Monday, June 05, 2017

Menerima Pijat Panggilan

"De, ambil koran itu. Kita kerjain Jacky dan Topan yuk," Nizar mengambil handphone lalu memencet sebuah nomor yang ia dapat di kolom iklan mini. Ia sibuk bicara dengan serius. 

"Kamu nelfon siapa tadi," aku penasaran dibuatnya.

"Udah tunggu aja," sambil membuka sedikit gorden kamar, mengintip ke arah kamar Jacky dan Topan. 

Aku melihat Nizar melingkari sebuah iklan mini dengan judul "Menerima pijat panggilan". Aha aku tahu apa yang akan terjadi. Kami berdua menunggu tak sabar siapa gerangan yang akan datang. Sesekali aku mengintip dari celah jendela. 

Kamar kami terletak di blok belakang hotel di samping kolam renang. Agak tersembunyi dari keramaian dan lalu-lalang tamu. Ornamen ukiran dayak menghias sudut-sudut bangunan hotel. Musik gitar khas Dayak berkumandang melalui speaker-speaker di sudut plafon. 

Tiba-tiba terdengar langkah kaki sedikit terburu. Kami masih mengintip dari balik jendela. Seorang perempuan cantik, seksi dengan sepatu hak tinggi berjalan ke arah kamar Jacky dan Topan. Aku dan Nizar semakin menunggu tak sabaran.

Terdengar suara pintu diketok dan derit pintu dibuka. Tampak terjadi percakapan serius di ujung sana. Aku tak terlalu melihat bagaimana ekspresi Topan dan Jacky. Tapi kulihat perempuan seksi bicara dengan erotis. Aku dan Nizar diam menahan tertawa. Nizar hanya meletakkan telunjuk melintang di depan bibirnya sambil berucap "ssstttt."

Sejurus kemudian si perempuan berubah wajahnya menjadi masam, berjalan meninggalkan kamar Topan dan Jacky, sepertinya pergi. Topan dan Jacky tampak berdiri di depan kamar kebingungan. Aku dan Nizar sudah tak tahan. Kami akhirnya keluar kamar dan memuntahkan tawa yang sejak tadi tertahan. 

"Wah kalian rupanya ya!!!" Jacky berlari mengejar kami dan kami pun berkejaran seperti anak-anak TK di halaman belakang hotel. 

Nizar tertawa puas ngerjain Topan dan Jacky sore itu.  

#30DWCJilid6 #Day20
#kisahcinta
#kuliminyaklepaspantai
#selatmakazzar


Sunday, June 04, 2017

Rabu Gaul

Liburan ini kami masih mempunyai jatah menginap di hotel. Daripada suntuk aku dan Nizar sepakat mencoba sensasi baru, kami akan masuk ke pub di hotel tempat kami menginap. Namanya CB Pub alias Color Beat Pub. Jaraknya hanya beberapa blok dari kamar yang aku tempati. 

"Jangan lupa pake sepatu dan bawa uang ya," seru Nizar tak sabar.

Sebelum masuk pub aku membeli sebungkus rokok di minimarket di lantai dasar hotel. Biar kelihatan lebih jantan dan gaul, pikirku. Kami masuk melewati penjaga pintu, seorang perempuan yang berpakaian super seksi.

"Kamar 321 mbak," ucapku sebelum si penjaga seksi bertanya.

Life music dari Color Beat Band meramaikan rabu gaul malam itu. Aku dan Nizar menuju sudut belakang, di dekat meja bilyard. Asap rokok mengepul menyatu dengan lagu-lagu yang dinyanyikan silih berganti. Persis di depan panggung para pengunjung berjoged tanpa gaya, bergerak seperti orang kerasukan. 

Aku menyalakan korek pertanda mau pesan minuman. Kemudian datang seorang perempuan yang tak kalah seksi bertanya kepada kami. Sebotol bir tanpa alkohol untuk menyejukkan tenggorokan yang panas menghirup asap rokok. Nizar memesan anggur hitam khas timur tengah sana. Musik masih berdentum mengiringi para insan yang makin malam makin melayang. 

Kian lama mataku semakin pedas dihembus asap rokok yang memenuhi ruangan yang tak begitu besar itu. Nizar pun merasakan yang sama. Suaraku mulai serak karena ngomong sembari berteriak, berusaha mengalahkan suara musik yang terus bersambung. Telingaku juga terasa mendengung, karena sedari tadi musik yang dilantunkan berirama cepat dan keras.

Tampaknya ini bukan tempatku. Aku lebih menikmati berjalan kaki menyusuri pematang sawah, atau memotret matahari tenggelam di pantai Melawai. Aku lebih menikmati gemericik air dari pancuran di ujung sana. 

"Ayo keluar, sudah malam. Ngantuk," aku mengajak Nizar keluar pub. 

Tanpa melawan Nizar mengikuti dan kami kembali ke kamar dengan wajah yang sedikit gusar. 

#30DWCJilid6 #Day19
#kisahcinta
#kuliminyaklepaspantai
#selatmakazzar

Saturday, June 03, 2017

Di Persimpangan Jalan

Entah kenapa bapakku sejak awal selalu melarang aku bekerja. Lebih baik jualan sendiri, meskipun hasilnya kecil tapi jadi bos atas dirimu sendiri. Lebih mulia jadi pedagang, daripada jadi kuli bagi orang lain, demikian selalu bapak membujukku. 

"Biarkan aku cari pengalaman dulu, Pak," kilahku saat mulai kerja.

"Kamu di rumah tinggal melanjutkan yang sudah ada, tak perlu memulai dari nol," bujuk bapakku untuk ke sekian kalinya. 

Meskipun jualan kecil-kecilan, buktinya bapak bisa menghidupi keluarga kecil kami. Aku bisa lulus kuliah dengan lancar dan adikku sebentar lagi menyusulku kuliah.

"Aku mau kerja 5 tahun saja. Nanti aku janji akan pulang," selalu aku membela. 

Sejak lulus SMA sebenarnya bapak sudah tak setuju dengan keputusanku mengambil jurusan teknik. Lulusan teknik akan menjadi kuli dan bekerja untuk anak jurusan sosial.

Dengan keyakinan tinggi, meskipun dengan kemampuan terbatas, bapak menyuruh aku mengambil jurusan ekonomi. Agar kelak bisa melanjutkan usaha bapak jika beliau sudah tua nanti. Jika menjadi pedagang, hari libur bisa ditentukan sendiri. Pemikiran-pemikiran bapak selalu menghantui perjalanan masa trainingku. 

Malam ini, setelah menikmati guncangan ombak angin utara tadi siang, aku keluarkan laptop. Lalu mulai mengetik satu kata "Pendahuluan". Kami mendapat tugas untuk menyusun laporan akhir dengan mengambil satu tema yang berhuhungan dengan apa yang sudah kami pelajari di Attaka Field ini. 

Hingga malam selarut ini, aku masih belum juga mengetikkan kata tambahan. Pesan singkat bapak tadi sore benar-benar masih menghantuiku. Aku rebahkan badan di tempat tidur yang selebar delapan puluh sentimeter ini. Tak seberapa lama akupun terlelap tanpa mimpi. 

#30DWCJilid6 #Day18
#kisahcinta
#kuliminyaklepaspantai
#selatmakazzar


Friday, June 02, 2017

Day 17- Attaka Dikepung Badai

Mendung tebal menggumpal di delapan penjuru mata angin. Awan-awan kumulonimbus hitam pekat memenuhi langit pagi yang kelabu. Angin utara bertiup dengan kecepatan 30 knot dari arah utara ke selatan. Buih-buih putih bergulung di ujung ombak yang sedang mengalun. 

Angin utara biasanya bertiup kencang pada bulan-bulan yang berakhiran "ber". Kapal Kepodang mengantarkan kami pagi itu menuju anjungan Oscar. Anjungan paling jauh di selatan sana. Ombak mengaduk-aduk kapal penumpang dan kami naik anjungan dengan susah payah. Aku bersama Nizar hari itu menemani Pak Samad mengecek anjungan Oscar yang mati tadi malam. Minyak-minyak tak mengalir. Mungkin mati karena tekanan fuel scrubber melebihi yang diijinkan. 

Pak Samad dengan sigap menarik tuas yang bertuliskan "Push to Shutdown", serta merta sumur-sumur minyak dan gas mengalir kembali  dengan garang. Suara-suara cairan hidrokarbon berdesingan melewati tubing produksi, melalui christmas tree, choke body, lalu wing valve kemudian berkumpul menjadi satu di sebuah manifold menyatukan aliran ke anjungan di kejauhan sana. 

Jam makan siang pun tiba. Boat Perkutut terguncang-guncang mengantarkan makan siang kami. Ombak masih menggila, di kejauhan sana tampaknya hujan sudah turun dengan lebatnya. Yang tampak hanya blur kelabu menutupi pemandangan laut. Setelah menyantap makan siang dari sebuah nasi kotak, angin berhembus makin kencang. Nampaknya badai akan menghampiri anjungan tempat kami mampir ini. 

Tak sampai semenit, hujan turun begitu lebatnya mengguyur anjungan berwarna kuning ini. Kami bersembunyi di balik sempitnya "dog house". Kami berempat duduk berhimpitan untuk mengurangi panas badan yang bisa membuat menggigil kedinginan. Nizar menunduk lesu mendekap lutut dan mulutnya komat-kamit. Pak Samad duduk di sebelahku dengan tenang. Tangan kanannya masih sibuk memainkan gunting kuku yang sedari tadi ia genggam. Aku bersedekap dan kakiku bersila, sambil bersandar di dinding dog house seluas 3x2 meter persegi. 

Hujan makin menjadi. Kapal Perkutut yang tadi mengantarkan makan siang kami, tampak berguncang-guncang di seberang sana. Talinya mengikat di salah satu kaki anjungan. Angin bertiup masih kencang. 

Selama 3 jam kami mendekam dalam ruangan yang dingin dan akhirnya hujan mereda, angin sedikit mengendur, namun ombak masih mengguncang dengan garang. Hari pun makin sore. Kami tak ingin kemalaman disini. Tak ingin pula bermalam di anjungan tanpa penerangan ini. Akhirnya kami memaksakan diri turun menuju boat. Tak ada pilihan, kemalaman atau pulang meskipun ombak tinggi menantang.

Perkutut membawa kami menuju Living Quarter. Badan kapal yang kecil mengocok perut kami berempat. Nizar sudah tak tahan, wajahnya pucat menahan mual. Tiba-tiba melompat ke kamar mandi. Muntah sepuas-puasnya. Nasi yang ia santap tadi siang keluar dengan sempurna. 

Satu jam kemudian, setelah melawan ombak dari arah utara. Kami tiba di Living Quarter. Kami melompat cepat ke atas landing boat. Pak Samad yang tahan ombak melihat seekor ikan melompat di landing boat Living Quarter. Ia ambil saja ikan gratis itu yang dihempaskan kencangnya ombak. 

Aku dan Nizar yang masih pucat pasi, langsung menuju kamar dan membuat teh hangat. Meskipun kami sudah di atas anjungan yang diam, tapi kepala kami masih pening, kini giliran badan kami yang terasa bergoyang. 

Tiba-tiba HP ku berbunyi. Sebuah pesan singkat dari kontak yang bernama "bapak".

"Jadi, sampai kapan kamu akan bekerja? Kasi bapak target waktu."

Aku menaruh HP ku tak peduli. 


#30DWCJilid6 #Day17
#kisahcinta
#kuliminyaklepaspantai
#selatmakazzar


Thursday, June 01, 2017

Nonton Konser

Kicau burung di atas pepohonan, daun-daun yang basah sehabis hujan. Dua insan yang sedang kasmaran. Riak lembut air di tepi Mahakam. Ranting bergoyang pohon ketapang. 

Setelah menyantap makan sore sekaligus makan malam kami berdua menuju stadion Segiri menunggangi roda dua. "Pegang erat pinggangku saat kita melaju di atas  dua roda, dendangkan lagu kesayangan," sambil bernyanyi kami tembus malam itu dan penonton sudah memadati konser di stadion yang megah dengan sound system berkapasitas raksasa. 

Tangan kiriku memegang erat tangannya. Berdesakkan diantara penonton yang memasuki stadion. Tampaknya tiket malam itu sold out. Penonton begitu membludak bagai air bah yang mendobrak pintu-pintu bendungan. Tangannya masih ku genggam erat. Denyut jantungnya terasa sekali, menjalar melalui erat genggamannya. Wajahnya yang anggun berkilauan disinari lampu panggung yang menerobos melalui sela-sela penonton. Ah kau membuat aku semakin mengagumimu. Jika boleh tentu aku mau jatuh cinta jutaan kali demi memiliki wajah teduh dengan mata indah itu.

Lagu "Masih" membuka konser. Donnie bernyanyi dengan penuh pesona. Seolah tahu apa yang ada di hatiku. Cabikan gitar Marshal, dentuman drum Rama, betotan bas Dika, dan melodius piano Khrisna memanjakan telinga kami yang kasmaran. Tanpa dikomando penonton ikut bernyanyi. Lagu ke lagu membuat kami makin melayang. Suara drum membahana membuat badan kami ikut bergoyang bersama lagu-lagu cinta Ada Band. 

Tak terasa lagu Manusia Bodoh pun berkumandang, sebagai penutup konser megah malam itu. Semoga aku tak seperti manusia bodoh dalam lagu tersebut pikirku. Akhirnya penonton bubar. Kami biarkan penonton lain berhamburan menuju gerbang. Aku dan Vita memilih mojok di ujung sana sembari menunggu sepi. 

"Kenapa sih kamu mau kerja di laut? Bukankah lebih enak kerja di darat. Kerja kantoran, pakai seragam." 

"Kerja di laut itu ibarat berpetualang. Seru pokoknya."

"Kalau berpetualang kan bisa ke daerah pedalaman Kalimantan. Di sana banyak wilayah yang belum terjamah."

"Loh kalo di laut kan berpetualang sambil kerja. Dibayar pula."

"Kamu mau sampai tua kerja di laut?"

Pertanyaan Vita membuat aku bungkam. Saat ini aku hanya mengikuti aliran sungai kehidupanku. Mengikuti kemana arah angin berhembus. Di saat yang sama kami t'lah keluar stadion utama. Ketika hendak menyalakan motor, aku sedikit terkejut kunci motor tak ada di sakuku. 

"Tadi kan kamu yang ngantongin," seru Vita panik.

"Iya aku ingat aku taruh di saku depan. Tapi kok nggak ada," belaku berusaha tenang. 

"Wah mungkin terjatuh di dalam stadion."

Kami lalu berusaha mencari di antara kegelapan stadion. Lampu-lampu konser sudah mulai dimatikan. Tinggal lampu stadion yang remang-remang. Tak jua kami temukan kunci motor itu. Akhirnya kami pasrah. Kami duduk kelelahan di tepi parkiran. Vita sandaran di bahuku. 

"De. Aku mau bilang sesuatu. Tapi kamu janji gak bakal marah ya," seru Vita setengah berbisik. 

Jantungku langsung berdegup kencang. Deg-degan seperti menunggu hasil ujian. 

"Mmhh iya boleh."

"Mmhhh tapi kamu janji jangan marah ya."

"Iya.. ayo cepetannn."

"Sebenarnya aku dari tadi mau bilang..."

"......"

"De. Sebenarnya... sebenarnya... aku... aku... laper. Kita makan dulu yuk."

30DWCJilid6 #Day16
#kisahcinta
#kuliminyaklepaspantai
#selatmakazzar