanya itu-itu saja dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, setiap menit juga setiap detik. Karena pohon yang daunnya juga terbuat dari plastik ini, tak kan pernah bertumbuh dan berkembang daun-daunnya juga tak bertambah banyak seperti pohon-pohon asli di luar sana yang nyata. Apakah semua pemandangan ini juga pemandangan semu yang saksikan karena suasana hatiku yang sedang semu?Tak penting itu semua yang penting kembali kunikmati malam yang indah ini yang sekarang dibalut suara-suara musik dari balik meja resepsionis yang dijaga petugas super seksi yang siap melayani siapa saja yang menyerahkan dengan pasrah kartu kreditnya yang bisa dihabiskan belasan juga rupiah.
Akhirnya ku terpana dan sempat terdiam menatap seorang wanita muda yang lewat di depanku namun agak jauh di sana. Seperti wajah-wajah yang aku kenal dan sering kusaksikan di TV di acara infotainment oleh TV-TV swasta ibukota. Apakah dia benar BCL? Aku tak terlalu yakin karena mataku yang agak kurang ini juga ikut ragu apakah benar. Dan dugaan kuat BCL itu semakin gugur karena aku juga didakwa mengalami minus 1/2 setelah kuperiksakan di sebuah toko optik murahan di daerah jalan Diponegoro Denpasar.

Ah sudahlah lupakan saja. Karena sesuai janji petugas jaga counter tadi, berarti 15 menit lagi panggilan pesawat akan diselenggarakan dengan merdu, seharusnya. Dan mudah-mudahan saja tundaan ini tak berkelanjutan sehingga aku tak tiba terlalu malam di Kota Minyak yang kian hari kian panas itu. Tunggu aku walaupun malam sudah larut, kawan!

===ternyata aku sampai jam 02.00, landing di kota minyak malam itu, sungguh mengecewakan maskapai yg doyan delay itu. bahkan jam 02.30 subuh itu juga, penerbangan lanjut ke surabaya lagi===



Saturday, March 01, 2008

Hari yang Lelah

Hari kemaren, awal sekali, hari pertama di bulan Maret ini, aku cukup senang di sela-sela lelah yang mengguyur tubuh seiring hujang yang mengguyur bumi. Jam 7 pagi sudah ku mulai roda-roda berputar menuju sunset road dan berlanjut ke lantai 3 sebuah pusat perbelanjaan. Menuju seorang pakar fotografi seni yang akan berkoar-koar dengan karyanya yang indah dan mempesona. Pagi itu memang dingin dan air mandi yang aku tuang pelan-pelan di badan ini membuat tubuh menjadi segar dan hari-hari seakan bersorak menyemangati diriku yang sempat terkejut dengan dada bapakku yang sempat tersentak.

Namun ku lanjutkan saja perjalanan pagi yang macet oleh truk-truk pengantar barang Jawa-Bali yang bergelinding lambat-lambat dan pasti menuju tujuan yang pasti. Jiwa-jiwa semakin berkobar tatkala satu kendaraan melaju dengan kencang dan aku berusahan mengejar dengan menekan gas lebih dalam sehingga mesin-mesin berputar lebih kencang. Bahan bakar mengucur lebih deras dan tuas-tuas gigi-gerigi berada dalam kondisi puncak, berdesing, melesat membelah embun pagi yang masih mengerubuti jalan-jalan aspal ini.

Akhirnya satu setengah jam kemudian aku sudah sampai dan suasana masih sepi, masih ada 1/2 jam lagi untuk memulai ocehan-ocehan yang tak kan membosankan nanti.

Lalu acara dimulai dengan promosi produk, kemudian penjelasan panjang lebar oleh sang ahli. Acara sedikit dilukai dengan hadirnya seorang pakar dan seorang dosen yang berkomentar miring bahkan sangat negatif dan juga kritis. Foto-foto jama sekarang sudah penuh dengan sentuhan digital dan sama sekali hilang nilai rasa fotografinya. Spontan peserta lain berkobar amarahnya dan menghujat sang 'penghina'. Dia keluar dengan tenang dengan muka ditutupi bau busuk dari mulutnya sendiri.

Acara ditutup dengan acara motret model dan print gratis. Lalu segera kuberanjak ke parkir, 5 detik kututup pintu mobil yang aku naiki, hujan deras mengucur seolah dituang dari langit, sangat deras, bahkan batang-batang penghapus air di kaca depan mobil sudah berputar dalam kecepatan maksimum. Perjalanan terus kulanjutkan ditemani suara hujan dan suara pendingin ruangan yang cukup keras. Suara-suara musik dari balik speaker-speaker murahan hanya sebagai penghias sore itu. Dan aku sampai ke tujuan, rumahku, 1 setengah jam berikutnya. Dan aku langsung menjemput kedua orang kerabatku dan mengantar balik ke habitat dan sampai dalam 1 jam berikutnya dalam guyuran tetes hujan yang sudah tercucur sejak sore hingga malam ini. Hari yang melelahkan namun menyenangkan hati.