Sunday, April 13, 2008

Cinta di Kursi Panjang

Cinta di Kursi Panjang

Pagi itu, sang mentari belum juga tampakkan diri di ufuk timur. Lampu-lampu jalan dan lampu taman beberapa masih menyala. Petugas kebersihan bandara lalu lalang sibuk melahap sampah jalanan. Mobil-mobil masih sepi di parkiran. Dan pagi itu juga, pagi-pagi sekali aku sudah terjebak dalam aroma fajar di sudut bandara internasional ini. Segera ku kirimkan pesan-pesan singkat untuk perempuan yang masih terbujur lemas di atas pembaringan. Dengan segera ia beranjak dan datang menghampiriku. Matanya masih sembap dan tanda sarung bantal yang lecek masih 'menempel' di pipi kirinya. Namun wajahnya sudah dibilas rapi dengan gaun merah di badannya, kau tampak anggun pagi itu. Kau berjalan menghampiri dengan ceria seolah kita tak kan berpisah pagi ini.

Kami berpindah ke tempat yang lebih romantis. Sudut bandara di depan pintu kedatangan domestik. Satu kursi panjang yang sungguh romantis pagi itu menjadi saksi kisah cinta romantis dua insan yang baru saja dimabuk asmara, sang Kama dan dewi Ratih sedang menguasai kehidupan mereka. Lalu lalang orang-orang tak kami hiraukan, bandara itu seolah milik kami berdua dan kursi itu juga akan menjadi milik kami selamanya. Kursi panjang yang beraroma asmara. Kami namakan kursi itu kursi e-dan-i. 'e' dan 'i' adalah inisial nama-nama kami. Disamping juga menunjukkan bahwa kami sedang edan, edan oleh indahnya asmara.
Matahari lalu menyembul dari balik puncak atap bangunan di ujung sana. Burung-burung bernyanyi riang, bersuka ria seolah sedang menyaksikan kami berdua menikmati pagi yang dibalut embun cinta nan romantis ini. Pohon-pohon perdu di taman bunga bergoyang-goyang dihembus angin sepoi-sepoi mengikuti degup jantung kami berdua, degup jantung sepasang insan dimabuk cinta. Embun berjatuhan terkena sinar mentari yang kian tinggi, aku silau oleh sinarnya, namun hatiku sejuk karena ia ada disampingku. Aku menatap wajahnya, ia menatap wajahku. Mata kami bertemu dan semua sudut bandara terasa hening, sunyi dan semua memutih seolah hanya kami yang duduk berdua di kursi panjang yang akan jadi memori abadi ini. Lalu ia benamkan matanya dalam gelap, segudang meteor berkecepatan tinggi menerobos aliran darahku, membuat degup jantung jadi tak terkendali. Tak terasa ia genggam erat tanganku seolah kami berdua tak mau dipisahkan. Ia memeluk erat tubuhku, aku dibuai mimpi dan kami berdua saling berpelukan penuh rasa yang sangat dalam. Ia peluk semakin erat seolah diriku hanya miliknya, aku juga membalas dengan posesif. Kupeluk dengan penuh rasa, seolah ia tak boleh lepas lagi dari genggamanku.

Sinar putih yang mengelilingi kami perlahan sirna, seolah dihempas suara-suara langkah orang-orang yang lewat di depan kami. Tapi kami tak hiraukan. Semuanya berlalu dengan bisu melihat pemandangan yang biasa namun mempesona.


Ia kembali menatap mataku, sorot matanya seperti menusuk bagaikan panah. Aku tak kuasa menahannya dan kutepis pandangan itu dengan mengecup manis bibirnya. Sungguh dahsyat. Kami seperti tertempel oleh aroma yang keluar dari tubuh kami, larutan kimia sudah menyatu dan panah malaikat sudah bersarang tepat di lubuk hati. Menerjang, mencengkeram dan mengoyak-ngoyak hingga berdarah lalu menyayat dengan sembilu, hingga aku tak kuasa meronta dan kamipun dimabuk aroma kimia yang akan bereaksi dan berlangsung berkepanjangan.


Aku ingin memeluk dia 8 hari seminggu, aku ingin mengecup bibirnya 25 jam sehari dan aku ingin hidup bersama dia 1000 tahun lamanya. Aku ingin mengarungi lautan cahaya, menembus jutaan bintang dan kembali membawa bintang dan kugantung di pohon kedamaian. Lalu kupetik buahnya bersama, kupupuk dan kujaga, demi cinta kita berdua. Aku ingin merobek hatiku, mencabik semua gambaran jiwa lalu memamerkan kepadanya sehingga ia tahu apa yang ada di lubuk yang paling dalam. Aku ingin mencongkel matanya lalu ku masuk menerobos pembuluh nadinya dan kurasakan degup jantungnya, sehingga kutahu, sehingga ku yakin aku akan bisa bersamanya, selamanya. Kekasihku, yakinkan aku. Jangan buat aku kecewa.


Lalu, lamunanku terbuyarkan oleh suara telepon genggam kesayanganku. Suara yang tak asing, pertanda di ujung sana seseorang sedang mencoba menghubungiku. Ia adalah seorang petugas bandara, maskapai pesawat aku menumpang. Pesawat sudah mau berangkat, hanya aku seorang penumpang yang ditunggu. Aku berlari, aku meloncat menembus mimpi dan benamkan lamunan itu dalam gelombang cahaya. Ia kutinggalkan dengan tergesa-gesa. Kecupan mesranya di pipiku membuat aku semakin bersemangat berlalu, membuatku semakin tak tahan tuk segera kembali dua minggu lagi.


Room 313 Friday 11 April 2008 5:48 pm

No comments: