Friday, August 29, 2008

Hari Kemenangan

Hari ini tanggal 26 Agustus, hari ini juga aku berangkat ke Balikpapan. Seperti biasa via Makassar.

Beberapa hari yang lalu, Hari Raya Galungan telat berlalu. Hari itu diperingati sebagian besar penduduk Hindu Bali sebagai sebuah hari kemenangan, kemenangan antara Dharma melawan Adharma. Sujud syukur kehadirat Hyang Widhi Wasa dilakukan hari itu dengan mengunjungi pura di desa masing-masing. Disana mereka berterima kasih karena enam bulan berlalu telah dapat dilewati dengan mulus dan selamat serta memohon jalan terang untuk ke depan.

Apa sih sebenarnya yang dimaksud Dharma dalam hal ini? Apa pula yang termasuk tindakan Adharma yang selalu jadi pecundangnya. Apa yang dimenangkan dalam hari ini? Apakah tindakan kita selama 6 bulan di belakang sudah benar-benar Dharma, apakah tindakan kita sudah benar-benar suci sesuai dengan 'manual book' yang dinamakan kita suci Weda. Apakah kita sudah layak memperingati hari Galungan ini sebagai hari kemenangan Dharma.

Apakah sebenarnya kegiatan yang seharusnya kita lakukan dalam memperingati datangnya hari kemenangan ini? Apakah dengan hura-hura, foya-foya, atau makan-makan berlebihan? Ataukah dengan meceki atau dengan menggelar judi sembunyi-sembunyi di rumah-rumah. Atau malah dengan mengadakan bazzar yang dilakukan muda-mudi di masing-masing banjar yang ujung-ujungnya menciptakan kerusuhan-kerusuhan kecil akibat beberapa orang pemuda berkelahi sehabis menenggak miras yang (sejak dulu hingga sekarang) dijual bebas di kampung secara tak terorganisir.

Apakah kegiatan itu bisa disebut dengan Dharma. Atau apakah saya yang terlalu kolot menyikapi perkembangan jaman yang kian hari kian pesat itu. Atau bisa juga saya yang terlalu sok suci sehingga menganggap kegiatan sosial (kegiatan yang bersosialisasi) itu kegiatan Adharma.

Saya belum pernah melihat kegiatan selama Galungan diisi dengan kegiatan-kegiatan sosial. Atau yang lebih bersifat horisontal antara manusia dan manusia. Kebanyakan kegiatan hanya terfokus pada upacara yang bersifat vertikal antara manusia dengan yang Maha Kuasa. Tidak pernah saya lihat kegiatan amal, misalnya mengunjungi panti asuhan atau sekedar menyumbang anak-anak cacat/kurang mampu. Tidak pernah terlihat kegiatan dharma wacana ataupun sekedar diskusi membahas ajaran-ajaran agama kita, mana yang harus ditingkatkan atau mana yang harus diperdalam. Bukankah sebenarnya kegiatan terakhir yang sangat dinanti-nantikan masyarakat di kampung yang haus akan informasi seputar agama mereka sendiri. Mereka sangat butuh bimbingan yang lebih advance tentang tata cara beragama sesuai Weda. Tak hanya sekedar membuat aneka sarana upakara yang ketika ditanya apa artinya jawabannya selalu "nak mula keto".

No comments: