Thursday, March 29, 2012

Perahu Kertas (buku #4)

Sejak novel ini mau difilmkan, aku jadi tertarik membaca lebih serius. Karena dulu sempat membaca sekilas, loncat-loncat. Aku mulai dari beberapa hari menjelang naik. Aku ketika di rumah, aku baca di sela-sela waktu istirahat. Lalu lanjut baca di Bandara di Makazzar. Lembar demi lembar semakin membuat ketagihan, penasaran, perasaanku ikut terombang ambing, seolah mengikuti emosi pemeran utamanya, Keenan dan Kugy. Aku ikut merasakan Keenan jatuh cinta, merasakan ketika Kugy saat patah hati.

Setiba di Balikpapan saya lanjut baca hingga jam 12 malem. Selesai 1/2 buku. Dalam perjalanan menuju Selat Makassar saya lanjut baca di boat menuju Attaka. Karena rasa penasaran yg tak terhingga pada malam hari saya kembali baca hingga jam 12. Begitu juga keesokan harinya, saya bawa ke remote dan baca pada jam istirahat siang. Sore sebelum pulang saya selesaikan secara adat.

Pada saat membaca saya membayangkan siapa yg cocok memerankan tokoh-tokohnya. Menurut saya Nicolas Saputra dan Nirina Zubir cocok jadi Keenan dan Kugi. Saya bukan pembaca novel maniak, tapi menurut saya novel ini hebat. Skenarionya direncanakan dengan matang. Karakter tokohnya tersampaikan dengan sempurna, pokoknya novel yg cerdas. Titik. :)

Cerita dimulai dari kepulangan Keenan dari Belanda selepas SMA dan lanjut kuliah di Bandung. Di sinilah ia bertemu Kugy yg akan jadi pujaan hati, namun karena berbagai hambatan, akhirnya cinta mereka berdua belum bisa tersampaikan selama 5 tahun.

Masa vakum cinta mereka diisi dengan berbagai pengalaman. Kugy yg melampiaskan dengan menekuni Sakola Alit, mempercepat masa kuliah dan akhirnya bekerja. Di dunia kerja dia malah sempat pacaran dengan bosnya. Sedangkan Keenan menghabiskan masa putus kuliahnya melukis di Bali, lalu sempat jatuh hati dengan Luhde.

Aliran cerita terasa njelimet tapi bisa dicerna dengan enteng. Banyak kejutan di bab-bab akhir. Akhirnya mereka sadar untuk kembali dan menunjukkan kejujuran hati mereka yg tak bisa dibohongi. "Diwarnai pergelutan idealisme, persahabatan, tawa, tangis, dan cinta, “Perahu Kertas” tak lain adalah kisah perjalanan hati yang kembali pulang menemukan rumahnya," kata penulisnya dalam blognya.

Menurut berita, hingga saat ini Perahu Kertas the movie sudah menyelesaikan syuting di Jakarta, sekarang lanjut di Bali. Sutradara Hanung Bramantyo dan istrinya bertindak sebagai casting tidak mau menyebutkan siapa pemeran utama film garapannya. Katanya Agustus akan selesai dan semoga aku bisa menontonnya.

No comments: