Sunday, September 06, 2026

Kisah Asal Mula Keluarga

Hasil meluasang 11 April 2026

Ada keris tidak pakai sarung, pendek sepanjang jari telunjuk.

Ada seorang laki tua pakai tongkat, badannnya kecil, agak bungkuk.
Beliau berkata "saya pendatang disini, tiyang utusan deriki"
Ada keris yang jadi bukti bahwa itu adalah semacam SK, mutasi ke Pandak, diutus oleh Raja ke daerah Pandak. 
Bukan kakek yang bungkuk ini, tapi kakek/buyutnya Pak Ketut Ardi. 

Pertama kali tinggal di sebuah desa, kalau dari rumah menghadap ke jalan, desa asal itu ada di arah  kanan jauh, pertama kali tinggal disana, ada sumber air. Tinggal di desa itu, truna bagus. "Bawa ini, benerin desa disana". Tidak jauh dari sana, ada sumber air dan pasraman. Ada empu yang masih manusia biasa, menunjukkan jalan. Silahkan sekarang praktek, jangan disini, carilah tempat. Dan tinggalah ia di rumah tua di Pandak Gee sekarang ini. 

Rumah saat itu sangat luas, di belakang ada sungai kecil, yang dipakai batas, jangan lewat dari sungai itu. Disana beliau mengobati atau menjadi guru kesaktian, kadang juga ngisinin barang (pasupati keris, tumbak, dll). Ketika dulu jaman perang, mengisi keris energi, tapi tidak membuat keris, hanya nagingin keris saja yang dibawa orang.

Kalau dari rumah menghadap ke timur, di arah tangan kiri, ada kerajaan. Rajanya punya bawahan dan anaknya dikirim ke rumah tua sekarang. Sang Raja kasihan sama si anak karena baik (luwih). Anaknya bawahan raja ini bukan anak sah. Bapak si anak ini menghamili orang lingkaran kerajaan. Si anak ini, karena anak selingkuhan direncanakan dibunuh agar ia tidak mewarisi takhta kerajaan. Sang Raja akhirnya mengungsikan si anak ke luar area kerajaan. Bisa disimpulkan leluhur kita adalah pejabat yang menyamar (nyerod wangsa). 

Akhirnya si anak ini tumbuh semakin besar dan punya istri. Terakhir kali ke rumah asal (di arah kiri) sana dikasi tahu agar tidak usah ke kembali lagi karena bisa-bisa dibunuh oleh ibu tirinya yang jahat. Sebelum pergi diberikan sebuah mata tombak, sebelumnya ada keris juga. Juga membawa tongkat/tungked yang ditanam dan menjadi pohon yang tinggi, leser/lurus. 

Saat merantau/kabur dari kerajaan itu, pertama kali singgah di Pasraman itu. Jangan lagi kembali ke rumah asal, sekedar tahu saja asalnya dari mana. Jika mau berterima kasih dan obet dengan keadaan di rumah, carilah pura asal (kemungkinan di Seseh).

Leluhur kita yg pertama kali datang ke desa ini, punya istri dan anak, situasi aman. Hidup normal sebagai orang biasa. Akhirnya bisa mengobati/metambaan, orang hebat. 
Akhirnya punya cucu tapi mantunya jahat. Cucunya ini yang meneruskan kawikanan ragane. Tapi jaman ini sudah jarang yang ngisinin keris, dipakailah untuk metambaan dan metenungan. Jaman itu sedang ramai tajen, beliau banyak berteman dengan samar. Akhirnya punya istri dan keturunan yang bisa ngeleak. Banyak punya lahan, tapi makin lama makin habis (nguredang-nguredang). Dari sini mulai goyang. Anaknya akhirnya tidak mau melanjutkan kawikanan bapaknya. "Liu irage baange, tapi telah masih". Lama cerita ini tidak ada, tidak ada yang nutugang. 

Anaknya yang sakti ini pernah bilang, dulu ada uang kepeng banyak, yang diberikan para samar. Uang-uang aneh yang bisa dijual kembali dan dapat banyak uang. Ada batu permata, kain rerajahan. Yang ketujuh ini berkata, jangan kesana lagi, ke rumah asal. Jika suatu saat kalian ada kesulitan ekonomi, diuber hutang, dll. Pura Ajin tiyange rereh, tapi tidak diijinkan ke rumah asal. Pura itu terletak di arah kanan dari rumah (selatan/timur/tenggara). Rumah asal itu terletak di arah utara dan ke barat (jika dari Pura). 

Menurut jro dasaran, bukan pasek, bukan pande, tapi leluhur kita Arya. Makanya dipanggil Aji. Sopan sekali. 
Mengapa selama ini kita berkeyakinan Pande, karena leluhur kita dulu ngisin2in senjata, disangka Pande. Padahal hanya Pasupati keris saja, tidak membuat. 

Pura Ciwa saat ini adalah bukan pura leluhur, tapi semacam sekolah/pesraman/pedukuhan. Siapa nanti yang akan meneruskan kepintaran leluhur kita, harus mepejati di Pura Ciwa ini. Orang-orang yang sembahyang kesana tidak semua berguru, ada juga para pasien yang disembuhkan. Jadi kulit para pemedek bisa beda-beda. 

Mengapa keluarga goyang, tidak ada yang nutugang kawisesan beliau. Jika ada yang akan nutugang, aturang pejati, nanti akan dikasi tahu lelintihannya. Akan ditunjukkan bukti bukan pasek, bukan pande. 
Pejati di kemulan dan pura sekolah (Pura Ciwa) ini. Para lelaki keturunannya agak susah menerima masukan orang/bengkung, kecuali mengalami langsung. Padahal sudah ada yang diberitahu disuruh ngiring, tapi meboya, sing ade keto, sing ade keto. Agar tumbuh dari dalam hatinya. 

3 hari setelah ngaturang pejati, melukat dan mepejati di Pesraman/Pura Ciwa.

Di rumah rame sekali. Yang ketujuh ini sangat hebat, bisa teleportasi. Jika mau ke pesraman, tidak perlu jalan. Nyengkerin juga hebat.
Di rumah tua banyak sesuhunan dan gumatap gumitip ini banyak tidak ada yang mengomandoi/jadi pemimpinnya/memberi perintah. Efeknya jadi boros sekali. Di luar berfikir jernih, begitu ke rumah kok tidak nyambung rasanya. Karena yang di Bawah itu paling. 
Tapi bagusnya munyi medaging, kata-katanya dipercaya.