Gambar menunjukkan trending penggunaan HP dan apps saya selama sebulan. Terlihat 5 besar apps yg paling sering digunakan adalah Chrome, FB, IG, WA. 25% browser, 50% media sosial dan 25% chatting apps. Mmhhhh...
Monday, December 28, 2015
Sunday, December 27, 2015
Naik Kereta Mutiara Timur
Saturday, December 12, 2015
Ini Pasti Salah Para Fotografer.
Prihatin dengan cerita dan keluhan kawan-kawan fotografer profesional akhir-akhir ini. Baik yg senior, yg agak senior maupun yang akan senior. Dahulu kala dimulailah trend kamera DSLR dan waktu itu baru segelintir yg "berani" memiliki. Mereka ini adalah fotografer peralihan dari jaman film ke digital. Kemudian era bisnis fotografi digital pun dimulai. Yang udah merasa senior merasa wajar mematok harga agak di atas rata-rata. Kemudian datanglah para tukang foto yg baru beberapa bulan beli kamera, belajar dengan giat dan cepat dan secara cepat pula merasa sudah pantas menyematkan "photography" di belakang nama masing-masing, menorehkan watermark di setiap foto yg dikaryakan. Kemudian mereka mulai mencari client dengan "banting harga" semurah-murahnya dengan dalih yang penting buat belajar, buat cari pengalaman. Uang tiada artinya dibanding pengalaman berharga, demikian semboyan hidupnya. Singkat cerita sang fotografer yg sudah merasa lebih senior jadi berang. Si fotografer "banting harga" dituduh merusak harga dan membuat client-client fotografer yg merasa senior lari mencari yg lebih murah.
Karena merasa lelah, si fotografer yg merasa senior pun ikutan banting harga. Dengan harapan dapat client dan bisa makan ataupun bayar cicilan. Namun tentu karena jam terbang mereka yg lebih lawas, kualitas hasil karya mereka tidaklah ikutan dibanting. Mereka tetap memotret dengan hati dan jiwa mereka. Ciehhhh...
Kalo dipikir-pikir sebenarnya ini kesalahan sang fotofrafer itu sendiri. Gimana gak salah:
1. Para client yg tak paham artinya seni hanya butuh hasil foto dengan kualitas 3 MP tapi sang fotografer yg merasa senior memakai kamera full frame yg harganya "you know lah".
2. Sang client hanya butuh foto sekualitas lensa kit tapi sang fotografer yg merasa senior pake prime lens dgn f/1.2 seharga lebih mahal dari honda vario seri terbaru.
3. Sang client yg tak paham seni hanya butuh editan sekelas kamera 360 tapi para fotografer yg merasa senior ngedit foto pake berlayer-layer di Photoshop.
4. Para client yg konon tak terlalu mempedulikan seni hanya butuh lighting aster (asal terang) tapi para fotografer yg merasa senior bela-belain ngeset 3 lighting dengan teknologi wireless terkini.
5. Para client yg hanya mengutamakan harga murah hanya butuh kualitas lighting yg penting meriah tapi fotografer yg merasa senior bela-belain bangun subuh mengejar golden hour agar dapat lighting sekualitas fotografer kelas dunia.
6. Para client yg facebook oriented atau instagram minded cuma mau fotonya diupload ke FB or IG saja tapi para fotografer yg merasa senior pake kamera yg bisa nyetak sepintu.
Ya itu semua salah kalian wahai para fotografer yg merasa senior. Kalian terlalu hebat untuk kebutuhan pasar yg demikian adanya. Maaf hanya becanda ya. Jangan terlalu serius... :)
Naskah Stand Up 2015
Ketika pertama kali ke Attaka 12 tahun lalu, kami diantarkan Sarah dan Indriyani dari Santan menuju Attaka. Saat tiba di Attaka bulu ketek saya merinding, saya melihat orang2 bergelantungan di pinggir hand rail dan ketika itu saya merasa seperti akan memasuki alkatras.
Pertama naik ke Attaka saya dibilang mirip Anang. Ketika SMA saya malah dibilang mirip Van Damme. Anda kenal Van Damme? Kalo kenal berarti anda sudah tua. Hehe.. Jadi ya gitu deh. Orang2 nganggap saya mirip Anang dan Van Damme. Padahal saya merasa mirip brad pit.
Kosakata unik yg saya temukan di Attaka waktu itu adalah "pembualan". Waktu itu memang banyak yg suka pembualan. Ada namanya senior instrumen Om Erik Latuperissa. Dia itu pembualan tapi ndak pembualan banget sih. Dia bilang gini "Kalo saya foxboro recorder itu dulu saya gendong sendiri waktu masih muda".
Ada orang elektrik lebih pembualan "Kalo saya motor 75 Hp saya angkat sendiri waktu masih muda". Orang mekanik ndak mau kalah "Saya diesel fire water pump saya angkat sendiri". Lalu datang TM operation gak mau kalah "Kalo saya cuman angkat telpon aja maka semua yg tadi itu terangkat hehe." Pembualan kan?
Di Attaka juga kemaren kena demam batu akik. Semuanya bawa akik. Pas kerja bukannya gosok panel biar mengkilat eh malah gosok batu akik.
Ya lebih baik gosok akik lah Daripada gosok pantat teman. Yang paling demam tuh namanya Mas Gatot. Dia orang HES. Akiknya besar2 lagi. Tapi lebaran kemaren saat pulang kampung dia dikomplin saudaranya. Sebabnya karena batu akiknya kebesaran, semua ponakannya benjol saat sungkeman.
Saya tinggal di bali dan udah 10 tahun jadi komuter. Pengalaman paling indah adalah kalo naik lion JT737 900 ER di kurai 30F. Yang didepannya ada pramugari itu. Tinggal taruh meja trus kasi lilin jadi deh candle light dinner. Tapi jadi bencana kalo yg duduk bukan pramugari. Tapi pramugara. Sepet mata.
Ngomong soal candle light dinner. Orang balikpapan tuh ndak perlu ke restoran mahal2 utk candle light dinner. Tunggu aja giliran mati lampu. Beli nasi bungkus nyalakan lilin jadi deh candle light diner yg murah meriah.
Selama komuting ada satu cerita lucu dari mesin2 pemanggil penumpang. Mungkin petugas pemanggil penumpang ini mantan MC musik rock. Waktu ini lidahnya keseleo. "Para penumpang Lion Air JT922 jurusan Denpasar silahkan naik ke atas panggung".
Reformasi Sembahyang Hindu Bali
Seiring perjalanan waktu, budaya pun mengalami perubahan mengikuti perkembangan jaman. Tata cara melaksanakan tradisi berubah mengikuti pola kehidupan manusia terkini.
Bukan hanya tugas wayang ceng blong memberikan pencerahan religi tapi tugas petinggi phdi dan adalah tugas kita semua agar umat menjadi lebih pintar tercerahkan dan tidak menghadapi kegamangan beragama.
Di saat umat lain sudah pada tahap "mengajak" umat lain memasuki agamanya kita masih pada level bingung menentukan besok mau beli apa untuk nangkil ke pura mana.
Beberapa hal yg perlu revolusi mental proses budaya dan agama Hindu di Bali.
- sampah kwangen
Kita sering melihat saat sembahyang di pura sampah kwangen atau canang berserakan di halaman pura. Kalau petugas kebersihan pura cepat tanggap maka pemandangan itu akan cepat berubah menjadi bersih kembali. Alangkah indahnya jika kita sebagai umat Hindu yg cinta damai juga cinta kebersihan memungut sendiri sampah2 kwangen tersebut, lalu secara sukarela membuang pada tempat sampah yg tlah disediakan. Di satu sisi kita melatih hidup bersih mulai dari pura. Disisi lain kita meringankan pekerjaan para petugas kebersihan pura.
- masuk pura tdk bisa antri
Sering lihat kan ketika kita tangkil di sebuah pura2 besar di bali, misalnya pura besakih, batukaru, tanah lot hingga pekendungan. Umat kita memang masih perlu belajar soal antrean kepada bebek. Umat lebih suka berdesak2an saat memasuki jeroan pura via kori agung yg hanya bisa dilewati 1 orang. Belum lagi suasana panas siang hari atau ada yg sambil menggendong anak kecil. Sembahyang bukan hanya soal nyakupang tangan tapi juga melatih kesabaran mulai dari sebelum memasuki pura hingga bersabar antri keluar kori ketika sembahyang sudah selesai.
- dharmawacana tiap sembahyang purnama tilem dan rainan lainnya
Kita tahu umat hindu di bali hanya dijejali upacara dan upacara. Orang bijak berkata pesan filosofis sudah menempel pada simbol2 yg kita pakai sebagai sarana upacara. Sayangnya informasi itu hanya sebatas simbol filosofis yg mungkin tidak pernah tersampaikan pesannya kepada umat gegara memang tidak pernah ada yg menyampaikannya. Dharmawacana 10 atau 15 menit sebelum upacara dimulai saya yakin akan memberikan pencerahan umat. Trus siapa yg akan memberikan dharmawacana tiap sebelum sembahyang? Pemangku sudah terlalu sibuk dengan prosesi upacara. Harusnya siapa saja yg merasa bisa membawakan dipersilahkan untuk memberi pencerahan. Dicap sok pintar? Ahhh itu kan pemikiran lama. Mari kita revolusi mental. Mulai dari pura kita masing2.
- penyederhanaan upacara ngaben
Upacara ngaben sering menjadi sorotan betapa umat kita suka berfoya2, bermewah2 dalam melaksanakan upacara ngaben. Ada sebuah komentar dari salah seorang petinggi upacara " pidan buin ngetohin rerama?" Tentu saja kita tdk ingin terbawa arus gelombang euforia ngaben berlebihan. Kembali kepada ajaran agama dan sastra adalah satu2nya pilihan. Kita sebaiknya kembali kepada ajaran ngaben yg esensial sesuai intinya. Intinya pada pembakaran jasmani yg sudah meninggal bukan pada jor2an, mewah2an upacara. Ngaben massal adalah salah satu solusi dgn dana yg minim karena ada share cost.
- kenapa ogoh2 harus mahal
Setiap tahun dana untuk mengarak ogoh2 begitu hebatnya sehebat semangat anak2 muda pengusungnya. Menarik pariwisata? Apakah kita mau beragama dgn penuh kepalsuan? Beragama hanya untuk menarik pariwisata? Saya tidak anti ogoh2 namun mari kita realistis saja.
Ogoh2 bisa dibuat lebih sederhana sehingga dananya misalnya bisa kita pakai memberikan sumbangan kepada tetangga kita yg kekurangan. Jadi ada ritual sehabis mengarak ogoh2 selain membakar yaitu mengunjungi sanak tetangga yg kurang mampu dgn memberikan bingkisan hasil sisa dari membuat ogoh2, misalnya.
- iringan upacara tdk mengambil penuh jalan, tp separuh saja
Salah satu kemacetan terjadi tatkala kita melakukan upacara misalnya melasti atau ngaben. Kadang kita lupa jalanan adalah milik umum. Kadang kita dgn pongah menggunakan seluruh jalan dan menyetop semua kendaraan baik dr depan maupun belakang. Alangkah indahnya misalnya kita berbaris rapi 3 atau 4 sap, menggunakan hanya separuh jalan dan masyakarat lain pengguna jalan bisa tersenyum manis lewat di samping kita yg sedang melaksanakan upacara.
- harga banten yg membubung tinggi
Kita tahu banyak ibu2 mengeluh kita tahu masyakarat sebenarnya menggerutu tatkala membeli banten dan mendapati haganya setinggi meru pura. Tidak relevan menghubungkan iklas tidak seseorang dgn tinggi rendahnya kemampuan membeli banten. Sudah saatnya petinggu hindu bali/ indonesia menyadari arus bawah seperti ini agar meyadnya menjadi hal yg iklas bukan malah memberatkan.
- penyeragaman harga banten
Dan sudah saatnya petinggi organisasi hindu membuat standarisasi harga banten dan penyeragaman sarana upakara. Agar di satu tempat dan tempat lainnya sama antara sarana upakara dan upacaranya termasuk harga yg sama.
- penyederhanaan sarana upacara
Dengan mengetahui esensi dari setiap upacara maka kita akan tahu mana yg perlu dan mana yg tidak perlu. Pengetahuan akan esensi ini hanya dimiliki oleh2 para petinggi2 hindu bali. Oleh karena itu mari kita bersama belajar lebih dalam agar kita hanya melaksanakan upacara yg menjadi esensi saja bukan melaksanakan sesuatu yg mubasir. Singkirkan yg tdk perlu dan sederhanakan yg ada agar lebih hemat waktu tenaga dan pikiran.
- acara adat (ngaben, melasti, mepandes masal dll) tdk membuang sampah sembarangan.
Pernah lihat upacara melasti, ngaben massal atau mepandes massal? Bisa kita lihat apa yg terjadi sehabis upacara. Sampah berhamburan di mana2. Di jalanan di lapangan di rumah2. Apakah ini cermin umat hindu bali yg konon nilai seni dan budayanya tinggi? Jiwa seni yg tiggi berhubungan dgn keindahan. Keindahan berhubungan dgn kebersihan. Harusnya seni berhungungan erat dgn kebersihan. Mengeluh tidak atau kurangnya tempat menampung sampah? Kita bisa gunakan cara klasik misalnya menahan diri untuk membuang sampah semabatangan tapu lebih baik menyimpannya dulu misalnya di saku lalu membuangnya ketika sdh ada tmpt sampah. Banyak cara asal kita mau pasti ada jalan.
-penjor tdk perlu bagus2
Makin hari makin kita amati umat memasang penjor bukan lagi ttg esensinya. Tapi lebih kepada pamer dan saling pibagusin. Tdk ada yg salah dgn penjor bagus. Mungkin yang punya dapat rejeki yg lebih dan memilih utk menganggarkan ke pembelian penjor yg mewah, dibanding, misalnya, menyisihkan sebagian penghasilan utk menyumbang tetangga yg anaknya sudah melewati 3x galungan belum ganti baju safari utk ke pura.
-Laki bali harus rajin. Tdk perempuan saja yg ke pura.
Pernah lihat kan yg ke pura hanya para ibu. Laki2nya kadang hanya mengantarkan sampe jaba pura. Ada yg kabur entah kemana ada jg yg memilih nongkrong di warung pinggir jalan sambil merayu dagang kopu cantik sembari nunggu bininya selesai sembahyang.
Tentu saja ini hanyalah sebagian kecil hal2 yg bisa kita perbaiki atau tingkatkan kualitasnya. Untuk menambah rincian daftarnya mari kita berdiskusi melalui fb group "Selamatkan Bali"
Akhir kata saya menghaturkan geng rna sinampura, mohon maaf jika ada kata2 yg kurang berkenan pada artikel ini.
