Langit siang di bulan Juli terlihat begitu bersih. Warnanya biru pekat hampir tidak ada awan. Angin cukup kencang untuk menerbangkan layangan kami di tengah-tengah sawah di belakang rumah. Para petani tampak sibuk menaikkan padi hasil panen mereka ke mobil pickup merah yg sejak beberapa hari terakhir mondar-mandir membawa gabah hasil panen petani. Sopirnya yang giginya ompong di bagian depan selalu tersenyum saat lewat di depan kami.
Aku berjalan mendekati Yan Pande yang sedari tadi bersembunyi di balik pohon gamal, sambil sesekali memicingkan mata melihat layangan ikannya mengangkasa di langit biru yang silau itu. Silau karena sinar matahari tepat berada di belakang layangan kami. Tut Dedeng pun beraksi, ia mengulur benang layangan gelasannya. Karena sepertinya ada musuh yang ingin mekorot dengan layangan petarungnya. Ia memang terkenal suka mekorot. Mang Jentot masih sibuk dengan layangan kelelawar buatan bapaknya. Warna hitam di angkasa membentuk siluet kelelawar yang meliuk kanan kiri seperti siap menerkam mangsanya.
"Layangan ikanmu bagus Yan," seruku pada Yan Pande. "Liukannya cepat dan stabil. Nanti ajarin aku cara bikinnya, ya."
"Ah gampang itu, yang penting kamu pilih bambu yang bagus, pasti layanganmu jadi bagus dan gampang naik."
Aku memang tidak terlalu pintar membuat layangan. Layangan buatanku sering tak seimbang dan miring saat terbang. Tapi Yan Pande selalu jadi penolongku. Dengan sedikit sentuhan tangannya, layanganku jadi bagus dalam sekejap.
Siang ini aku memang tak menaikkan layangan. Kemaren layangan ikanku dikorot oleh orang dari dusun sebelah. Padahal layangan itu bukan layangan aduan. Anak dari dusun sebelah sudah "melanggar" aturan main layangan aduan. Aku kejar layanganku bersama Yan Pande. Tapi sayang nyangkut di pohon pule yang setinggi rumah 3 lantai. Aku cari-cari tak ada bambu sepanjang itu untuk meraihnya. Ya sudah ikhlaskan saja. Barangkali bisa jadi hiasan pelengkap pohon pule.
Sejak rapotan, tiap sore kami main layangan di sawah belakang rumah. Kami naik dari kelas 4 ke kelas 5 tahun ini. Mang Jentot naik ke kelas 4, ia adalah adik kelas, tapi akrab dengan kami karena rumahnya sangat dekat dengan rumahku, sama-sama dekat ke sawah yang di musim liburan ini jadi rumah kedua kami.
"Eh itu di sana ada banyak jerami. Gimana kalo kita bikin gubuk dari jerami, yuk," seruku kepada mereka bertiga. Tut Dedeng yang sedang menggulung benang layangannya menoleh ke arahku dengan wajah berbinar. Yan Pande pun mendekat. Mang Jentot hanya bengong mencoba membayangkan apa yang sedang kami rencanakan.
"Ayuk. Tapi gimana cara bikinnya?" Tanya Tut Dedeng bimbang.
"Gampang, kita bagi tugas aja. Kamu dan Mang Jentot kumpulin jerami yg banyak dan bawa kesini. Yan Pande cari kayu besar buat tiang. Aku akan ambil tali rafia dan pisau ke rumah sebentar ya."
Kami bergerak dengan sigap. Di sela sinar mentari terik mengenai pelipis, keringat mengucur tipis-tipis. Tapi langsung kering menguap bersama angin bulan Juli yang panas dan kering.
Yan Pande datang membawa beberapa kayu besar sebagai tiang. Tut Dedeng dan Mang Jentot sudah mengumpulkan banyak sekali tumpukkan jerami.
Dengan sigap aku dan Yan Pande menancapkan tiang kayu gamal setengah kering di sela-sela tanah sawah yg kering dan retak. Aku mengikatnya dengan tali rafia yang kuambil barusan ke rumah. Setelah tiang jadi, Tut Dedeng dengan tak kalah lincahnya merangkai kemudian menumpuk jerami di atas tiang yang sudah disiapkan. Mang Jentot sibuk sebagai helper paling gesit siang itu. Kami bekerja seperti buruh bangunan borongan yg tak kenal lelah. Tak berapa lama gubuk jerami kami pun jadi. Sebuah gubuk karya anak SD yang berbentuk hampir bulat, pintu terletak di sisi barat dan jendela kecil ada di sisi sebaliknya. Bentuknya bulat persis rumah asli suku Eskimo, Igloo, meskipun bulatnya tidak terlalu sempurna.
Yan Pande menghias pintunya dengan dauh pohon gamal yang ditaruh di sisi kanan dan kiri sebagai sentuhan akhir.
Mang Jentot tiba-tiba lari menuju arah rumahnya. Entah apa yang akan ia lakukan. Tapi tak seberapa lama ia berlari tergopoh ke arah kami, membawa beberapa lembar kardus. Rupanya ia membawa tikar dadakan sebagai alas untuk kami tiduran di dalam gubuk.
Sempurna. Di sela udara panas siang ini, gubuk jerami ini jadi peneduh buat kami. Tempat sembunyi dari panasnya mentari siang ini. Setidaknya kulit kami tak akan terlalu legam sepulang dari main layangan sandikala nanti.
Yan Pande dan Tut Dedeng menambatkan layangannya di salah satu tiang gubuk kami. Betapa indahnya siang itu. Empat orang anak SD berhasil membangun gubuk mungil buat berteduh, sambil main layangan di tengah sawah kering di belakang rumah. Kami berempat leyeh-leyeh di dalam gubuk sambil sesekali menengok keluar, mengawasi layangan siapa tahu ada oknum tak bertanggung jawab mengorot layangan kami.
Tak terasa hari semakin sore, matahari sudah sedikit turun dan udara tidak sepanas tadi siang. Kami duduk-duduk di depan gubuk. Tapi Mang Jentot sepertinya kelelahan dan tertidur di dalam.
"Biar saja, barangkali ia lelah," seru Tut Dedeng sambil mencoba menangkap capung dengan lem dari getah buah nangka. Perangkapnya terbuat dari lidi yang di ujungnya diisi lem getah nangka. Tanpa suara Dedeng mengendap mendekati capung yg bertengger di batang pohon gamal. Lalu dengan sangat cepat ia menempelkan lidi yang sudah diisi lem nangka tadi, capung pun terperangkap. Setelah mengumpulkan sekitar dua puluhan ekor capung, kami bersiap membuat sate capung.
Yan Pande menusuk satu persatu capung dengan lidi bekas perangkap tadi. Lalu aku coba menyalakan api untuk membuat sate capung sore ini. Kami membuat 4 porsi dan Yan Pande perlahan membakar sate capungnya. Aromanya pun menyebar yang membuat kami sudah tak sabar ingin menyantapnya.
Sore itu kami pesta sate capung. Tut Dedeng melahap dengan cepat 1 tusuk sate. Kurang katanya.
Karena ketagihan, kami akhirnya berlomba menangkap capung dengan metode lem nangka tadi. Aku, Yan Pande dan Tut Dedeng seperti berkompetisi, berlomba mengumpulkan capung sebanyak-banyaknya.
Di sela kesibukan kami menangkap capung hingga ke tepi sawah di arah tegalan, dari agak jauh kami melihat asap tipis mengepul dari gubuk jerami. Kami saling pandang dan dalam waktu sepersekian detik kami baru sadar jika gubuk terbakar. Seperti atlet sprint pada lomba PON, kami berlari berhamburan dengan kecepatan paling tinggi menuju gubuk jerami. Kami teringat dengan Mang Jentot yang masih tertidur di dalam.
Rupanya sisa pembakaran capung kami tadi masih ada bara dan terbang mengenai dinding jerami gubuk kami. Yang membuat cukup panik rupanya api menyala di pinggiran pintu gubuk jerami. Kami tak bisa masuk lewat pintu depan.
"Jentot bangun oiii bangunnnn! Gubuknya terbakar!" Seru Yan Pande dengan panik.
Tut Dedeng dan aku mencoba memadamkan api di sekitar pintu dengan batang kayu sisa tiang gubuk tadi. Tapi karena angin bertiup cukup kencang dan jerami benar-benar kering, nyala api kian membesar. Kami semakin khawatir dengan Mang Jentot. Lalu Yan Pande beralih ke belakang gubuk, ia lalu merobek dinding gubuk jerami dan mencoba masuk menyelamatkan Mang Jentot yang masih tertidur lelap. Dengan bersusah payah Yan Pande membangunkan Jentot dan menariknya keluar dengan kecepatan kilat. Mang Jentot berhasil dievakuasi.
Api kian membesar di sisi depan gubuk. Tak sampai 2 detik gubuk pun miring. Jerami berjatuhan dan apinya melalap sisi gubuk bagian belakang. Api menyala makin besar. Kilatan cahayanya menjilat angkasa.
Gubuk yang sudah kami bangun dengan susah payah dari tadi siang, kini berubah warna jadi hitam. Sisa tiang kayu gamal saja yang masih berdiri terpancang di tengah-tengah sawah.
Tapi kami bersyukur Mang Jentot bisa diselamatkan. Kami tak tahu apa yang akan terjadi jika kami terlambat membangunkan dan menariknya keluar dari gubuk.
Sejurus kemudian Yan Pande dan Tut Dedeng baru sadar kalau layangannya terbang tinggi mengangkasa, benangnya terbakar karena diikat di tiang gubuk jerami kami.
Kami berempat hanya duduk lemas menahan rasa kaget karena api dengan sangat tiba-tiba melahap gubuk karya mastepiece kami siang itu.
Di luar prediksi BMKG, dari tangan kekar Tut Dedeng keluar 4 tusuk capung yang disiapkan tadi. Ia lalu memanggangnya di sisa bara yang membakar gubuk jerami kami. Dan kamipun berempat menutup hari itu dengan menyantap hidangan paling istimewa, sate capung yang dipanggang di gubuk jerami yang terbakar.
Perasaan kami campur aduk, sedih karena gubuk kami terbakar tanpa basa-basi. Senang karena sore itu kami bisa menyantap sate capung hasil tangkapan kami tadi.
Akhirnya kami pulang dengan lega, selepas menikmati sate capung super crunchy. Siluet 4 orang anak perlahan menghilang bersama tenggelamnya mentari senja itu.
Bajera 12 Juli 1991