Sunday, July 21, 2013

Positif dan Negatif

Dalam perpisahannya, Pak Prayitno sempat memberikan kami nasehat perihal bagaimana bersikap kepada diri dan orang lain. Ia menyebutnya bersikap/berfikir positif dan negatif. Ada empat kombinasi yaitu kita bisa jadi positif dan negatif. Orang lain bisa kita anggap positif maupun negatif.

Jika kita memandang diri negatif dan orang lain negatif, maka ini adalah sikap paling buruk dalam kehidupan. Karena kita selalu menganggap diri dan orang lain serba tak mampu. "Ah, aku aja gak bisa, apalagi kamu!" Demikian yg sering diucapkan.

Memandang diri negatif namun orang lain positif adalah sikap rendah diri (minder). Selalu merasa tidak mampu dan lebih bodoh dari orang lain adalah mental block yg benar-benar menghambat kesuksesan orang lain.

Memandang diri positif, memandang orang lain negatif malah menimbulkan arogansi diri. Kita selalu memandang rendah orang lain bahkan tidak pernah memberi kesempatan kepada orang lain berbuat lebih.

Yang paling ideal adalah memandang diri dan orang lain positif, sesuai porsi masing-masing. Atasan menghargai dan mendelegasikan tugas kepada bawahan dan mempercayakan hasilnya untuk setiap tugas.

Gede A Setiawan
(gedeasetiawan@yahoo.com)

Pengen Jadi Enterpreneur

Sejak beberapa tahun terakhir ini saya amat doyan membaca buku atau artikel soal marketing dan bisnis lainnya. Berawal dari makin merebaknya virus enterpreneur baik itu melalui social media maupun melalui iklan dan buku. Berbagai ide bisnis sudah hampir saya jalani, tapi sepertinya saya masih perlu belajar mengatur waktu agar saya bisa membagi waktu dengan keluarga, menyiapkan bisnis saya dan juga tetap menjalankan hobi saya sebagai fotografer.

Namun akhir-akhir ini keinginan menjadi pengusaha itu makin menjadi setelah melihat beberapa orang tetangga atau keluarga bisa mengantarkan anaknya sekolah tiap hari dan hidup mereka baik-baik saja. Dalam hati saya berfikir, harusnya saya bisa seperti itu. Tapi dimana salahnya?

Jika flashback ke 5-10-20 tahun lalu, saya sebenarnya dilahirkan dari keluarga enterpreneur. Meskipun bisnis bapak kecil-kecilan, namun buktinya bisa sampai menyekolahkan 2 orang anaknya hingga sarjana. Bahkan bisa pula mewariskan belasan are tanah di beberapa tempat. Ini bukan nyombong, tapi sekedar pengen memotivasi diri. Saya pengen seperti bapak saya dulu, bisa ketemu setiap hari dengan keluarga, anak dan istri.

Ketika saya amat-amati pula, orang yang bisa menikmati waktu luang bahkan sembari mengantar anak sekolah itu kelihatan santai dan tidak bekerja. Semakin dalam saya amati ternyata mereka punya pasif income berupa kos-kosan atau toko/rumah kontrakan. Mereka bisa, saya harusnya juga bisa.

Ya Tuhan, mulai detik ini aku berdoa kepada-Mu, tunjukkanlah jalan yg benar menuju kembali jadi pengusaha seperti bapakku dulu. Aku ingin berkumpul setiap hari bersama keluarga, melihat detik demi detik perkembangan anak-anakku yg cantik dan juga menikmati hidup yang sederhana namun bersahaja. Cukup sandang, pangan, papan dan setidaknya bisa menyekolahkan anak-anakku pada jenjang kuliah dan diberi kesehatan yang indah hingga beranak cucu nanti. Astungkara.

Gede A Setiawan
(gedeasetiawan@yahoo.com)

Citilink Stop Flight

Mulai 1 July 2013 Citilink Denpasar-Balikpapan distop penerbangannya karena alasan menata ulang skedul flight. Padahal kalau dibilang sepi juga tidak, tiap saya naik hari Selasa atau off Rabu, pesawat hampir selalu penuh, secara kasat mata 90% ke atas isinya. Disamping ke Denpasar, flight lain dari Balikpapan juga di stop, mulai dari Makazzar, Jogja, Solo bahkan Surabaya.

Sehingga saya harus kembali seperti dulu lagi via Makazar atau Surabaya. Off kali ini, 3 Juli saya ke Bali via Makazzar dengan Lion. Karena belinya telat, dapet harga cukup mahal. Biasanya kalau naik Citilink hanya 500-an, kini jadi 3x lipat. Ya dinikmati saja.

Tapi yg sedikit membuat lega adalah pesawat yang dari Makazzar ke Denpasar adalah pesawat yg sama dengan dari Balikpapan. Sehingga jika pesawat delay, saya tak ditinggal. Dan sekarang contohnya, pesawat delay 1 jam 20 menit. Semoga selamat sampai tujuan. Astungkara.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Saturday, July 20, 2013

Nana Mulai Sekolah

Senin 15 Juli Nana mulai sekolah playgroup di TKK Immaculata Tabanan. Kami memilih TK ini karena banyak direkomendasikan sahabat dan saudara. Juga karena ada sepupunya Nana, Gek Muni dan Yumang, sekolah disana juga.

Hari pertama sekolah jalanan menuju Immaculata sedikit macet begitu juga di dalam sekolah. Semua orang tua mengantarkan anaknya pada awal sekolah ini. Begitu juga saya dan istri, mengantarkan Nana dengan semangat plus Citta juga menemani kakaknya sekolah.

Nana melewati hari pertama hingga hari kelima dengan sukses dan akupun bisa menemani minggu pertama Nana di sekolah bersama ibu dan Citta dan memilih untuk berangkat on duty telat 3 hari. Bahkan pada hari pertama dan ketiga, ketika bu guru menawarkan siapa yang berani menyanyi ke depan, Nana naikkin tangan dan maju menyanyi Twinkle Little Star dan Bintang Kecil.

Semoga hari-hari berikutnya ia tetap semangat dan senang mengikuti setiap kegiatan belajar dan bermain ini. Semoga juga ibu tetap kuat dan sabar mengantarkan Nana ke sekolah jika aku sedang on duty. Citta anteng di rumah bersama mbok dek, PRT kami.

Gede A Setiawan
(gedeasetiawan@yahoo.com)

Ke Surabaya Lagi

Sejak 1 Januari 2013 atau sejak 6 bulan terakhir saya tak pernah transit lagi karena ada penerbangan direct Balikpapan-Denpasar pp dengan Citilink. Adanya rute ini membuat saya cukup nyaman secara jam terbang yg lebih pendek dan juga harga tiket yg relatif jauh lebih murah jika transit. Bisa hemat sepertiganya.

Namun sejak 1 Juli penerbangan Citilink direct distop dan dialihkan ke rute lain. Padahal kalau menurut pengamatan saya rute ini cenderung gemuk. Setiap saya naikin setidaknya selalu 90%-an penuh. Jadilah saya kembali ke jaman dulu, harus transit via Makazzar atau Surabaya.

Pada off lalu 3 Juli, saya ke Bali naik Lion via Makazzar. Beruntung sekarang flight ini connect. Jadi kalau dari Balikpapan delay, otomatis ke Denpasar akan ditunggu. Contohnya kemaren, kami dari Balikpapan delay sekitar 2 jam. Ketika sampai di Makazzar kami hanya mampir 15 menitan dan langsung naik pesawat ke Bali. Tiket saat itu lumayan mahal, hampir 1,5 juta.

Ketika balik kemaren, 19 Juli, aku harus memilih jalur via Surabaya dengan kombinasi penerbangan Citilink dan Lion agar mendapat harga paling murah. Lumayan mendapat tiket dengan harga 700-an ribu saja setidaknya mengimbangi tiket off yang menggila nanti tanggal 31 Juli 1,8 juta via Makazzar. Saya sudah beli jauh hari karena takut kehabisan tiket karena H-8 menjelang lebaran.

Semoga tetap aman dan selamat terbang hingga ke tempat tujuan.

PS: ketika check ini di Denpasar, saya tanya petugas Citilink mengapa rute Denpasar-Balikpapan dihapus? "Kan mau diambil Garuda rute-nya, Pak." Moga aja cepet ya. Biar dapet langsung lagi.

Gede A Setiawan
(gedeasetiawan@yahoo.com)