Percayakah kamu soal keberadaan hantu? Apa sebenarnya hantu itu? Kenapa Tuhan juga menciptakan hantu, buat apa? Mengapa kebanyakan dari kita takut hantu, bahkan padahal belum pernah melihat sama sekali.
Cerita soal hantu, di anjungan tempat ku terdampar ini juga ada cerita seru seputar hantu. Imamora dan Parlik ketika jaga malam anjungan C mengalami secara nyata kejadian aneh. Malam sekitar pukul 8 Imamora yang kurus kerempeng 'jalan-jalan' seputar area sumur sedangkan si Parlik duduk santai di ruang kontrol mesin. Lagi asik jalan-jalan di area sumur, si Parlik datang namun tak menyapa. Ia malah berlalu ke arah berlawanan dengan si Imamora. Si Imamora yang tak terlalu menggubris, kembali ke ruang kontrol. Kaget bukan kepalang! Si Imamora seperti jenggotnya diserempet bajaj, ia melihat si Parlik duduk-duduk seperti sedia kala saat ia tinggalkan tadi. Kontan saja keduanya jadi takut dan tak berani keluar ruangan hingga pagi pergantian crew.
Cerita lain lagi si Nexon di anjungan S. Ia adalah seorang operator dan waktu jaga malam, sekitar tengah malam ia cek-cek seputar top deck anjungan yang tak terlalu terang. Ia hendak membereskan selang-selang yang berserakan namun secara terang dan jelas ia melihat sosok bayangan membelakangi dia, berambut panjang. Nexon yang badannya segede gajah gemetar juga mendapat pengalaman seperti itu. Sekejap ia tak mampu melangkahkan kakinya, terasa berat seberat shipping pump di tempat ia bekerja. Bibirnya gagu dan ia berusaha lari namun seperti ada yang mengikat dirinya. Sekejap berikutnya ia seolah sadar, dengan pucat pasi ia kembali ke ruang kontrol menemui partnernya yang sedang main komputer. Kontan saja keduanya jadi takut dan akhirnya Nexon mengundurkan diri jadi operator field agar tak kebagian jaga malam. Sungguh tragis.
Cerita lainnya adalah si Lisna, seorang cewe yang lagi training di anjungan central. Suatu hari ia kebagian jaga malam menemani 3 orang seniornya. Jam 11-an lewat ia disuruh mengecek di area mesin generator. Belum sampai ia memasuki ruangan mesin yang cukup seram dan kalau malam pasti remang-remang, ia melihat sesosok bayangan besar sekali, mungkin 2 kali lipat tinggi manusia. Sedang duduk dan tak berkutik sedikitpun. Kontan aja, ia yang cewek lari terbirit-birit menemuai senior-seniornya. Menurut cerita mereka, salah seorang dari mereka pernah juga mengalami kejadian sama. Makanya jangankan masuk ruang, lewat sekitar tempat itu saja tak berani. Rupanya si Lisna sedang dikerjain. Lisna akhirnya tak mau lagi masuk malam.
Cerita paling seru adalah ketika proses drilling sedang berlangsung di sebuah anjungan. Barge yang besar, dua kali besar anjungan bersandar dan menempel di anjungan untuk melayani kegiatan drilling itu. Suatu malam ketika drill bit menghantam batu yang keras di kedalaman sana dan terpaksa dilakukan kerjaan extra lagi, seorang bule melihat sesosok bayangan putih dikejauhan. Sesohok penampakkan wanita berambut panjang. Si bule yang memang kurang percaya sama perhantuan malah menyiapkan lampu sorot berdaya tinggi untuk menyorot bayangan putih itu hingga jadi tampak jelas. Orang-orang pada melihat pemandangan yang memang mistis namun nyata itu, penghuni barge dan bule yg tak percaya itu saksi hidupnya. Keesokan harinya, ketika orang-orang sedang upacara bendera karena hari itu adalah 17 Agustus, platform harus segera ditinggalkan dan barge harus segera digeser dan disconnect, karena blow out. Semua panik dan bersiap dengan segera. Kapal-kapal pun diperintahkan mendekat. Setelah barge menjauh, anjungan roboh dan tenggelam ke dalam laut secara perlahan. Semburan gas masih menyisakan gelembung di permukaan air laut. Semburan ini berlangsung dalam waktu berbulan-bulan dan tim selam tak bisa menemukan bangkai anjungan yan telah tenggelam itu. Semua bak sirna ditelan samudera. Sungguh mengerikan...
Giant field 16/4/2008 when I still remain 1 week here
Monday, May 12, 2008
Pagi-pagi di Kantor Pajak
Pagi-pagi sudah aku memutar tuas-tuas yang menggerakkan roda-roda, menggelinding dan menerjang embun pagi yan masih menempel di permukaan jalan raya yang belum ramai. Tiba di kota tempat aku tuju, hanya 15 menit sudah sampai, aku mencoba mencari alamat kantor pajak yang dikasi tahu temanku. Dua kali aku mutar dan kuputuskan berhenti dulu membeli selembar map ukuran standar dan sekedar bertanya pada sapa saja yang bisa ditanya. Petugas hanya 1 yang sibuk memfotokopi buku-buku tebal, sementara orang-orang pada tak sabar menunggu gilirannya termasuk aku. Sembari menunggu, aku liat seorang agak tua dengan seragam kebanggaanya sedang menunggu di salah satu kursi di ruangan 6x4 meter itu. Dengan sopan ku bertanya dan dengan ramah pula ia menunjukkan aku dimana kantor yang hendak ku tuju. Lalu setelah mendapat amplop dengan merayu penjaga toko tadi, aku berlalu, menyelinap di balik orang-orang yang berdiri semakin banyak di toko fotokopian itu.
Lalu aku masuki kantor pajak dan beberapa petugas keamanan merangkap tukang parkir mempersilahkan aku parkir di sudut parkir yang tak terlalu luas itu. Di sudut halaman sana terdapat tenda darurat dengan barisan kursi kayu rapi dengan 2 orang petugas duduk di sisi yang berlawanan. Aku mencoba cari toilet dulu lalu ikut antrian di kursi-kursi tadi. Seorang ibu agak lanjut rasanya aku kenal juga ikut dalam antrian. Ternyata ia adalah guru SD ku dulu dan ketika kusapa ia masih ingat dengan aku. Lalu untuk mengisi waktu luang itu kami ngobrol basa-basi hingga akhirnya giliran ia dipanggil petugas. Walaupun antrian sudah tertib namun masih saja ada bapak-bapak tua dengan cuek bebek menyerobot antrian dan tanpa muka berdosa mendahuluiku. Aku hanya geleng-geleng. Apakah orang Bali tak bisa tertib. Karena aku pernah hidup di beberapa kota di Indonesia, aku melihat orang Bali paling parah dalam mengantri.
Setelah mendaftar di petugas tadi aku disuruh masuk ke ruangan besar yang penuh sesak orang. Tiga petugas duduk di depan komputer dengan layar-layar LCD mewah memanggil-manggil nasabah yang hendak mengumpulkan formulir SPT masing-masing. Antrian sudah semakin canggih dan lebih modern, sudah elektronis. Angka-angka antrian dalam tampilan 7 segmen menghiasi dinding ruangan yang sejuk oleh AC itu. Aku sibuk mencari-cari loket tempat mencetak karcis antrian. Ternyata ia tersembunyi di balik bapak-bapak lanjut usia yang berdiri bergerombol karena tak kebagian kursi tempat menunggu antrian, ruangan itu memang penuh manusia. Kebanyakan dari mereka berseragam dan terlihat bangga dengan atribut-atribut yang dikenakannya, meskipun mereka sadar gaji mereka tak sesuai dengan mewahnya atribut itu. Bahkan kenaikan gajinya tak mampu mengimbangi laju inflasi negeri ini. Aku kebagian nomor antrian 146, masih 20 antrian lagi. Namun petugas-petugas di kursi di ujung sana tampak sigap dan cerdas memainkan tombol-tombol komputer lalu memencet nomor antrian selanjutnya, suar 'ting' keluar dari speaker pertanda antrian berikutnya dipersilahkan maju. Dua nomor lagi giliranku, seorang bapak duduk di sampingku dan menyapa dengan sopan dan ia bercerita mendapat antrian nomor 165 dan nomor 146 tertera di 7-segment mengakhiri obrolan kami pagi itu. Petugas dengan lancar memainkan jari-jemarinya di atas papan keyboard. Tak sampai 5 menit aku sudah keluar dari ruangan dan langsung menuju parkiran. Mobil silverku tertutup oleh motor-motor yang diparkir ngawur. Petugas akhirnya menyingkirkan motor-motor liar dan aku pun bisa berlalu.
Rasanya puas pagi itu berurusan dengan bureaucratique yang biasanya terkenal berbelit-belit. Namun pagi itu aku cukup puas dan merasa teknologi sudah membantu mempercepat proses itu. Mulai dari sistem antrian yang sudah elektronik hingga input data yang semuanya computerized. Semoga aja sistem-sistem seperti ini lebih cepat diterapkan di kantor-kantor pemerintah lainnya agar masyarakat luas semakin nyaman dan lega melakukan urusan birokrasi. Salut!
Lalu aku masuki kantor pajak dan beberapa petugas keamanan merangkap tukang parkir mempersilahkan aku parkir di sudut parkir yang tak terlalu luas itu. Di sudut halaman sana terdapat tenda darurat dengan barisan kursi kayu rapi dengan 2 orang petugas duduk di sisi yang berlawanan. Aku mencoba cari toilet dulu lalu ikut antrian di kursi-kursi tadi. Seorang ibu agak lanjut rasanya aku kenal juga ikut dalam antrian. Ternyata ia adalah guru SD ku dulu dan ketika kusapa ia masih ingat dengan aku. Lalu untuk mengisi waktu luang itu kami ngobrol basa-basi hingga akhirnya giliran ia dipanggil petugas. Walaupun antrian sudah tertib namun masih saja ada bapak-bapak tua dengan cuek bebek menyerobot antrian dan tanpa muka berdosa mendahuluiku. Aku hanya geleng-geleng. Apakah orang Bali tak bisa tertib. Karena aku pernah hidup di beberapa kota di Indonesia, aku melihat orang Bali paling parah dalam mengantri.
Setelah mendaftar di petugas tadi aku disuruh masuk ke ruangan besar yang penuh sesak orang. Tiga petugas duduk di depan komputer dengan layar-layar LCD mewah memanggil-manggil nasabah yang hendak mengumpulkan formulir SPT masing-masing. Antrian sudah semakin canggih dan lebih modern, sudah elektronis. Angka-angka antrian dalam tampilan 7 segmen menghiasi dinding ruangan yang sejuk oleh AC itu. Aku sibuk mencari-cari loket tempat mencetak karcis antrian. Ternyata ia tersembunyi di balik bapak-bapak lanjut usia yang berdiri bergerombol karena tak kebagian kursi tempat menunggu antrian, ruangan itu memang penuh manusia. Kebanyakan dari mereka berseragam dan terlihat bangga dengan atribut-atribut yang dikenakannya, meskipun mereka sadar gaji mereka tak sesuai dengan mewahnya atribut itu. Bahkan kenaikan gajinya tak mampu mengimbangi laju inflasi negeri ini. Aku kebagian nomor antrian 146, masih 20 antrian lagi. Namun petugas-petugas di kursi di ujung sana tampak sigap dan cerdas memainkan tombol-tombol komputer lalu memencet nomor antrian selanjutnya, suar 'ting' keluar dari speaker pertanda antrian berikutnya dipersilahkan maju. Dua nomor lagi giliranku, seorang bapak duduk di sampingku dan menyapa dengan sopan dan ia bercerita mendapat antrian nomor 165 dan nomor 146 tertera di 7-segment mengakhiri obrolan kami pagi itu. Petugas dengan lancar memainkan jari-jemarinya di atas papan keyboard. Tak sampai 5 menit aku sudah keluar dari ruangan dan langsung menuju parkiran. Mobil silverku tertutup oleh motor-motor yang diparkir ngawur. Petugas akhirnya menyingkirkan motor-motor liar dan aku pun bisa berlalu.
