Thursday, July 06, 2017

Orang Bali Butuh Pencerahan

Dalam ajaran hindu bali saya belum pernah mendapat pelajaran bagaimana cara bersyukur, ikhlas dan menerima nasib. Saya hanya dicekoki bagaimana cara melakukan upacara ini dan itu tanpa tau cara memperlakukan hidup ataupun mengelola masalah. Belum pernah pula diajari bagaimana meditasi atau Yoga dalam Hindu. Lebih banyak kita belajar sendiri, tanpa ada bimbingan sedikitpun dari pemimpin agama atau lembaga keagamaan. Pemimpin agama masih sibuk mengurus duniawi, pemangku sibuk dengan bagaimana cara mendapat sesari yg banyak atau bagaimana mendapat keuntungan selangit dari bisnis menjual banten. 

Umat Hindu perlu rasanya melakukan kaderisasi pembicara yang bisa mencerahkan. Tidak hanya berkutat perihal upacara. Ajaran-ajaran filsafat dan etika dalam hindu pun layak digali dan dipupuk kembangkan, ditularkan kepada umat. Terutama generasi muda yang kini hidup diantara gempuran globalisasi dan plurarisme. 

Ada Gde Prama. Tapi beliau ternyata beragama Buddha dan sama sekali berbeda ajarannya dengan umat Hindu Bali. Dakwah2 menurut Hindu Bali rasanya lebih banyak dilakukan oleh insan seni mulai dari pertunjukan Wayang, Arja hingga  Bondres kontemporer yang akhir2 ini bermunculan di BaliTV hingga merambah Youtube. 

Nah jika metode ini yang dirasa paling manjur, kenapa tidak insan2 seperti ini yang digalakkan, dilatih bahkan bila perlu diberikan fasilitas lebih untuk bisa memberikan pelajaran hidup, pesan moral hingga dakwah agama kepada umatnya.

Mimpi saya, mungkin hanya sebatas mimpi. Setiap pemangku hendaknya bisa menjadi pembicara atau setidaknya memberikan dharma wacana ketika selesai muput karya di sebuah rumah atau ketika sehabis sembahyang di pura. Jika pemangku dirasa tidak berkompeten memberikan dharma wacana, harus ditunjuk satu orang dari umat, bisa para tetua atau siapapun yang bersedia dan mampu, untuk berbicara satu tema, mencerahkan umat.


No comments: