Monday, February 27, 2017

Puisi-puisi Senja Selat Makazzar

Senja dari balik anjungan

Mentari merah memerahkan langit barat
Membentuk garis-garis keras siluet anjungan
Sekeras kehidupan disini
Kapal pun berbayang jadi hitam
Membuyarkan lelah siang tadi

Rantai rantai ponton menguat
Sekuat hasrat dan cinta untuk bertahan
Buoy buoy mengapung
Melayang di atas air laut sedalam ribuan jengkal
Melayangkan rasa rindu yg mengapung di ujung anjungan

Mentari kembali ke peraduan
Kuli kuli minyak kembali ke pangkuan kamar
Menikmati indahnya gemericik air dan pelukan selimut di malam yg dingin
Bermimpi untuk kembali esok hari
Berencana untuk dilanjutkan esok pagi hingga matahari tenggelam di belakang siluet anjungan

MENGAPA
Mengapa harus aku
Jika senja menjadi kelabu
Mengapa harus aku
Jika tawa menjadi kaku

Mengapa harus dia
Jika semua jadi problema
Mengapa harus dia
Jika harus berganti suasana

Mengapa harus senja
Mengapa harus pagi
Semua senyum harus berganti
Semua senja sepi temaram
Rasa rindu semakin jauh
Rasa lelah semakin panjang

Tiga Putri Raja (Gapura)
Akan selalu kurindukan
Setiap kaki-kaki melangkah
Setiap roda-roda bergulir
Setiap sayap mengepak
Menyeberang ke utara

Meskipun jarak memisah
Namun pesing dan masammu
selalu menempel di kepingan senja
Tawa renyah gadis-gadis kecil
Selalu menggema di telinga kanan
Masuk ke telinga kiri menyatu menjadi rindu

Setiap tangis maupun candamu
Adalah penawar dikala lelah
Adalah obat di kala luka
Adalah canda di kala duka

Tumbuhlah cepat anak2 gadisku
Ada sahabat baru adik kecilmu yg coklat
Tukang netek yang tak kenal lelah
Ajak dia bercengkrama dan jemurlah setiap pagi
Agar kelak kaki-kakinya kuat mengejarmu berlari

ATTAKA
Berselimut deru angin laut
Berbantal kepingan karat
Dininabobokkan suara turbine kompressor
Dipompa semangat shipping pump
Darahku dialiri hidrolik oil 5000 pound
Nadiku dialiri arus 20 miliampere
Syarafku dialiri tegangan 24 volt dc
Semangatku dibangkitkan generator 4160 vac
Gerahku dingin oleh fin fan cooler dan heat exchanger
Wajahku dilukis indah siluet anjungan
Rasa rinduku diobati sinyal canggih triji
Mengantarkan wajah2 manis pengobat rindu

SELAT MAKAZZAR
Sebelum mentari beranjak tinggi
Kami diguyur air laut yg diolah jadi air tawar
Sebelum mentari tersenyum indah
Kami sudah memakai life jacket
Menembus ombak bersama boat keliling anjungan
Lalu bergumul dengan minyak
Bergumul dengan gas alam
Bercengkrama dengan dengan angin laut
Ditemani kepingan karat dan debur ombak

Kadang life jacket adalah bantal di kala lelah
Kadang kardus bekas adalah kasur tatkala lemas
Kadang toolbox adalah kursi raja dikala jeda
Bungkusan roti adalah sahabat dikala rehat

Siluet senja adalah sahabat di kala pulang
Matahari tenggelam menjadi tanda tutupnya hari
Deru kapal dan sejuknya air kamar mandi
Menjadi sobat sebelum kami lelap bersama mimpi

No comments: