Saturday, March 01, 2008

Ombak Liar di Ujung Anjungan

Hari ini adalah hari minggu di minggu terakhir di bulan-bulan awal di tahun tikus ini. Beberapa hari terakhir ini ombak begitu ganas dan orang-orang sebagian besar “tewas” menghadapi kebesaran kekuasaan sang alam. Alam sedang marah dan semua manusia tak berdaya dibuatnya. Kapal-kapal kewalahan bermanuver, kapten kapal tak berdaya menahan kerasnya gelombang dari air laut yang lembut.

Sejak dua hari yang lalu, di tempatku bekerja ini ombak mencapai landing boat di saat pasang yang terjadi sekitar senja menuju malam yang kelam. Malam yang kelam kadang dihias bulan yang habis purnamanya kadang juga dihias mendung yang menggumpal tebal menutup cantiknya dewi Chandra yang harusnya menerangi samudera.
Di suatu anjungan di tempatku bekerja, susunan besi-besi sebagai tempat pijakan di landing boat terhempas oleh gelombang yang begitu liar dan nakal. Hampir semua terhempas termasuk pipa-pipa sebesar jempol kaki yang bengkok tak terkira. Yang bertahan hanyalah pipa-pipa besar yang sudah lebih dari 35 tahun berdiri kokoh memecah gelombang samudera di selat Makassar yang dingin ini. Seleksi alam sudah terjadi. Yang kuat yang akan mampu bertahan menghadapi badai. Meskipun sudah tua, namun pipa-pipa yang sudah terpancang 35 tahun lebih itu masih mampu bertahan mengikuti perkembangan jaman. Mampukah aku kan seperti itu kelak kemudian hari usiaku sudah semakin lanjut? Hanya jaman yang akan menjawab dan kembali bertanya dan terus akan bertanya, apakah aku masih kuat, apakah aku masih mampu.

Suatu ketika, di pagi yang mendung dan angin menderu kencang melebihi kencangnya suara mesin pesawat. Orang-orang sudah pada berkumpul di landing boat yang akan pergi menuju anjungan-anjungan, berkeliling. Aku hanya membisu dan membisu. Dan malam ini seorang kawan yang sudah 30 tahun lebih bekerja di tempatku bercokol saat ini, memasuki hari-hari purnakarya. Semoga beliau sukses dan tetap sehat di tempat yang baru.

Feb 25, 2008

Kuningan yang tak "Kuning"

Pagi ini, hari pertama kerja, seperti "Monday"-nya pekerja kantoran yang tidak disukai kebanyakan karyawan. Cerita soal Kuningan, aku sudah di kampung 3 hari sebelum Kuningan.

Kuningan kemaren aku nangkil di desa tetangga, jam 12.30 tengah hari, dengan harapan bisa sembahyang sebelum Ida Betara "mandi" ke Beji pada jam 13.00. Siang itu begitu panas dan menyengat. Pertama karena memang udara sedang panas, tengah hari bolong pula. Kedua, angin laut yang biasanya semilir dari arah selatan kini tertutup oleh bangunan baru, yang katanya pertokoan baru, yg berdiri congkak menghalangi angin sepoi-sepoi yg masuk ke area pura. Antrian cukup panjang dan rasanya enggan berdesak-desakan seperti itu karena pasti keringat akan tercucur deras dan juga pikiran jadi tidak konsen untuk melakukan ritual sembahyang yang mustinya butuh ketenangan, tidak ketegangan akibat desak-desakan diantara pakaian wanita transparan.

"Ini sudah tradisi", kata paman saya yang ikut dalam rombongan.

Apa mau dikata, saya juga akhirnya larut dalam antrian dan masuk berdesak-desakan melalui lawang yg memang didesain sempit hanya cukup lewat 1 orang. Tampaknya harus ada inovasi terhadap desain "pintu masuk", menyesuaikan dengan peradaban manusia yang kian hari kian berlimpah. Atau leluhur kita memang dengan sengaja mendesain seperti itu dengan harapan: masuk secara pelan-pelan, satu-satu dan tenang. Konsep leluhur yang awalnya memang bagus, dalam perkembangan selanjutnya menjadi berbeda. Sampai di dalam juga masih panas, karena memang tidak ada angin sedikitpun berdesir. Di areal sembahyang didirikan deretan bambu dengan "atap" kain-kain kavan putih/kuning yang dibentangkan di atas kami, seadanya dan saya kira tidak menyelesaikan masalah untuk melindungi umat dari panas. Hanya semacam formalitas.

Pemandangan selanjutnya adalah pemandangan biasa dari turun temurun dan (sekali lagi, katanya), sudah tradisi, yaitu sisa-sisa sarana sembahyang, mulai dari kwangen hingga bunga, dibiarkan begitu saja berjatuhan di atas lantai Pura yang sudah disemen permanen. Para petugas datang memungut kwangen tapi kemudian hanya mengambil sarinya saja, lalu menjatuhkan kembali kwangen tadi tanpa ekspresi berdosa sama sekali. Lalu, dengan muka merah karena panas, aku berusaha duduk bersila di sudut areal sembahyang ini, tetap dalam kondisi panas. Kucoba untuk menenangkan diri. Mungkin ini yg disebut tapa. Dalam kondisi ini kita diuji, seberapa kuat dan mampu, dalam situasi tak mengijinkan kita mengkonsentrasikan diri. Inilah mungkin tapa sesungguhnya. Di sela-sela sengatan panas, di sela-sela kebaya-kebaya tembus pandang ABG-ABG dan ibu-ibu muda yg menggoda iman, disela-sela petugas yang terasa "matre" dan di sela-sela umat yang harusnya membereskan segala sarana sembahyang seusai mereka duduk bersila hening, lalu memasukkan ke dalam tempat yang sudah disediakan. Aku berniat melakukan yang terakhir, tapi kembali aku mengurungkan niatku, karena memang disana tak ada secuil tong sampah pun.

Ah..terlalu cengeng mungkin aku menghadapi godaan ini, atau barangkali aku terlalu mengeluh menghadapi cobaan ringan ini, atau kita memang harus dan perlu berbenah diri. Tradisi yang memang perlu diperbaiki apakah musti tetap dipertahankan hanya demi image Pulau ini yang sudah terlanjur "art" dan sejenisnya dan hanya demi mempertahankan image ini? Apakah ini hanya menguntungkan pelaku-pelaku pariwisata yang mengejar keuntungan demi kantong pribadi? Ah..aku kembali tak punya jawaban atas pertanyaan retoris ini.

Lalu, kembali aku hanya duduk hening, dengan tekad bulat dan pranayama yang sempurna, aku berhasil menembus ruang dan waktu, seolah hening di tengah-tengah keramaian waktu itu.

Usai sembahyang, dari "meeting kecil" bersama keluarga yg lain, kami memutuskan ikut ke Beji bersama ratusan umat. Di sudut-sudut tersembunyi hanya ada 2 orang pencuri moment. Satu dengan kamera Nikon D40x, bule dengan kamben seadanya dan satunya, bule juga, dengan kamera video kelas berat merk Canon. Tak ada kulihat kamera dengan logo BaliTV, Dewata TV apalagi Jimbarwana TV. Semoga pikiran positif, datang dari segala penjuru.

Ruangan gelap di sudut anjungan; Feb 13, 2008

3 Maret 2008

Hari ini adalah hari paling bersejarah dalam hidup manusia, khususnya aku. Namun tak ada acara special, tak ada ucapan selamat, tak ada pesta pora apalagi pesta makan malam berhias lilin-lilin mungkin nan indah.

Tak kusangka, semuanya sudah berjalan begitu saja, sudah lebih 3 tahun dari seperempat abad aku berlalu dalam putaran roda-roda bumi berputar mengelilingi matahari. Siang malam menjadi saksi dan terang gelap seakan irama yang membuat tempo jantungku selalu berdegup dan membiarkan setiap darah mengalir memenuhi rongga-rongga kapiler dan pembuluh darah dalam jiwa dan ragaku. Aku tak kuasa menahan sedih yg sedang kujalani, aku sedang frustrasi.

Belasan bunga sudah kupetik namun tak satupun terasa tepat menghiasi taman rinduku. Ada bunga layu, ada bunga yang sedang bersemi, ada bunga yang tumbuh tersembunyi namun tak berani menampakkan diri. Ada bunga yang baru saja mekar, baru saja dipetik dan wanginya harum semerbak. Kumbang-kumbang berlalu mengoda dan bergejolak hatinya tatkala sang bunga berkelebat senyum renyah menghias mahkota kembang yg beraroma semerbak. Daun si bunga justru menutupi dan menampik setiap tukang petik bunga dan durinya yg tajam sanggup melukai hati setiap insan yang tak kuasa menahan derita. Begitu juga, hendak ku petik namun cobaan itu jua datang padaku yang naif. Ku berjalan lambat-lambat mendekati bunga dan kuintai pesona yg dialirkannya ke dalam sekujur pembuluh nadiku. Kukaitkan dengan irama cinta dalam hatiku agar irama itu indah berpadu, dan kini sedang dalam tempo yg indah dan mengundang selera. Ku sematkan jariku hendak menggapai dahannya dan kusibakkan biar bunga gampang ku petik. Namun duri tangkainya seolah menyerbu jari-jariku yg kian kasar. Menusuk, menerobos dan menghebuskan racun-racun kebencian di dalam aliran darahku, tepat di pembuluh darahku. Darah mengucur dan racun merayap dalam setiap hentakan pompaan jantungku dalam darah. Aku terkesiap dan meronta, menahan sakit, racun sudah menusuk hati namun kekuatan hati untuk menetralkannya sudah tak kuasa lagi. Aku terlena dan membisu, tak satu katapun yg keluar lagi hanya untuk sekedar merayu. Tak ada cerita yang pantas kuceritakan, karena durimu sudah menyakiti hatiku yang paling dalam. Hatiku sudah tersiram racun-racun mematikan dari balik kungkungan pikiran masa lalu, jaman Siti Nurbaya yang dijodohkan secara paksa dengan orang yang disukai orang tuanya.

Aku hanya berlagak bego, sejujurnya racun itu sudah membuatku lupa daratan. Hendak ku patahkan batang-batang berduri itu namun aku tak sanggup. Tanganku seperti dipegang dan diikat oleh takdir yang melarang aku melakukannya. Aku hanya bisa tertawa dan tertawa sambil terbahak hingga keluar air mata. Aku tertawa...

Tuesday, January 22, 2008

Aku, Bis Kota, Microlet dan Taxi kota.

Di suatu siang yang cerah dan cerah sekali, silau. Langit biru dihias awan yang putih besih bagai salju. Sungguh dramatis sekali awan siang itu, membuat ingin ku abadikan, tapi aku sedang tak membawa alat perekam itu. Aku mau pulang saja. Panas dan silau ini membuatku ingin segera beranjak naik bis kota, ke luar sana. Ke tempat yang sepi dan lepas dahagaku dengan air yang segar sepanjang masa.

Oh..malang sekali nasibku. Udah lama ku menunggu Bus Kota di halte yang sepi tiada teman itu. Tak kunjung satu pun bis kota yang mau menghampiri tak juga angkutan kota lainnya. Apalagi taxi yang tarifnya menggapai langit, hanya membuat kantong kempesku tambah kempes bahkan kalo bisa, cekung ke dalam saking vakumnya tekanan dalam kantongku yang hampir bolong, karena sering kumasukkan tangan menggapai kosong. Sudah lama ku tak naik bis kota, tak tau lagi gimana rasanya. Aku bimbang antara bis kota atau microlet atau naik taxi. Dia sebenarnya senang sekali jika ada taxi yang mau hampiri, namun apa mau dikata, orang tuanya cuman ngasi sangu yang cukup untuk bis kota. Angkutan murah meriah, bisa buat kemana aja. Tak rewel dan penuh pengertian. Meskipun banyak copet berkeliaran berpenampilan layaknya penumpang profesional.

Suatu ketika ku coba menghentikan sebuah bis kota yang lewat kencang di depannya. Mendadak sang bis berhenti dan hampir membuat mobil di belakangnya menabrak pantat bis kota yang bohay dan lebar tentunya. Namun tak jua aku naik ke pintu bis kota yang sudah mulai berkarat itu. Walaupun bis kota ini terbilang baru, namun penampilannya kumal dan lusuh. Tak dirawat oleh sopir dan keneknya. Malang sekali nasibmu bis kota yang satu ini, kau mendapatkan tuan yang tak ramah tak juga baik menjaga penampilanmu. Tak banyak kulihat penumpang di dalamnya, akupun tak berani naik. Aku takut terpeleset dan di dalam tak ada hiburan yang memadai untuk perjalananku ke luar kota ini, bahkan ke luar pulau, mungkin juga ke luar angkasa. Terbang bersama bis kota yang layu. Aku jadi ragu. Apakah bis kota benar-benar menjadi incaran tumpanganku siang ini?

Tak kunjung aku beranjak dari kumalnya kursi halte yang sepi ini. Tak juga hilang silaunya awan membenamkan aku dalam cerahnya siang yang kosong ini. Tubuhku ada bersama halte, namun jiwaku entah ke angkasa mana terbang bersama lamunan bis kota yang lewat dengan pasrah tadi. Tak ada perlawanan sang kenek, ataupun ajakan biar aku lekas naik. Aku tak mengerti dengan kehadiran bis kota ini. Tak mengerti dengan kebisuan dia, seolah tak bersuara, seolah tak bisa jua menangis. Tak juga mampu guratkan secuil lukisan di awan silau tadi, hingga paling tidak membuat aku tak silau lagi. Oh awan yang menggantung, ajari bis kota ini tuk melaju dengan benar di jalan yang benar. Jangan hanya melaju tanpa berhenti, berhentilah ketika seorang mencegat langkahmu yang gontai. Maka kelak orang itu sudi memasuki ruangan kumalmu dengan puluhan kursi yang tak kalah kumal oleh ganasnya peluru waktu yang menghujam hingga ke sudut jendelamu.

Oh, betapa kering sekali kerongkongan ini. Tak juga ada yang mau menghampiri. Pedagang asong yg di ujung jalan itu hanya termangu, menatap serius dengan lamunan, awan yang silau di atas sana. Biru atau putih yang ia amati, sama sekali aku tak peduli dan tak mau tau. Hingga akhirnya sebuah microlet mencoba menghampiri aku. Aku masih terdiam terpaku. Apakah di berhenti untukku saat ini? Aku coba bertanya. Tapi sang sopir hanya memandang kosong ke arah awan putih silau tadi. Aku tak bisa menggapai awan itu Pak sopir. Seandainya bisa, sudah ku cabik-cabik awan itu sejak tadi aku berdiri disini. Agar silaunya tak membuat orang teralihkan perhatiannya ke atas sana. Dan juga, para penumpang di dalam microlet semakin terlena oleh bengong pak Supir yang melongo tanpa basa-basi. Tak jua ku berani beranjak dari tempat dudukku yang sekarang sedikit ku geser ke depan. Berharap, ketika sang supir melambai, aku segera bisa mengangkat pantatku tuk segera masuki microlet yang juga tak kalah kumalnya daripada bis kota tadi. Segenap jiwa dan raga ku curahkan untuk bertanya pada langit biru di atas sana. Tapi tak kunjung mendapat jawaban yang pasti. Sang langit hanya menyemburkan awan-awan putih yang hampa dan tak ada isinya. Seluruh jagat raya dibuat bingung oleh tingkah polah sang langit biru. Aku juga tak kalah bingungnya dengan jagat raya.
Dan diantara kebingungan itu, aku beranjak ke tengah jalan dan kuusir microlet itu dari tepi jalan yang semakin lama semakin sepi itu.

Aku pun berjalan gontai menuju ke tepi. Tak tau apa yang musti ku perbuat, biar paling tidak ada sebuah microlet yang bisa kutumpangi ataupun paling tidak bis kota yang bisa ku masuki untuk sekedar melepas lelah ini. Tak kunjung taxi juga datang. Tanpa merasa berdosa, sang matahari mulai mendekati garis cakrawala. Awan-awan pada berduyun-duyun menemani sang matahari mendekap cakrawala. Sinarnya yang mulai kuning, membuat silau awan tadi menjadi menguning. Tak sesilau tadi siang. Namun, sang matahari masih lama juga tenggelamnya. Masih menunggu sinar merah ke luar dari tubuhnya, baru kemudian ia melepas siang dan segera mengenakan seragam hitamnya dan malampun jadi penguasa di jagat raya ini.

Tak disangka, di sela-sela keemasan kuning sinar sang matahari, ku berpacu mengejar sebuah taxi yang cukup kencang berusaha berhenti menghampiri aku. Seolah-olah sang taxi tak cukup kuat menahan laju kecepatannya sendiri dengan remnya yang sebenarnya baru dibengkelkan dua hari yang lalu. Aku juga tak kalah cepat mengejar taxi yang rem-blong itu. Tak juga kuat aku mengejar, aku teruskan saja dengan langkah gontai. Taxi terlalu cepat dan aku tak sanggup berlari lagi. Namun tiada kusangka, dia menghampiri dengan berjalan mundur. Aku coba bangkit dari gontai ini. Sinar keemasan mentari memantul dari kaca spion taxi ini dengan cukup kuat dan membuat hanya melihat kunang-kuang di balik sinar putih kapas, sesilau awan yang bagai kapas siang terik tadi. Aku bangkit, sang taxi masih mundur. Aku berusaha mendekat, sang taxi malah maju. Seolah ada yang menarik taxi dari depan. Aku berjalan lebih cepat lagi, tapi sepertinya ada penumpang lain di depan yang seolah-olah mampu menarik perhatian sang taxi begitu dalam. Aku tak sanggup lagi. Aku ingin terbang tinggi ke sinar mentar yang kekuningan itu. Ingin rasanya kusiramkan ke segenap tubuhku, hingga tubuhku berwarna kuning. Sehingga aku bisa berkata bahwa tubuhku memang kuning. Bukan hijau seperti yang dulu kau ketahui.

Aku ingin menyelam ke dasar samudera membawa sinar kuning keemasan kuning mentar tadi. Biar ikan-ikan yang tak pernah ke luar dari dalamnya samudera bisa mengerti bahwa sinar mentar itu hangat dan mampu menyejukkan di kala embun pagi sedang menggantung di ujun daun. Wahai sang laut, antar aku ke dasarmu dan ajari aku cara menyelam, kelak semuanya akan berpadu. Sinar mentari akan menari di atas gemercik air lautan, ditemani awan putih yang dipeluk mesra langit biru. Dan sang taxi bisa melaju tanpa henti, mengantarkan aku ke dasar samudera yang biru itu....


Anjungan, 22 Januari 2008

Oscar 1 Januari 2008

Hari itu mendung, awan hitam bagai selimut, selimuti langit hingga ke kaki langit yang terdampar di ujung samudera. Awan hitam, tiada putih sedikitpun dan tebal menggantung di ujung utara dan selatan anjungan tempat kami berempat berpijak. Semua sudah makan siang dan kamipun tertidur dengan pulas setelah kalori yang habis diisi ulang oleh makanan yang tak dihangati yang dimasak malam tadi. Sungguh tragis.

Dan kamipun terbangun oleh dentuman petir dan geledek yang menyambar-nyambar. Salah satu dari kami masih tertidur pulas, entah takut atau memang ngantuk menghadapi badai yg sebentar lagi menghantam. Di ujung sana, daratan sudah tak terlihat, di ujung sana lagi, anjungan lain yang biasanya terlihat titik-titik saja kini memudar ditelan derasnya hujan dengan angin yang menggila. Kami hanya termangu dan masuk ke dalam ruangan yang lebih layak disebut rumah monyet daripada ruang kendali yang sengaja disiapkan sekedar untuk duduk dan melepas lelas dan juga menghindarkan diri dari serangan angin atau hujan seperti sekarang ini.
Petir kembali menyambar di kejauhan sana dan guntur menyahut beberapa detik kemudian.

Pintu akhirnya ditutup rapat-rapat. Kami menggigil di dalam dengan dingin dan sepakat melepas sepatu; kami duduk berhimpitan agar panas tak terlalu cepat hilang. Kawan yang tadi masih tertidur, kini semakin tak bersuara. Entah sudah pulas atau hanya ingin melarikan sejenak diri dari kenyataan yang berbadai ini. Kecepatan angin saat itu kurang lebih 50 knot. Cukup kencang dan tak akan sanggup berdiri dengan tegak ketika kita berdiri di ruangan terbuka tanpa penghalang.

Salah seorang yang lain dari kami, mencoba untuk tetap membaca berita dari koran yang sudah telat seminggu dengan kaca mata minusnya yang agak tebal dan dengan penerangan yang semakin redup yang ia dapatkan dari sela-sela seng penutup ruangan yang sedikit terbuka. Namun tak berani ia buka lebar-lebar karena takut akan menyusupnya air hujan dengan anginnya yang tak berperikemanusiaan sore ini menghadang kami.

Kapal yang mengantar dan menunggu kami di luar sana terombang-ambing tak karuan. Di saat menit yang lalu arus mengalir dari tenggara ke barat laut dan sang kapal pun terseret arus ke arah barat laut, namun beberapa saat kemudian, angin sudah berubah arah dari timur laut menuju barat daya. Tali-tali pengikat kapal yang cukup panjang berputar berlawanan arah seolah hendak mengikat dan melilit kaki-kai anjungan tempat kami berpijak ini. Tak ada yang terlihat berada di deck kapal atau pun kelihatan di dalam di balik kaca kapal yang terlihat suram oleh derasnya hujan sore itu. Sore itu adalah hari pertama di tahun yang baru, 2008.

Hari itu juga, kami cukup puas mengistirahatkan diri setelah semalam sebelumnya menikmati pesta musik dangdut malam tahun baru di deck puncak bersama-sama teman-teman semuanya. Pesta yang dimeriahkan artis-artis itu cukup menarik untuk kuabadikan dari balik bidikan mainan besi kesayanganku. Sayang batreku habis, sehingga tak banyak moment yang didapat dari wireless flashku. Namun rasa ngantuk akibat malam kemaren, terbayar sudah siang ini dengan tidur pulas tanpa dosa, makan gaji buta. Salah seorang di antara kita yang lain lagi terlihat hanya bisa bersandar di pojokan ruangan yang kian menit kian bertambah dingin ini. Air hujan dengan angin kencang ini semakin menyusup dari sela-sela nako besi yang berlubang di setiap selanya. Cukup besar, cukup untuk masuknya ribuan titik-titik hujan ke dalam ruangan yang kian menit kian dingin ini. Kami tutup dengan remasan koran-koran yang sudah basi yang lainnya. Sang teman yang bersandar tadi kembali memperbaiki posisi duduknya, memperbaiki posisi bersandarnya, berusaha mendapatkan tempat yang senyaman mungkin di tempat yang paling tidak nyaman ini. Akhirnya teman ku yang membaca koran tadi menyerah juga, dia mengakhiri membaca koran basinya seiring petir menyambar udara kosong untuk ke sekian kalinya.

Hujan masih saja turun. Sebenarnya kekuatan menghadapi badai ini juga karena nanti malam aku sudah beranjak dari anjungan sana menuju ke habitatku apa adanya, bersama-sama semua. Entah kekuatan itu memang kita miliki atau kiriman dari alam atau kekuatan itu bangkit karena energi alam mempengaruhi energi manusia. Ya sudahlah, yang penting di antara badai itu kami terpaku selamat dan tak tersentuh sama sekali oleh air hujan yang meledak-ledak dengan arogan... Selamat tahun baru 2008. I'll be missing this moment...