Rasanya puas pagi itu berurusan dengan bureaucratique yang biasanya terkenal berbelit-belit. Namun pagi itu aku cukup puas dan merasa teknologi sudah membantu mempercepat proses itu. Mulai dari sistem antrian yang sudah elektronik hingga input data yang semuanya computerized. Semoga aja sistem-sistem seperti ini lebih cepat diterapkan di kantor-kantor pemerintah lainnya agar masyarakat luas semakin nyaman dan lega melakukan urusan birokrasi. Salut!
Hampir Ketinggalan Pesawat
Selasa 8 April kemaren aku kembali hampir ketinggalan pesawat. Pasalnya aku salah memilih
tempat menunggu. Aku menunggu di pintu kedatangan domestik yang suara speaker panggilannya tak terdengar. Aku menunggu di sana bersama 'dia'. Lima belas menit sebelum pesawat take off aku masih bersenda gurau disana lalu terdengar suara telfon, telfon dari petugas keberangktan pesawat. Ia menyatakan bahwa pesawat sudah mau berangkat dan hanya aku penumpang yang belum naik pesawat. Sepertinya sejak tadi namaku sudah dipanggil-panggil beberapa kali melalui pengeras suara.
Aku berlari menuju pintu masuk lalu memasukkan barang ke x-ray. Telfon datang lagi dari
petugas yang sama. Aku bilang segera datang. Selepas x-ray pertama, ada petugas yang
mengisyaratkan untuk segera, berlari menuju pesawat. Melalui radio genggamnya ia mengatakan objek sudah located, memakai baju dan celana hitam, tas ransel juga hitam. Semua orang seperti memandang atau bahkan ada juga mungkin yang menertawakan. Aku melewati eskalator lagi-lagi ada petugas membawa radio HT mengisyaratkan untuk lebih cepat berlari. Petugas di x-ray kedua memandang sambil tersenyum lalu bertanya, "Dari mana saja, Mas?". Aku menjawab dengan senyumku yang garing sembari terus berlari dengan kecepatan semampuku. Tas ranselku terguncang-guncang. Kaki serasa berat dan sweater merah kutenteng di tangan kiri. Aku tak peduli semua orang melihatku, semua orang menatapku. Lalu petugas boarding pesawat merobek boarding pass-ku dan menunjuk ke arah pesawat yang harus kunaiki.
Tetap dalam posisi berlari, aku tergesa menuju tangga-tangga naik ke pintu pesawat. Aku
hanya ditatap penuh senyum oleh pramugari yang cantik dan berdandan seksi. Aku masuk, semua penumpang memang sudah duduk rapi dan tertib. Tak ada suara sedikitpun ketika aku memasukkan tas ke dalam kabin dan duduk di deretan kursi kosong terdekat dari depan. Orang-orang pada menatap curiga, ada yang tersenyum ada yang melirik sinis. Aku tak peduli. Aku hanya sibuk dengan irama nafasku yang tersengal. Aroma dingin dari AC pesawat aku hirup dalam-dalam.
Namun dadaku masih terasa sesak, bagai ditindih pesawat belasan ton. Nafasku masih memburu, aku berusaha tarik nafas dalam-dalam namun masih saja terasa kurang.
Sesaat setelah aku masuk, pintu pesawat langsung ditutup dan pramugari memulai demo
keselamatannya. Aku tersandar dan terduduk lemas sambil menyeka keringat halus di pelipis
kiriku, terhembus angin-angin sepoi dari bulatan-bulatan AC di atas kabin.
Cerita soal telat, dulu juga aku pernah ketinggalan pesawat saat itu kami bertiga menunggu
Lion di Surabaya menuju Balikpapan. Kami menunggu di gate 6 sedangkan pintu masuk seharusnya
di gate 1. Suara panggilan memang tak kami dengar. Saat itu kami asik ngobrol dan tak taunya
ketika kami hampiri ke gate 1, pesawat sudah lepas landas. Jadilah kami dipaksa menambah 50%
untuk berangkat keesokan harinya jam 6.30. Malam itu si Tom kembali ke Mojokerto. Sedangkan
aku dan Mugi nginep di rumah pamannya berjarak 45 menit dari Juanda. Esoknya, subuh-subuh
kami diantarkan ke Bandara oleh pamannya. Cape deh.
tempat menunggu. Aku menunggu di pintu kedatangan domestik yang suara speaker panggilannya tak terdengar. Aku menunggu di sana bersama 'dia'. Lima belas menit sebelum pesawat take off aku masih bersenda gurau disana lalu terdengar suara telfon, telfon dari petugas keberangktan pesawat. Ia menyatakan bahwa pesawat sudah mau berangkat dan hanya aku penumpang yang belum naik pesawat. Sepertinya sejak tadi namaku sudah dipanggil-panggil beberapa kali melalui pengeras suara.
Aku berlari menuju pintu masuk lalu memasukkan barang ke x-ray. Telfon datang lagi dari
petugas yang sama. Aku bilang segera datang. Selepas x-ray pertama, ada petugas yang
mengisyaratkan untuk segera, berlari menuju pesawat. Melalui radio genggamnya ia mengatakan objek sudah located, memakai baju dan celana hitam, tas ransel juga hitam. Semua orang seperti memandang atau bahkan ada juga mungkin yang menertawakan. Aku melewati eskalator lagi-lagi ada petugas membawa radio HT mengisyaratkan untuk lebih cepat berlari. Petugas di x-ray kedua memandang sambil tersenyum lalu bertanya, "Dari mana saja, Mas?". Aku menjawab dengan senyumku yang garing sembari terus berlari dengan kecepatan semampuku. Tas ranselku terguncang-guncang. Kaki serasa berat dan sweater merah kutenteng di tangan kiri. Aku tak peduli semua orang melihatku, semua orang menatapku. Lalu petugas boarding pesawat merobek boarding pass-ku dan menunjuk ke arah pesawat yang harus kunaiki.
Tetap dalam posisi berlari, aku tergesa menuju tangga-tangga naik ke pintu pesawat. Aku
hanya ditatap penuh senyum oleh pramugari yang cantik dan berdandan seksi. Aku masuk, semua penumpang memang sudah duduk rapi dan tertib. Tak ada suara sedikitpun ketika aku memasukkan tas ke dalam kabin dan duduk di deretan kursi kosong terdekat dari depan. Orang-orang pada menatap curiga, ada yang tersenyum ada yang melirik sinis. Aku tak peduli. Aku hanya sibuk dengan irama nafasku yang tersengal. Aroma dingin dari AC pesawat aku hirup dalam-dalam.
Namun dadaku masih terasa sesak, bagai ditindih pesawat belasan ton. Nafasku masih memburu, aku berusaha tarik nafas dalam-dalam namun masih saja terasa kurang.
Sesaat setelah aku masuk, pintu pesawat langsung ditutup dan pramugari memulai demo
keselamatannya. Aku tersandar dan terduduk lemas sambil menyeka keringat halus di pelipis
kiriku, terhembus angin-angin sepoi dari bulatan-bulatan AC di atas kabin.
Cerita soal telat, dulu juga aku pernah ketinggalan pesawat saat itu kami bertiga menunggu
Lion di Surabaya menuju Balikpapan. Kami menunggu di gate 6 sedangkan pintu masuk seharusnya
di gate 1. Suara panggilan memang tak kami dengar. Saat itu kami asik ngobrol dan tak taunya
ketika kami hampiri ke gate 1, pesawat sudah lepas landas. Jadilah kami dipaksa menambah 50%
untuk berangkat keesokan harinya jam 6.30. Malam itu si Tom kembali ke Mojokerto. Sedangkan
aku dan Mugi nginep di rumah pamannya berjarak 45 menit dari Juanda. Esoknya, subuh-subuh
kami diantarkan ke Bandara oleh pamannya. Cape deh.
Ia Telah Bebas
Setahun lebih telah berlalu ia sudah tinggalkan diriku, tinggalkan kami dan semua kenangan indah selama aku menghirup nafas di dunia ini. Ia telah 9 bulan memberiku makan dari sebagian makanan yang ia serap. Ia telah terbangkan aku ke dalam angan-angan duniawiku. Ia telah buat aku seperti sekarang ini. Lebih setahun yang lalu, 7 Maret 2007 ia hembuskan nafas terakhirnya, dihadapanku, dalam pelukanku. Lima hari berikutnya ia dibebaskan dari segala ikatan duniawi. Ia dibakar dalam damai dan terbang ke awan bersama doa-doa sang pedanda suci. Ia menyatu dalam jalinan mantra-mantra suci. Ia telah bersatu dengan api.
Kemaren, tanggal 10 Mei 2008 ia kembali diterbangkan bersama gelombang cahaya, menembus tegal penangsaran, melewati kawah candradimuka, menyatu bersama sang pencipta dan bersanding disisiNya yang paling tinggi, Nirwana.
Rangkaian upacara ngiring di Jeroan dimulai dari rangkaian upacara ngiring Mepandes diikuti oleh 3 orang adik-adik perempuanku (7 Mei). Lalu tanggal 10 Mei dilanjutkan dengan upacara Ngerorasin dan juga Metelubulanin 3 adikku yang masih kecil, Wanda, Tiwi dan Iin. Ditambah upacara mejaya-jaya bagi yang mepandes. Keesokan harinya kami melakukan upacara Nyegara-Gunung yaitu sembahyang di Pura Tanah Lot dan Pura Luhur Batukaru. Dilanjutkan dengan sembahyang ke Pura Ciwa Kawanan dan Kanginan. Lalu sujud di Pura Dalem, Baleagung dan Puseh.
Lalu 'pengadegan' dibawa pulang ke rumah dan diupacarai Pak Mangku Ciwa Kanginan di Sanggah Kemulan. Seluruh keluarga mendoakan arwahnya kembali ke jalanNya. Terakhir Ia distanakan di Sanggah Kemulan. Pak De di rong sebelah kiri sebagai Purusa dan Memek di rong kanan sebagai Pradana. Berakhir sudah ngayah yang ia lakukan. Dan kini ia menyatu bersama Brahman, bersama cahaya terang benderang. Aku berdoa semoga ia damai dan semua yang ditinggalkan damai hatinya juga lakunya. Aku tersentuh, 1 perjalanan sudah terlewati dan semoga dengan ini, Bapakku yang meronta selama ini bisa sembuh dan melanjutkan 'ngayah' yang terusik sedikit itu. Aku harap semua keluarga damai adanya. Kami berharap semoga semua alam memberi kami kekuatan untuk melanjutkan sisa hidup yang tak abadi ini. Aku berharap juga segera bisa membahagiakan keluarga dengan menyunting pujaan hatiku. Oh Tuhan, beri aku kekuatan dan keteguhan hati, bulatkan tekadku untuk berjalan pada jalan kebenaran. Om Santih Santih Santih Om.
Kemaren, tanggal 10 Mei 2008 ia kembali diterbangkan bersama gelombang cahaya, menembus tegal penangsaran, melewati kawah candradimuka, menyatu bersama sang pencipta dan bersanding disisiNya yang paling tinggi, Nirwana.
Rangkaian upacara ngiring di Jeroan dimulai dari rangkaian upacara ngiring Mepandes diikuti oleh 3 orang adik-adik perempuanku (7 Mei). Lalu tanggal 10 Mei dilanjutkan dengan upacara Ngerorasin dan juga Metelubulanin 3 adikku yang masih kecil, Wanda, Tiwi dan Iin. Ditambah upacara mejaya-jaya bagi yang mepandes. Keesokan harinya kami melakukan upacara Nyegara-Gunung yaitu sembahyang di Pura Tanah Lot dan Pura Luhur Batukaru. Dilanjutkan dengan sembahyang ke Pura Ciwa Kawanan dan Kanginan. Lalu sujud di Pura Dalem, Baleagung dan Puseh.
Lalu 'pengadegan' dibawa pulang ke rumah dan diupacarai Pak Mangku Ciwa Kanginan di Sanggah Kemulan. Seluruh keluarga mendoakan arwahnya kembali ke jalanNya. Terakhir Ia distanakan di Sanggah Kemulan. Pak De di rong sebelah kiri sebagai Purusa dan Memek di rong kanan sebagai Pradana. Berakhir sudah ngayah yang ia lakukan. Dan kini ia menyatu bersama Brahman, bersama cahaya terang benderang. Aku berdoa semoga ia damai dan semua yang ditinggalkan damai hatinya juga lakunya. Aku tersentuh, 1 perjalanan sudah terlewati dan semoga dengan ini, Bapakku yang meronta selama ini bisa sembuh dan melanjutkan 'ngayah' yang terusik sedikit itu. Aku harap semua keluarga damai adanya. Kami berharap semoga semua alam memberi kami kekuatan untuk melanjutkan sisa hidup yang tak abadi ini. Aku berharap juga segera bisa membahagiakan keluarga dengan menyunting pujaan hatiku. Oh Tuhan, beri aku kekuatan dan keteguhan hati, bulatkan tekadku untuk berjalan pada jalan kebenaran. Om Santih Santih Santih Om.
Denpasar, 12 Mei 2008
Hari ini adalah hari bersejarah dalam hidup asmaraku. Satu bulan yang lalu kami telah menjalin tali cinta yang sudah lama kudamba. Aku berharap ini menjadi hari penentu seluruh perjalanan hidupku di masa depan. Aku berharap segala cinta diberkati oleh yang Kuasa. Aku berharap kau adalah pujaan terakhirku yang akan membenamkan aku dalam damai.
Hari ini aku terbang ke Balikpapan melewati Pulau Sulawesi. Tadi pagi aku diantar adikku yang paling baik di dunia. Ia seorang gadis baik dan tidak manja. Ia selalu susah bersamaku. Ia rela berkorban demi aku. Ia mengantarkan aku ke Bandara dan disambut oleh pujaan hati.
Gek, hari ini kau antarkan aku dalam mimpi. Kita makan siang di sebuah restoran mewah yang megah. Ia mengucap rindu dan seminggu lagi aku kan kembali. Aku ingin segera pulang dan lepaskan segudang rindu. Aku ingin memecah gunung dan mengaduk-aduk samudera agar bisa menembus waktu dengan sekejap mata, namun aku tak kuasa. Aku masih manusia biasa.
Hari ini juga hari terakhirku cuti, setelah 3 minggu bergelut dalam upacara kebebasan Ibuku yang telah menjadi bathari. Aku bahagia.
Hari ini aku terbang ke Balikpapan melewati Pulau Sulawesi. Tadi pagi aku diantar adikku yang paling baik di dunia. Ia seorang gadis baik dan tidak manja. Ia selalu susah bersamaku. Ia rela berkorban demi aku. Ia mengantarkan aku ke Bandara dan disambut oleh pujaan hati.
Gek, hari ini kau antarkan aku dalam mimpi. Kita makan siang di sebuah restoran mewah yang megah. Ia mengucap rindu dan seminggu lagi aku kan kembali. Aku ingin segera pulang dan lepaskan segudang rindu. Aku ingin memecah gunung dan mengaduk-aduk samudera agar bisa menembus waktu dengan sekejap mata, namun aku tak kuasa. Aku masih manusia biasa.
Hari ini juga hari terakhirku cuti, setelah 3 minggu bergelut dalam upacara kebebasan Ibuku yang telah menjadi bathari. Aku bahagia.
Subscribe to:
Posts (Atom)