Friday, August 29, 2008

Yamaha Photo Contest

Minggu yang lalu hari Sabtu-Minggu tanggal 23 dan 24 Agustus 2008 diadakan lomba foto Yamaha dengan tema "Enjoy Your Life with Yamaha" yangmenjelajahi 8 kota di Indonesia dan yang terakhir ini diadakan di Bali tepatnya di Pantai Kuta di depan Hard Rock Cafe. Kegiatan ini sangat menarik perhatian disamping para fotografer dari berbagai daerah di Indonesia, juga para wisatawan yang memang berlibur ke Bali khususnya Kuta.

Kriteria penilaian adalah seputar bagaimana memadukan keindahan, kecantikan sang model yang bersanding dengan icon-icon Yamaha, mulai dari Motor, Logo dan bisa juga icon Yamaha lainnya. Tentunya tidak terlepas dari teknik-teknik fotografi yang tentunya sudah dimengerti oleh sebagian besar fotografer yang mengikuti lomba.

Lomba dimulai jam 15.00 yang diawali dengan briefing oleh panitia dan juri. Dua MC beken meramaikan siang yang panas dan berangin itu. Kelompok foto dibagi 3 group dan masing-masing peserta dalam satu group diharuskan memakai udeng (ikat kepala khas Bali) yang sama warna. Ada tiga warna merah, putih dan biru yang mewakili 3 kelompok. Peserta sungguh membludak ketika acara dimulai peserta sudah mendaftar sebanyak 140-an orang. Sehingga masing-masing kelompok terdiri dari hampir 50 orang di bagi dalam 3 tempat yang berbeda, dengan model, motor, tema pakaian dan tata panggung yang berbeda. Setiap 1/2 jam dirolling ke area lainnya. Sehingga lomba akan berlangsung minimal 1,5 jam.

Aku tergabung dalam group warna biru dan dimulai dari lokasi di depan kanan Hard Rock Cafe. Model mengenakan busana warna putih dengan motor matic berwarna biru. Background dihias dengan sebuah spanduk bergambar kota kemerah-merahan dan disamping model dihiasi pernak-pernik gantungan baju seperti di sebuah kamar ganti atau mall.

Lokasi kedua bertempat di sebelahnya, yaitu sebelah depan kiri Hard Rock Cafe. Disana sudah menunggu Asti dengan motor matic warna biru juga. Ia mengenakan busana khas Bali dengan kebaya merah dan kamben seksi sepanjang lutut yang jika ia melebarkan sedikit kakinya akan terlihat belahan yang dihiasi dengan (maaf) paha mulus yang bikin darah berdegup kuenceng sekencang angin Kuta sore itu. Oh my dog, aku hanya bisa drooling dalam hati.

Lokasi ketiga berada di pinggir pantai di atas pasir. Dengan style dan tema surfing plus motor macho warna gelap dihiasi papan surfing, sang Model berdiri dengan garang diterpa panas terik dan angin laut yang menimbulkan ombak besar. Di belakang sana para surfer sedang menunjukkan aksinya. Pada lokasi ini paling sulit dan paling menantang. Pertama karena modelnya jutek dan angle yang bagus hanya di satu titik, sehingga para peserta jadi ngumpul dititik itu, kalau lambat, tak kebagian pose dan angle bagus.

Akhirnya lomba diakhiri dengan rapi. Semua fotografer secara tertib dan langsung duduk memilih 3 foto yang akan diserahkan bersama memori langsung pada sore itu juga tanpa boleh edit software komputer sama sekali.

Ada sedikit rasa kurang puas mengikuti lomba foto kali ini (walaupun saya memang jarang bisa mengikuti lomba foto). Saya yang tidak update lokasi lomba malah datang ke Galeria jam 10 pagi karena informasi sebelumnya lomba diadakan di Galeria Simpang Siur. Ternyata lomba dipindah ke pantai Kuta tanpa saya sadari. Dan ternyata pula lomba diundur 3 jam yang seharusnya dimulai jam 12 siang. Banyak peserta yang datang sebelum jam 12 kecewa karena tak ada pemberitahuan. Begitu sudah mau mendaftar ternyata diminta menyerahkan foto kopi KTP. Karena di dalam form pendaftaran disebutkan bahwa jika nomor KTP yang digunakan untuk mendaftar online di FN sudah expired, maka perlu kopi KTP yang baru. Sedangkan saya cek nomor KTP masih sama, jadi saya tak menyiapkan kopian. Akhirnya dengan susah payah saya mencari tempat fotokopi, atas saran mbak panitia, katanya ada di sekitar Gang Poppies, jalan kaki deket aja. Tapi begitu saya telusuri, lumayan jauh dan mempegalkan kaki ditambah udara pantai yang panas membuat kerongkongan kering, mood foto hilang dan hati menjadi tak tenang (cuiiihhh). Tapi untungnya lalu lalang bule-bule dengan bikini membuat suasana panas siang itu berubah menjadi HOT, sehingga saya berjalan kaki dengan senang dan hati riang sambil bernyanyi dalam hati (kalau nyanyi keras ntar dikira ngamen).

Karena waktunya masih lama yaitu jam 3, saya putuskan untuk jalan-jalan aja ke Centro yang cukup deket juga jalan kaki dari Kuta. Lumayan juga mengembalikan mood karena banyak yang bening-bening lewat disana.

Di sebagian besar lomba foto, yang sering menjadi sorotan pasti teknik pengumpulan foto. Banyak orang yang akan protes ketika sebuah lomba foto diumumkan, dimana foto dikumpulkan ke panitia dan semua foto menjadi milik panitia. Yang kayak gini biasanya menuai kritik keras dari fotografer 'senior' yang udah sering ikutan lomba-lomba foto. Namun banyak juga yang memanfaatkan lomba-lombafoto bareng itu untuk sekedar mengumpulkan portofolio. Si fotografer datang dan ikutan foto-foto namun tak mengumpulkan foto untuk dinilai, mungkin takut dibajak karena fotonya bagus.

Yamaha lain, dengan juri kelas nasional dan sudah terkenal tak mungkin mengelabuhi peserta dengan menempatkan semua foto yang masuk sebagai "milik panitia dan berhak digunakan sebebas-bebasnya". Seorang teman, Dogler, yang ikut lomba berkomentar, "Ah bisa saja foto kita dari memori yang dikumpulkan dicopy semuanya, lalu diubah-ubah sedikit warnanya, dicrop lalu dipakai untuk promosi dan sebagainya. Bisa aja kan, ya namanya pengen dapat foto dengan biaya murah". Wah Dogler ini memang negatif thingking. Lah gimana mau dapat harga murah, coba hitung-hitung, berapa biaya yang dihabiskan Yamaha untuk membiayai lomba foto di 8 kota, membayar juri, memberi fee buat panitia di tiap kota plus team gradag-grudugnya. Trus total hadiahnya aja lebih dari 300juta rupiah, bahkan masuk rekor MURI sebagai lomba dengan hadiah terbesar. Si Dogler hanya bisa manggut-manggut saja.


***


Keesokan malamnya, juara lomba baru diumumkan. Masing-masing juara untuk tiap kategori pun diumumkan dan terakhir adalah pengumuman juara Umum dari semua kategori yang mendapat Yamaha Mio. Seorang teman yang saya ajak kesana yang awam fotografi berkomentar, "Wah kok bisa ya juara umum, lah fotonya biasa aja tuh, aku juga bisa bikin kayak gitu." Omelan teman awam itu didengar oleh teman saya disebelah yang udah begitu piawai dalam dunia fotografi, katanya, "Ya itulah fotografi, sudut pandang juri yang jago-jago sudah lain dengan orang awam. Jadi, keindahan itu tidak bisa diamati oleh mata awam. Hanya yang udah pengalaman aja yang bisa." Si teman awam nyahut, "Ah keindahan apa? Apa kata dunia?" ucapnya sambil berseloroh yang diakhiri dengan tepuk tangan penonton, tentunya tepuk tangan buat pemenang utama bukan untuk teman saya yang awam itu.

No comments: